Diberdayakan oleh Blogger.

The Latest

Potensi Industri Yang Sudah Dan Siap Berkembang Di Indonesia

Sebagai salah satu negara ASEAN yang terus berkembang, pemerintah Indonesia terus mengupayakan pencapaian target di berbagai sektor pembangunan, salah satunya adalah sektor industri. Makanya investing Indonesia dijadikan salah satu alasan untuk mempercepat pencapaian target dengan menggaet semakin banyak investor berkualitas.

Ini Potensi Industri Dan Target Pencapaiannya

Berdasarkan data BPS dan Pemerintah, target pertumbuhan industri di Indonesia meningkat secara stabil setiap tahun. Terlihat dari target tahun 2018 mencapai 7,4 persen dan tercapai hampir 90 persen, kemudian target tahun 2018 menjadi 8,1 persen dan di tahun 2019 menjadi 8,6 persen. Salah satu bentuk pencapaiannya adalah menggali potensi industri seperti yang sedang dilakukan CFLD Karawang.

Industri Makanan

Perkembangan Industri ini tak ada matinya karena kebutuhan penduduk akan makanan selalu tinggi. Baik itu makanan tradisional, cepat saji hingga bahan baku berbagai jenis makanan. Saat ini saja sejumlah industri sudah mencapai pasar internasional. Makanya potensinya bisa terus dikembangkan melalui program investing Indonesia yang terus digalakkan pemerintah.

Industri Farmasi Dan Obat-obatan

Karena kekayaan alam yang berlimpah dan banyak yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai macam obat, makanya perkembangan industri farmasi dan obat-obatan juga masuk target pengembangan.

Industri Tekstil

Perkembangan industri tekstil juga jadi alasan banyak investor mencoba ambil bagian dalam berinvestasi, seperti terlihat dalam landscape target industri yang dikembangkan oleh CFLD Karawang yang menempatkan tekstil sebagai salah satu urutan teratas, apalagi di kawasan Karawang banyak industri rumahan yang siap diupgrade menjadi industri berskala nasional.

Industri Informasi dan Komunikasi

Perkembangan dunia digital juga jadi alasan mengapa industri informasi dan komunikasi di Indonesia berpotensi dikembangkan. Bahkan saat ini beberapa perusahaan komunikasi dunia sudah ikut terlibat dalam investing Indonesia yang berimbas pada semakin majunya komunikasi informasi berbasis digital.

Masih banyak potensi industri selain empat jenis di atas yang bisa dikembangkan di Indonesia, mengingat wilayah yang begitu luas dan daerah-daerah sentra industri yang belum berkembang maksimal. Tinggal menunggu seperti apa koordinasi-koordinasi pemerintah dan pihak investor seperti yang sudah terlihat pada kerjasama CFLD Karawang dengan Pemerintah Daerah Jawa Barat.

Para Orang Tua, Inilah Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Memberikan makan anak-anak seringkali jadi suatu hal yang amat sulit dilakukan. Selain perlu memperhatikan nutrisi apa saja yang dibutuhkan guna mendukung proses tumbuh kembangnya, orang tua juga perlu cerdik dalam membujuk anak yang susah makan. Tak jarang orang tua gagal dan menyerah ketika mengajak anaknya untuk bisa makan. Mau tahu bagaimana cara menghadapi anak yang sulit makan? Sebelum mengetahui beberapa caranya, klik tautan berikut ini https://www.guesehat.com/cara-mengobati-luka-pada-pasien-diabetes terlebih dahulu.

Hindari jajan sembarangan

Jika rumah Anda seringkali didatangi oleh penjual keliling yang menjajakan jajanan tertentu, maka Anda perlu waspada. Sebab, anak-anak seringkali merengek untuk bisa menikmati makanan yang dijajakan sembarangan. Hal ini tentu bukanlah hal yang baik dan perlu Anda waspadai agar anak Anda tidak terbiasa jajan sembarangan.

Jajan sembarangan bisa memberikan dampak yang buruk bagi sang anak. Selain kualitas makanan yang tidak terjaga, penyakit juga bisa hadir dari konsumsi jajanan yang sembarangan. Alihkan fokus sang anak dari jajanan sembarangan dengan membuat sendiri jajanan atau camilan yang menyehatkan untuk anak Anda. Minat anak Anda untuk makan pun akan meningkat karena Anda memberikan variasi pada makanan yang dikonsumsinya.

Buat momen makan jadi momen yang menyenangkan

Para ibu tentu seringkali menghadapi momen dimana sang anak sulit untuk diajak makan. Saat momen tersebut tiba, tak jarang ibu yang memaksa sang anak untuk makan dan bahkan menghabiskan makanan yang disajikan kepadanya. Hal ini tentu baik dengan tujuan agar nutrisi yang diterima sang anak tetap terjaga. Tapi, disisi lain sang anak mungkin saja merasa terpaksa dan menganggap momen makan jadi suatu hal yang mengerikan karena paksaan yang diberikan.

Untuk mencegah anak Anda agar tidak merasa terpaksa saat mengonsumsi makanan, ajak sang anak untuk merasakan momen makan yang menyenangkan. Anda bisa mengajak anak Anda untuk makan sambil berjalan-jalan agar tidak merasa bosan dan terhibur dengan lingkungan di sekelilingnya. Secara perlahan, sang anak akan menyukai momen tersebut dengan sendirinya hingga siap untuk melahap makanan sendiri.

Sumber: https://www.goapotik.com/promo/obat-diare-anak-dan-dewasa-dan-obat-sembelit-dan-susah-buang-air-besar

 Berapa Banyak Orang Indonesia yang Mengonsumsi Durian?

ZonaKamu - Durian adalah salah satu buah yang populer, sekaligus mahal. Sebagian orang sangat menggilai durian, sementara sebagian lain tidak suka. Yang jelas, bagi yang menyukai, durian terkenal sangat enak, dan karena enak itu pula harganya sangat mahal.

Setidaknya, harga durian rata-rata lebih mahal dibanding buah-buah lain semisal salak atau nanas.

Tanaman durian tumbuh di negara-negara Asia Tenggara seperti Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Karena termasuk pohon yang tumbuh di Indonesia, maka durian pun termasuk buah yang bisa diperoleh dengan mudah di Indonesia. Berapa banyakkah konsumsi durian yang dilakukan orang Indonesia?

Perkembangan produktivitas durian di Indonesia selama periode 1990-2013 fluktuatif tapi cenderung meningkat. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Setjen Kementerian Pertanian menyebutkan, pada 1990 produktivitas durian Indonesia hanya sebesar 5,55 ton/ha, tapi pada 2013 meningkat menjadi 12,39 ton/ha.

Daerah yang menjadi sentra penghasil durian menyebar di Jawa dan luar Jawa. Berdasarkan rata-rata produksi 2009-2013, Jawa Timur memberikan kontribusi sebesar 14,95%, Sumatera Utara 11,29%, Jawa Barat 10,27%, Jawa Tengah 7,62%, Banten 6,19%, dan Sumatera Barat 5,15%.

Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional, rata-rata konsumsi durian orang Indonesia sepanjang tahun 2013 sebesar 1,41 kg/kapita. Dengan jumlah penduduk Indonesia di tahun itu sebanyak 248,82 juta jiwa, maka konsumsi domestik durian Indonesia mencapai 350,33 ribu ton.

Terlepas dari angka produksi dan konsumsi durian yang fluktuatif, sejumlah masyarakat mempercayai durian bisa meningkatkan kebugaran mental, dan bahkan menambah vitalitas kaum pria.

Kisah Laksamana Cheng Ho dan Mitos Durian yang Terkenal

ZonaKamu - Laksamana Cheng Ho adalah tokoh yang dikenal pernah melayari Nusantara. Di antara banyak kisah tentang Cheng Ho yang mungkin sudah terkenal, ada kisah unik terkait durian yang mungkin masih jarang terdengar.

Di dalam buku “Cheng Ho Muslim Tionghoa: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara (2000)” yang ditulis Profesor Kong Yuanzhi, diceritakan bahwa Laksamana Cheng Ho sempat singgah ke sebuah tempat bernama Bukit Durian, saat melabuhkan kapal di perairan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.

Di tempat itu, menurut buku tersebut, ada legenda yang menyebutkan Cheng Ho punya kebiasaan memakan buah durian dan meminum air dari kulit durian. Cheng Ho percaya, air yang diminum dari kulit durian mampu mengobati panas dalam.

“Setelah selesai makan buah durian, kulit buah durian diisi air, kemudian air itu diminum. Itu berfungsi untuk menghilangkan panas dalam. Inilah legenda dari Pulau Bangka,” tulis Profesor Kong Yuanzhi, yang pernah menjadi peneliti tamu di Universitas Indonesia.

Profesor Kong Yuanzhi mengaku menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga tahun demi meneliti keberadaan Cheng Ho di Bangka. Ia menulis Cheng Ho juga mengajarkan manfaat buah durian kepada orang-orang Tionghoa di Nusantara yang saat itu tidak menyukai aroma durian.

“Ketika Cheng Ho berkunjung ke daerah-daerah di Nusantara, kebetulan wabah sedang mengganas. Orang yang terkena wabah minta pertolongan Cheng Ho. Kemudian Cheng Ho mengajari mereka untuk menjadikan buah durian sebagai obat. Hasilnya sungguh mujarab,” kata Yuanzhi.

Berdasarkan kisah atau legenda tersebut, tidak menutup kemungkinan kalau kemudian durian pun dipercaya memiliki banyak khasiat, termasuk mitos, meski ada pula orang-orang yang sama sekali tidak doyan durian.

Protokol Kyoto, Upaya Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

ZonaKamu - Apa yang disebut Protokol Kyoto? Kita mungkin sering mendengar atau menemukan istilah tersebut saat menyimak berita mengenai gas rumah kaca, atau ketika membaca artikel/berita mengenai pemanasan global. Kapan pun urusan emisi gas rumah kaca atau isu-isu lingkungan disebut, istilah Protokol Kyoto juga sering disebut. Jadi, apa yang disebut Protokol Kyoto?

Asal usul Protokol Kyoto

Segera setelah Konvensi Kerangka Kerjasama Persatuan Bangsa-bangsa mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC-United Nations Framework Convention on Climate Change) disetujui pada KTT Bumi (Earth Summit) tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brazil, negara-negara peserta konvensi mulai melakukan negosiasi-negosiasi untuk membentuk suatu aturan yang lebih detil dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (selanjutnya disebut GRK).

Pada saat pertemuan otoritas tertinggi tahunan dalam UNFCCC ke-3 (Conference of Parties 3 - COP) diadakan di Kyoto, Jepang, sebuah perangkat peraturan yang bernama Protokol Kyoto diadopsi sebagai pendekatan untuk mengurangi emisi GRK. Kepentingan protokol tersebut adalah mengatur pengurangan emisi GRK dari semua negara-negara yang meratifikasi.

Protokol Kyoto ditetapkan tanggal 12 Desember 1997, kurang lebih 3 tahun setelah Konvensi Perubahan Iklim mulai menegosiasikan bagaimana negara-negara peratifikasi konvensi harus mulai menurunkan emisi GRK mereka.

Sepanjang COP 1 dan COP 2 hampir tidak ada kesepakatan yang berarti dalam upaya penurunan emisi GRK. COP 3 dapat dipastikan adalah ajang perjuangan negosiasi antara negara-negara ANNEX I (negara-negara berkembang) yang lebih dulu mengemisikan GRK sejak revolusi industri dengan negara-negara berkembang yang rentan terhadap perubahan iklim.

Negara-negara maju memiliki kepentingan bahwa pembangunan di negara mereka tidak dapat lepas dari konsumsi energi dari sektor kelistrikan, transportasi, dan industri.

Untuk mengakomodasikan kepentingan antara kedua pihak tersebut Protokol Kyoto adalah satu-satunya kesepakatan internasional untuk berkomitmen dalam mengurangi emisi GRK yang mengatur soal pengurangan emisi tersebut dengan lebih tegas dan terikat secara hukum (legally binding).

Dalam Protokol Kyoto disepakati bahwa seluruh negara ANNEX I wajib menurunkan emisi GRK mereka rata-rata sebesar 5.2% dari tingkat emisi tersebut di tahun 1990. Tahun 1990 ditetapkan dalam Protokol Kyoto sebagai acuan dasar (baseline) untuk menghitung tingkat emisi GRK.

Bagi negara NON ANNEX I, Protokol Kyoto tidak mewajibkan penurunan emisi GRK, tetapi mekanisme partisipasi untuk penurunan emisi tersebut terdapat di dalamnya, prinsip tersebut dikenal dengan istilah "tanggung jawab bersama dengan porsi yang berbeda" (common but differentiated responsbility).

Protokol Kyoto mengatur semua ketentuan tersebut selama periode komitmen pertama, yaitu dari tahun 2008 sampai dengan 2012.

Beberapa mekanisme dalam Protokol Kyoto yang mengatur masalah pengurangan emisi GRK, seperti dijelaskan di bawah ini:

1. Joint Implementation (JI), mekanisme yang memungkinkan negara-negara maju untuk membangun proyek bersama yang dapat menghasilkan kredit penurunan atau penyerapan emisi GRK.

2. Emission Trading (ET), mekanisme yang memungkinkan sebuah negara maju untuk menjual kredit penurunan emisi GRK kepada negara maju lainnya. ET dapat dimungkinkan ketika negara maju yang menjual kredit penurunan emisi GRK memiliki kredit penurunan emisi GRK melebihi target negaranya.

3. Clean Development Mechanism (CDM), mekanisme yang memungkinkan negara non-ANNEX I (negara-negara berkembang) untuk berperan aktif membantu penurunan emisi GRK melalui proyek yang diimplementasikan oleh sebuah negara maju.

Nantinya kredit penurunan emisi GRK yang dihasilkan dari proyek tersebut dapat dimiliki oleh negara maju tersebut. CDM juga bertujuan agar negara berkembang dapat mendukung pembangunan berkelanjutan, selain itu CDM adalah satu-satunya mekanisme di mana negara berkembang dapat berpartisipasi dalam Protokol Kyoto.

Bagi negara-negara ANNEX I mekanisme-mekanisme di atas adalah perwujudan dari prinsip mekanisme fleksibel (flexibility mechanism). Mekanisme fleksibel memungkinkan negara-negara ANNEX I mencapai target penurunan emisi mereka dengan 3 mekanisme tersebut di atas.

Ada dua syarat utama agar Protokol Kyoto berkekuatan hukum, yang pertama adalah sekurang-kurangnya protokol harus diratifikasi oleh 55 negara peratifikasi Konvensi Perubahan Iklim, dan yang kedua adalah jumlah emisi total dari negara-negara ANNEX I peratifikasi protokol minimal 55% dari total emisi mereka di tahun 1990.

Pada tanggal 23 Mei 2002, Islandia menandatangani protokol tersebut yang berarti syarat pertama telah dipenuhi. Kemudian pada tanggal 18 November 2004 Rusia akhirnya meratifikasi Protokol Kyoto dan menandai jumlah emisi total dari negara ANNEX I sebesar 61.79%, ini berarti semua syarat telah dipenuhi dan Protokol Kyoto akhirnya berkekuatan hukum 90 hari setelah ratifikasi Rusia, yaitu pada tanggal 16 Februari 2005.

Sebagai catatan, setidaknya ada tiga negara yang menolak untuk menandatangani Protokol Kyoto, yaitu Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada. Keputusan negara-negara tersebut untuk tidak menandatangani Protokol Kyoto tentu saja mengundang kecaman negara-negara lain, yang menuduh mereka terlalu egois dengan industri di negaranya sendiri.

 Kabar Gembira, Uang Muka Kredit Rumah Kini Makin Murah

ZonaKamu - Banyak orang yang ingin memiliki rumah sendiri, apalagi jika telah menikah atau berencana menikah. Bagaimana pun, tinggal di rumah milik sendiri tentu lebih menyenangkan dan lebih tenteram, daripada tinggal di rumah konrakan atau masih ikut mertua/orang tua.

Yang menjadi masalah, harga rumah saat ini tergolong mahal, apalagi bagi orang-orang yang penghasilannya tidak terlampau besar.

Memang, saat ini pembelian rumah bisa dilakukan dengan cara kredit, yang biasa disebut KPR atau Kredit Pemilikan Rumah. Meski begitu, bagi sebagian orang, KPR masih terasa berat. Selain harus memiliki gaji atau penghasilan bulanan yang mencukupi, uang muka KPR juga tergolong besar.

Sebelumnya, uang muka KPR ditetapkan sebesar 20 persen. Artinya, kalau kita mau membeli rumah dengan cara KPR, dan harga rumah itu sebesar Rp.300 juta, maka artinya kita harus menyediakan uang muka sejumlah Rp.60 juta. Jumlah sebesar itu tentu cukup memberatkan bagi sebagian orang.

Nah, sekarang ada kabar gembira bagi Anda yang mungkin ingin membeli rumah dengan cara KPR, namun merasa berat untuk membayar uang muka. Bank Indonesia (BI) kini menurunkan rasio Loan to Value (LTV) atau uang muka rumah.

Dalam aturan yang tertuang dalam PBI No. 18/16/PBI/2016 tentang Rasio Loan to Value untuk kredit properti, uang muka untuk rumah pertama turun dari semula 20%  menjadi hanya 15%. Sementara uang muka KPR rumah kedua jadi 20% dan uang muka KPR rumah ketiga menjadi 25%. Aturan ini resmi berlaku sejak 29 Agustus 2016.

Jadi, kalau rumah yang akan kita beli seharga Rp300 juta, kita hanya perlu menyetorkan Rp.45 juta sebagai uang muka, dan bukan Rp.60 juta seperti sebelumnya. Dengan adanya penurunan tersebut, kita tidak lagi harus menyediakan uang muka yang jumlahnya relatif besar.

Jika gaji kita per bulan Rp.5 juta, dan kita juga punya penghasilan lain di luar gaji, minimal Rp.1 juta per bulan, kita masih memenuhi rasio kredit sehat, sehingga dinilai mampu untuk membeli rumah. Rasio kredit sehat adalah jumlah cicilan tidak melebihi 30% dari penghasilan.

Jadi, kalau dalam sebulan kita punya Rp.6 juta, sebanyak Rp.1.970.669 (kurang lebih 30 persennya) bisa digunakan untuk mencicil rumah. Angka Rp.1.970.669 didapatkan melalui perhitungan berikut:

Harga rumah: Rp.300.000.000
Pendapatan: Rp.5.000.000 (ditambah penghasilan tambahan Rp.1.000.000)
Tenor/jangka waktu: 15 tahun
Bunga: 7,70%
Suku bunga tetap: 1 tahun

Memahami KPR Refinance Dalam Kredit Pemilikan Rumah

ZonaKamu - Dalam urusan kredit pemilikan rumah atau KPR, kita kadang mendengar istilah “KPR Refinance”. Apa sebenarnya yang disebut KPR Refinance atau Refinancing KPR?

KPR Refinance atau Refinancing KPR adalah pengajuan kembali kredit kepada pihak kreditor, dengan jaminan rumah yang sedang kita cicil. Misal, kita ingin membuka usaha, dan untuk itu kita perlu dana untuk modal. Kita bisa mengajukan pinjaman ke bank, dengan jaminan rumah yang sedang kita cicil melalui KPR.

Jika sepuluh tahun yang lalu kita membeli rumah secara kredit atau melalui KPR, dan nilai rumah yang kita beli seharga Rp.300 juta, misalnya, dan cicilan rumah itu belum selesai, kita bisa menggunakan rumah tersebut sebagai jaminan untuk mengajukan kredit kembali kepada pihak bank.

Bagaimana pun, Rp.300 juta pada sepuluh tahun yang lalu tentu sudah memiliki nilai berbeda pada saat ini. Karena nilai rumah yang semakin mahal, kita bisa mengajukan refinancing KPR pada bank.

KPR Refinance bisa juga disebut sebagai sistem penilaian ulang rumah yang telah kita beli dengan menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Biasanya, penilaian ulang itu dilakukan oleh bank tempat kita mengajukan KPR, atau bank lain.

Sebagai misal, jika sisa dana yang perlu kita bayarkan untuk melunasi KPR adalah Rp.200 juta, sedangkan nilai baru rumah kita saat ini adalah Rp.350 juta, maka dana tunai yang bisa kita dapatkan adalah Rp.150 juta. Nilai itu tentu cukup besar bila kita berniat membuka usaha sampingan.

Itulah yang disebut KPR Refinance atau refinancing KPR, yaitu pengajuan kembali kredit kepada pihak kreditor (bank), dengan jaminan rumah yang sedang kita cicil pembayarannya.