Misteri Pembunuhan Berantai

“Setelah itu saya menghubungi ponsel Firdha dengan menggunakan ponsel milik Joshep. Saya memintanya datang saat itu juga ke Jembatan Hilir untuk suatu keperluan yang sangat mendesak dan penting. Firdha yang yakin kalau Josheplah yang menghubunginya malam itu, segera saja datang menemui karena Joshep selalu tak pernah pikir-pikir untuk menghamburkan uang untuknya.

“Saya pun pergi ke Jembatan Hilir dengan menggunakan mobil milik joshep. Saya sampai lebih dulu sepuluh menit sebelum Firdha datang dengan menggunakan mobil milik teman kencannya yang barangkali ia tinggal di hotel. Saya langsung membukakan pintu untuknya dengan harapan agar Firdha segera masuk ke dalam mobil yang saya tumpangi. Firdha paham isyarat itu. Dan agar dia tidak langsung melihat wajah saya, saya pun pura-pura sedang melongakkan kepala keluar lewat jendela, sambil mempelajari keadaan di sekeliling tempat itu.

“Begitu Firdha telah duduk dan menutup pintu, saya langsung berbalik dan segera menikamkan pisau yang telah saya persiapkan ke perutnya berkali-kali. Waktu itu Firdha memang sempat menjerit lirih, tapi saya yakin tak ada yang curiga karena tempat di sekitar itu biasa digunakan untuk acara mesum. Saya langsung membersihkan cipratan darah pada tangan saya dengan kertas tisyu dan merangkapi baju saya dengan jaket untuk menutupi percikan darah pada baju yang saya kenakan. Saya lalu keluar dari mobil dan meninggalkan Jembatan Hilir untuk mencari taksi.

“Sialnya, baru saja saya naik taksi, saya melihat mobil milik Henry sedang parkir di ujung jalan Jembatan Hilir. Saya tak tahu dia sedang bersama siapa atau sedang apa malam itu. Tapi saya yakin itu benar-benar mobil milik Henry. Saya sempat kuatir, jangan-jangan dia melihat perbuatan saya? Maka seperempat jam kemudian, saat saya sudah sampai di rumah, saya pura-pura menghubunginya dan memintanya untuk menemani saya di rumah. Henry tidak mengatakan apa-apa menyangkut Jembatan Hilir dan sepertinya dia benar-benar tak melihat saya.
   
“Malam itu juga saya pergunakan untuk menyiksa Joshep yang telah sadar kembali. Saya lampiaskan seluruh kemarahan dan dendam saya kepadanya karena dialah penyebab segala yang tengah terjadi ini, karena dialah yang telah menghancurkan hati dan hidup saya, yang telah membuat saya membunuh kekasih saya sendiri dan teman-teman saya… Saya terus menyiksanya sampai subuh, tapi saya belum menginginkan dia mati. Konsep yang telah saya susun mengharuskan saya membunuh Henry terlebih dulu sebelum membunuh Joshep.
   
“Besok malamnya, dengan menggunakan mobil sewaan, saya membuntuti Henry yang malam itu tengah berkencan dengan seseorang. Saya terus mengikutinya dan bertekad untuk membunuhnya malam itu juga bagaimana pun caranya. Kesempatan itu tak muncul-muncul juga sampai kemudian saat tengah malam Henry masuk ke sebuah rumah makan sendirian. Teman kencannya masih ada di dalam mobil yang diparkir di seberang jalan. Saya masih ragu dan bingung, tapi mulai menyusun rencana spontan. Dan begitu Henry terlihat keluar dari rumah makan itu, saya langsung menabraknya dengan keras saat dia menyeberang jalan. Saya langsung tancap gas secepatnya sambil berharap Henry tewas saat itu juga.”
   
“Henry masuk rumah sakit karena terluka parah karena itu,” sela Komandan Hendra.
   
“Saya baru tahu itu setelah koran-koran memberitakan tentang kematian Henry. Saya sama sekali tak menduga kalau publikasinya bisa sehebat itu. Saya bahkan tak tahu kalau teman kencan Henry malam itu seorang waria.”
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (77)