Misteri Pembunuhan Berantai

Komandan Hendra diam terpekur. Ia merasakan kepalanya berdenyut-denyut. Apakah segala yang telah didengarnya ini benar-benar kenyataan dan bukan hanya sandiwara radio? Benarkah Wawan, keponakan yang begitu disayanginya itu bisa menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang bisa melakukan semua kekejian ini? Apakah tidak mungkin ini suara orang lain yang hanya mengaku sebagai keponakannya? Ia merasa tak sanggup untuk berbicara atau menanyakan sesuatu. Semua yang barusan didengarnya ini rasanya telah membuatnya shock!
   
“Maafkan saya, Om.” Suara Wawan kembali terdengar, meski Komandan Hendra hanya mendengar secara samar-samar di telinganya. “Saya telah membuat Om begitu terbebani oleh persoalan ini. Sebenarnya saya berencana untuk lari dan bersembunyi sampai masalah ini dilupakan orang. Saya berencana ingin memulai hidup baru kelak dengan identitas yang baru pula.

“Tapi…selama bersembunyi saya terus-menerus merasa gelisah dan pikiran saya tak pernah tenang. Saya merasa terus dihantui oleh rasa dosa dan perasaan bersalah. Wajah-wajah teman saya yang telah saya bunuh terus mengikuti kemana pun saya lari. Saya merasa tak kuat lagi… Saya ingin terbebas dari belenggu yang begitu menghimpit ini dan saya ingin melepaskan semua beban yang begitu berat ini…”
   
“Wan,” akhirnya dengan suara yang parau Komandan Hendra berhasil juga megeluarkan suaranya. “Om ingin ketemu denganmu. Dimana kamu…?”
   
“Tak ada gunanya, Om.”
   
“Dimana kamu saat ini, Wan…?”
   
“Saya…saya ada di Hotel Mentari. Tapi tak ada gunanya kalau Om menyusul kesini, karena begitu Om sampai di sini, saya pasti telah menjadi mayat…”

***

BERSAMA beberapa anak buahnya, Komandan Hendra segera memasuki Hotel Mentari dengan perasaan berdebar-debar. Ia tak tahu apa yang akan diperbuat Wawan atau apa yang akan terjadi padanya, tapi berharap dia masih bisa menemukan Wawan dalam keadaan hidup.
   
Hotel Mentari sudah terlihat sepi tengah malam itu. Resepsionisnya bahkan terlihat sedang menguap saat Komandan Hendra memasuki pintu kaca hotel dan mendekatinya.
   
“Kami mencari seorang tamu bernama Hermawan Agustian,” sapa Komandan Hendra langsung sambil menunjukkan identitas polisinya.
   
Resepsionis yang tengah mengantuk itu langsung terbuka matanya. Lalu dengan panik dia membuka buku tamu di hadapannya. Jari tangannya terlihat gemetar saat menelusuri daftar tamu yang tertulis dalam buku itu, lalu dengan panik resepsionis itu menjawab, “tak ada nama itu dalam buku tamu kami, Pak.”
   
Komandan Hendra kemudian memberikan ciri-ciri Wawan yang masih diingatnya. “Mungkin baru dua atau tiga hari ini dia menginap di hotel ini,” lanjutnya.
   
Kembali resepsionis itu mempelajari buku tamunya, kemudian berujar, “ada seorang tamu dengan ciri-ciri itu, tapi namanya bukan yang tadi Anda sebutkan. Kalau tidak salah dia ada di kamar nomor lima tiga, di lantai dua.”
  
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (79)