Diberdayakan oleh Blogger.

Sisi Gelap di Balik Industri Film Porno Jepang

By | 11.55
Sisi Gelap di Balik Industri Film Porno Jepang

ZonaKamu - Ketika industri pornografi dilegalkan, maka perseorangan atau perusahaan dapat memproduksi film atau apa pun yang terkait pornografi. Begitu pula di Jepang. Pemerintah Jepang melegalkan pornografi, sehingga negara itu sekarang terkenal sebagai salah satu negara yang paling banyak menghasilkan film porno di dunia.

Karena ada legalitas, maka ada pula peraturan. Pemerintah Jepang telah memberlakukan peraturan yang ketat dalam hal industri pornografi. Namun, seperti pada kebanyakan aturan lain, aturan dalam industri film dewasa itu pun kerap dilanggar.

Salah satu pelanggaran aturan yang menjadi masalah cukup serius di Jepang adalah manipulasi terhadap calon artis atau calon pemain.

Di Jepang, banyak pencari bakat yang menyasar wanita-wanita muda, untuk dipekerjakan di bidang modeling, penyanyi, atau semacamnya. Sebagian pencari bakat itu memang bekerja secara profesional. Dalam arti mereka memang mencari sosok baru yang layak untuk karir di dunia modeling atau penyanyi atau film, dan sebagainya. Namun, ada kalanya para pencari bakat tersebut melakukan praktik tercela.

Saki Kozai, seorang wanita di Jepang, mengungkapkan praktik tercela yang dilakukan oleh pencari bakat di negeri Sakura itu, dan dia membeberkan bagaimana dirinya terperangkap dalam hal tersebut.

Saki Kozai menceritakan, dia masih berusia 24 tahun, ketika didekati seorang pencari bakat di sebuah jalanan di Tokyo. Pada waktu itu, dia dijanjikan akan menjadi bintang iklan.

Karena tertarik, Saki Kozai pun menerima tawaran itu, dan sejak itu ia bergabung dengan sebuah agensi model si pencari bakat. Tetapi, ternyata, dia tidak menjadi bintang iklan sebagaimana yang dijanjikan, melainkan diminta bekerja di industri film porno Jepang (JAV).

Kepada AFP, Saki Kozai menceritakan, pada hari pertamanya bekerja, dia sudah diminta untuk melakukan adegan seks di hadapan kamera. “Aku tidak sanggup membuka pakaianku. Aku hanya bisa menangis,” ujarnya. “Ada sekitar 20 orang mengelilingiku, dan menunggu. Tidak ada wanita yang bisa mengatakan ‘tidak’ sewaktu dikerumuni seperti itu.”

Saki Kozai adalah satu di antara banyak wanita lain yang keluar dan menyatakan terang-terangan bahwa dirinya dipaksa untuk bekerja di industri pornografi Jepang atau JAV. Di Jepang, JAV adalah bisnis bernilai miliaran dolar. Industri itu juga telah melahirkan banyak artis wanita terkenal, semisal Maria Ozawa atau Miyabi, Risa Kasumi, dan lain-lain. Namun, sisi gelap industri tersebut masih jarang diungkap atau diperbincangkan. Kenyataannya, industri JAV tidak semulus kulit para pemainnya.

Di antara sisi gelap yang banyak dipersoalkan dalam industri JAV di Jepang adalah hak-hak para pemain film atau pekerja di dalamnya. Telah ada cukup banyak pengakuan dari wanita-wanita yang merasa dijebak, kemudian dipaksa bermain film porno tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Ketika sisi gelap semacam itu semakin santer menjadi isu di Jepang, para pelaku industri di sana pun mengeluarkan permintaan maaf, dan menjanjikan perubahan.

Pengakuan Saki Kozai di atas pun sebenarnya terkait dengan peristiwa yang sempat menghebohkan Jepang, yaitu penangkapan terhadap 3 agen pencari bakat di Tokyo, yang dituduh memaksa seorang wanita untuk tampil dalam lebih dari 100 video mesum. Seperti yang terjadi pada Saki Kozai, wanita yang tidak disebutkan namanya itu mengira akan terjun ke dunia model.

Para pengamat di Jepang menyatakan bahwa kasus semacam itu salah satunya terjadi karena banyaknya wanita yang mudah tergiur dengan iming-iming ketenaran dan gaya hidup mewah. Dalam beberapa kasus, kenyataannya, wanita-wanita yang terjebak itu memang diiming-imingi gaya hidup mewah, sebelum kemudian diwajibkan main film porno untuk membayar ‘utang kemewahan’ yang telah didapatkannya.

Selain itu, ada pula sejumlah agen pencari bakat yang diketahui ‘menyandera’ korban-korbannya dengan menggunakan ancaman, intimidasi, dan kontrak-kontrak palsu. Seorang wanita yang diwawancarai AFP mengatakan ia ditipu oleh seorang agen yang menjanjikannya menjadi penyanyi.

Ia menandatangani kontrak yang tidak jelas tentang pekerjaan yang sesungguhnya. “Agensi itu sampai berbulan-bulan meyakinkanku. Aku tidak punya pilihan,” ujar perempuan berusia 26 tahun itu.

Pada mulanya dia bertahan. Tetapi, seperti Saki Kozai dan yang lainnya, ia akhirnya menyerah pada tekanan. Perempuan itu menceritakan, “Pada awalnya, aku bilang aku tidak sanggup melakukannya. Ketika dipaksa melakukannya, sakit sekali. Tim produksi tidak mau berhenti.”

Puncak gunung es

Lembaga nirlaba Lighthouse di Jepang, yang giat menghentikan penyelundupan manusia, mengatakan bahwa lebih dari 60 aktris yang mencoba hengkang dari bisnis itu telah menghubungi mereka di paruh pertama tahun 2016. Angka itu jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Aiki Segawa, juru bicara Lighthouse, menyatakan, “Menurut kami, ini hanya puncak dari sebuah gunung es. Banyak korban merasa bersalah dan berpikir bahwa ini semua salah mereka.”

Menurutnya, kebanyakan wanita yang menjadi korban itu masih muda, berusia antara 18 dan 25 tahun, serta tidak tahu banyak tentang kontrak hukum. “Mereka belum tentu disiksa atau dikurung, tapi lebih sebagai orang yang ditipu,” ujar Aiki Segawa.

Ungkapan itu tampaknya benar. Saki Kozai bahkan menceritakan bahwa dia sampai kecanduan obat penenang untuk mengatasi kecemasannya. Ia juga merasa terasing, setelah agensinya membujuk untuk memutus hubungan dengan keluarga, supaya bisa fokus pada karier. “Aku tidak bisa lagi membuat keputusan rasional,” ujar Saki Kozai dengan getir.

Pada akhirnya, Saki Kozai memang bisa meninggalkan agensi yang menurutnya telah mencuci otaknya. Meski begitu, karena sudah telanjur, dia tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai pemain film-film dewasa, namun sebagai freelancer atau bekerja secara independen (tidak terikat suatu agensi).

Sementara itu, Human Rights Now yang berkedudukan di Tokyo membeberkan daftar tipu muslihat kotor yang digunakan oleh para pecari bakat.

Mereka melaporkan, kadang korban diancam dengan denda luar biasa kalau ingin membatalkan kontrak, atau mereka diberitahu tidak akan mendapat pekerjaan lain kalau pernah muncul dalam film dewasa. Para pencari bakat itu juga menyambangi kampus-kampus, atau bahkan rumah korban untuk menagih denda besar dari orangtua mereka, jika korban menolak bekerja.

Dalam suatu kasus yang pernah terjadi, Pengadilan Distrik Tokyo menolak upaya sebuah agensi untuk menagih 24 juta yen atau setara dengan Rp 3 miliar dari seorang wanita yang menolak muncul dalam film-film porno. Itu merupakan suatu kemenangan yang langka.

Pada saat ini, industri pornografi di Jepang menghasilkan sekitar 30.000 film dewasa (JAV) setiap tahun. Banyaknya film yang mereka produksi itu seiring dengan makin pesatnya perkembangan teknologi internet, yang memudahkan mereka dalam mendistribusikan film-film panas tersebut.

Karena tingginya angka produksi pula, mereka membutuhkan banyak pemain. Karena itu, berbagai cara kotor sampai dilakukan demi mendapat pemain baru, sebagaimana yang diungkap di atas.

Saki Kozai hanyalah satu di antara banyak wanita lain di Jepang yang masuk ke industri film JAV karena merasa terjebak. Dalam laporan lain, seorang wanita di Jepang sampai menjalani sejumlah operasi plastik demi melupakan masa lalunya (saat menjadi bintang film porno).

Sementara wanita lain dilaporkan sempat merencanakan untuk minta bantuan pengacara. Ia berniat menghentikan peredaran film panas yang menampilkan dirinya. Tetapi, ia kemudian gantung diri sebelum proses peradilan dimulai.

Mariko Kawana, seorang mantan bintang porno yang sekarang menjadi novelis, mendirikan sebuah organisasi yang ditujukan untuk menyerukan kontrak-kontrak yang seragam dan transparan dalam industri. Dia menjelaskan, “Setiap perusahaan film dewasa memiliki aturan masing-masing. Seharusnya diseragamkan, untuk melindungi hak-hak para aktris.”

Bagaimana dengan Saki Kozai? Apakah dia juga akan mengajukan gugatan hukum terhadap mantan agensi yang telah menjebaknya? Dia mengatakan sedang berpikir-pikir untuk melakukan hal tersebut. Ia berharap, jika itu benar akan ia lakukan, hal itu akan mendapat sorotan media, dan bisa menjadi titik balik bagi perubahan. Selain itu, ia berharap langkahnya dapat membantu wanita-wanita lain yang mengalami nasib serupa.

“Kalau aku bisa menjadi sebuah contoh, perempuan-perempuan lain yang menghadapi masalah yang sama mungkin bisa ditolong,” ujarnya.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda