Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenal Dampak Pornografi dan Potensi Perselingkuhan

By | 13.07
Mengenal Dampak Pornografi dan Potensi Perselingkuhan

ZonaKamu - Apa saja yang berlebihan memang tidak baik, begitu pula dengan mengakses konten pornografi secara berlebihan. Menonton video porno secara berlebihan, misalnya, tak hanya berbahaya bagi para lajang, tapi juga hubungan bersama pasangan.

Konsumsi konten pornografi akan mengalihkan fokus seksual bukan pada seseorang, namun pada subjek fantasi di luar sana, yang tak pernah orang tersebut temui, dan tentu saja mengurangi loyalitas kepada pasangan. Candu video porno akhirnya membuat seseorang terjebak dalam hubungan yang tak sehat.

Psikolog Nathaniel Lambert dan dua rekannya pernah merilis penelitian terkait persoalan ini di Journal of Social and Clinical Psychology pada tahun 2012 silam. Mereka bertanya pada partisipan (usia 17-26 tahun) yang sedang dalam hubungan, siapa yang konsumsi pornografinya tinggi.

Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi konten pornografi yang tinggi membuat komitmen kepada hubungan yang terjalin menjadi rendah. Baik laki-laki maupun perempuan punya kecenderungan serupa, tapi pada laki-laki ditemukan lebih kuat.

Dalam riset lain, Lambert bersama rekan yang berbeda namun dalam tema yang sama, yakni untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang imajinasi yang ditawarkan pornografi.

Mereka menawarkan dua kemungkinan sebagai hipotesis: Pertama, fisik dan sensualitas para aktor maupun aktris film porno meningkatkan persepsi dan harapan pada fisik dan sensualitas pasangan. Kedua, konsumsi video porno membuat keinginan memiliki pasangan lain (baca: selingkuh) meningkat.

Hasil riset Lambert dkk yang dimuat di Jurnal Social Psychological and Personality Science edisi tahun 2013 itu kemudian membuktikan kedua hipotesis di atas. Penonton video porno secara reguler memang punya harapan agar sang pasangan memiliki apa yang dimiliki bintang porno favoritnya.

Lebih jauh lagi, mereka juga kerap memikirkan pasangan lain meski pasangan yang sekarang sudah memuaskan secara fisik maupun seksual. Dalam arti lain, kelebihan kecil yang dimiliki orang lain bisa jadi alasan yang cukup untuk mendorong seseorang berselingkuh dengan si pemilik kelebihan kecil itu.

Dalam ulasannya untuk Psychology Today, Michael Castleman, jurnalis San Fransisco yang telah 30 tahun lebih menulis tentang seksualitas, juga menyimpulkan bahwa dampak dari konsumsi konten porno secara berlebihan akan membuat persepsi seseorang terhadap pasangannya didasarkan pada subjek yang ditontonnya di video porno.

Dalam kasus-kasus yang pernah ia temui dan tulis dalam bukunya, ia selalu menemukan bahwa konsumsi video porno membuat ekspektasi seseorang jadi tak realistis, dan tentu saja mengganggu hubungan intim di atas ranjang.

Pada perempuan, misalnya, berekspektasi bahwa pasangan laki-lakinya pasti memiliki penis yang besar, mudah ereksi dalam berbagai situasi, ereksi bisa bertahan lama—termasuk saat menjalani hubungan seks, dan bisa ejakulasi sesuai dengan keinginan.

Sementara itu, ekspektasi laki-laki pada perempuan pasangannya antara lain pasti punya sisi sensualitas yang tinggi, terobsesi untuk segera intercouse, pasti orgasme tiap kali berhubungan intim, dan lain sebagainya.

Meniru 100 persen semua adegan di video porno juga bisa berakibat fatal. Misalnya seks tanpa pelumas, seks "langsung tancap”, hingga seks tanpa pengaman. Dampaknya tak hanya membuat si pasangan tak menikmati hubungan intim, tapi juga menularkan penyakit seksual dari yang tipe ringan hingga yang berat.

Intinya, para pecandu video porno kerap lupa bahwa yang tersaji di layar gawainya itu diatur sedemikian rupa, sehingga ia cuma menampilkan kenyataan dalam porsi yang sedikit, alias tidak sepenuhnya.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda