Misteri Pembunuhan Berantai

Mereka kembali terdiam sesaat dan Komandan Hendra langsung meminta, “lanjutkan ceritamu.”
   
“Setelah menabrak Henry, saya langsung mengembalikan mobil sewaan itu setelah membersihkannya. Malam itu juga saya gunakan kembali untuk menyiksa Joshep karena sakit hati saya padanya masih begitu besar. Saya terus melampiaskan dendam dan kemarahan saya, dan baru pagi harinya saya bunuh.

“Saya hancurkan kepalanya dengan tujuan agar wajahnya tak dikenali. Bahkan saya juga membakar tubuhnya agar sosoknya jadi meragukan. Saya ingin orang-orang meyakini kalau mayat itu adalah saya yang terbunuh, sekaligus meng-kambinghitamkan Joshep sebagai pembunuhnya. Untuk menguatkan hal itu, saya pun sempat menelepon Benny dan berpura-pura sedang diserang oleh seseorang dan memintanya untuk segera datang ke rumah saya.”
   
“Dan kamu berhasil karena kami benar-benar terkecoh, Wan!” Komandan Hendra sama sekali tak tahu perkataan yang barusan diucapkannya itu sebuah pujian ataukah suatu luapan kemarahan.
   
“Terima kasih,” balas Wawan dengan suara yang ironis. “Tapi pekerjaan saya belum selesai. Benny masih hidup waktu itu dan saya belum tenang sebelum dia juga mati seperti yang lain. Setelah membunuh enam orang dengan hasil yang gemilang, saya merasa begitu asyik menjalankan semuanya ini.
   
“Saya menginap di hotel yang berdekatan dengan lokasi rumah Benny. Terus-terang waktu itu gerak saya mulai terbatas, apalagi dengan adanya publikasi besar di koran-koran menyangkut pembunuhan yang terjadi pada teman-teman saya. Tapi saya bisa menyamar dengan baik dan rasanya tak ada yang bisa mengenali saya. Dari hotel itu pula saya menelepon rumah Benny dengan menyamar sebagai seseorang dari rekanan perusahaan mamanya, untuk memastikan Benny ada di rumah malam itu.

“Ternyata Benny benar-benar ada di rumah dan mamanya sedang keluar. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera saya kirimkan sms ancaman buatnya seperti yang telah saya kirimkan untuk teman-teman yang lain. Seiring dengan itu, saya juga mulai mendekati rumahnya dengan persiapan yang benar-benar matang. Di luar dugaan saya, Benny nekat mengirimkan sms balasan ke nomor ponsel Wulan. Dia mencoba bernegosiasi.

“Saya hampir tertawa saat membaca sms darinya, tapi mencoba melayani permainannya. Saya balas lagi sms-nya dan memintanya untuk menceritakan semuanya pada polisi dengan jujur. Saya tahu betul siapa Benny dan bagaimana mentalnya. Dia takkan jujur. Tapi meskipun dia benar-benar jujur menceritakan semuanya pada polisi, saya yakin polisi takkan pernah curiga sedikit pun pada saya karena waktu itu saya dianggap telah mati…
   
“Terus-terang saya menjadi sedikit takut saat mendekati rumah Benny karena ternyata ada beberapa polisi berpakaian preman yang sepertinya menjaga di sekitar halaman depan rumah Benny. Tapi saya memang telah memperhitungkan itu sebelumnya. Saya lalu memutar ke belakang dan berusaha mencongkel pintu belakangnya. Saya langsung masuk dan melihat Benny tengah menelepon di ruang tengah. Dia membelakangi saya.

“Saya tersenyum saat mendengarkannya berbicara dengan seseorang di telepon dan sedang menceritakan tentang pem-bunuhan yang terjadi terhadap teman-temannya. Saya sudah siap waktu itu. Dan pada suatu kesempatan yang benar-benar bagus, saya langsung menghantamkan balok ke kepalanya dengan keras, dan segera pergi meninggalkan mayatnya…”
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (78)