Misteri Pembunuhan Berantai

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Komandan Hendra langsung melesat meninggalkan resepsionis yang masih bingung itu dengan diikuti oleh anak buahnya. Kasus apa lagi ini, batin si resepsionis sambil mengangkat pesawat telepon di dekatnya untuk menghubungi manajernya.
   
Komandan Hendra menghentikan langkahnya saat sampai di depan pintu kamar bernomor 53. Tanpa ragu kemudian dia mengetuk pintu kamar itu dengan perasaan tak karuan. Tak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Kembali diketuknya dengan suara yang lebih keras, tapi tetap tak ada jawaban. Komandan Hendra mencoba membuka handle pintu. Tak terkunci. Dengan waspada dia terus membukanya dan mendapati ruangan kamar yang gelap. Dua orang anak buahnya langsung masuk kamar dan mencari saklar lampu.
   
Ruangan kamar pun menjadi terang seketika begitu lampu dinyalakan. Dan di situ… Di atas tempat tidur yang bersih dan rapi itu terlihat tubuh Wawan tergolek diam dengan darah yang terus mengucur dari kedua pergelangan tangannya. Di salah satu telapak tangannya tergenggam sebuah pisau kecil yang juga berlumuran darah. Komandan Hendra tercekat.

Rupanya Wawan mencoba memotong urat nadinya sendiri! Segera dia dekati tubuh keponakannya itu dan mencoba meraba urat nadi di lehernya. Komandan Hendra menggelengkan kepalanya dengan lesu. Wawan telah tewas…
   
“Panggil ambulan sekarang juga,” perintahnya pada salah seorang anak buahnya.
   
Apa yang tengah dirasakannya ini? Komandan Hendra hanya bisa duduk sambil memandangi wajah Wawan yang tergolek diam tanpa ekspresi. Di dekat tubuhnya nampak sebuah ponsel mungil yang juga teronggok diam. Inikah akhir dari segalanya…? Inikah rupanya semua jawaban dari kasusnya yang begitu rumit dan membingungkan ini?
   
Ambulan datang dengan sirine yang meraung-raung. Manajer hotel menemui Komandan Hendra dan mereka pun membicarakan kasus itu dengan tergesa-gesa. Mayat Wawan segera dibawa turun. Para pelayan yang mendengar keributan itu menjadi penasaran dan segera berebutan untuk melihat apa yang tengah terjadi, tapi mereka segera dihalau dan diminta kembali turun. Manajer hotel menyetujui untuk menyegel kamar itu untuk sementara waktu.
   
Komandan Hendra hendak meninggalkan kamar itu, tapi langkahnya langsung terhenti saat telinganya mendengar bunyi ponsel yang bernyanyi. Pintu kamar yang belum sempat tertutup membuat Komandan Hendra bisa melihat ponsel tadi masih ada di atas ranjang tempat Wawan bunuh diri. Ponsel itulah yang sekarang berbunyi!

Dengan perasaan berdebar-debar, dia mendekat kembali ke tempat tidur dan segera diambilnya ponsel itu. Ada sebuah SMS yang datang dan Komandan Hendra segera membuka isinya. Matanya terbelalak kaget dan dia merasakan tangannya gemetar saat membaca isi SMS itu.
   
“Semuanya ini belum selesai. Aku pasti akan datang kembali…”