Misteri Pembunuhan Berantai

“Segalanya berjalan dengan lancar dan saya mulai menikmati permainan yang tengah saya jalankan. Korban ketiga yang saya incar kemudian adalah Farid. Pemilihan ini memang sudah mulai acak dan tak berurutan lagi agar teman-teman saya bingung menantikan siapa lagi yang akan menjadi korban. Farid langsung kalang-kabut saat mendapatkan sms ancaman itu dan dari situlah kemudian kami punya ide untuk mendatangi paranormal.

“Saya hanya mendukung saja karena tak punya alasan kuat untuk menolak. Saya hanya berharap paranormal yang kami datangi itu cuma pintar membual. Mbah Suro yang kemudian kami pilih ternyata memang pintar seperti yang ditulis dalam iklannya. Dia langsung tahu kalau mahluk gaib arwah Wulan yang kami ributkan itu hanya isapan jempol. Dia bahkan memberi peringatan kepada Farid agar berhati-hati dengan kami. Sejak itulah kemudian hubungan kami mulai renggang, apalagi kemudian kami mulai mencurigai Joshep menyembunyikan sesuatu.

“Saya sudah tahu kalau rahasia yang disembunyikan Joshep waktu itu adalah perasaan cintanya terhadap Wulan, tapi yang lain sama sekali tak tahu fakta itu. Benny yang paling penasaran dengan itu terus mendesak Joshep agar membuka rahasia yang disimpannya. Akhirnya, di hadapan saya dan Benny, Joshep pun mengakui kisah yang sesungguhnya, bahwa dia memang sengaja mengumpankan Wulan kepada kami sebagai balas dendam-nya karena telah menolak cintanya.
   
“Pembunuhan terhadap Farid agak sulit karena dia menjadi tak berani keluar rumah semenjak dari paranormal tempo hari, dan rumahnya pun tak pernah sepi. Akhirnya saya nekat meloncati pagar rumahnya dan mengendap-endap ke jendela kamarnya yang tembus ke halaman samping. Saya panggil-panggil namanya dengan lirih, dan begitu yakin dia ada di dalam kamar, saya semakin nekat memanggilnya dari jarak yang lebih dekat. Saya sudah siap menghantamnya dengan batu saat kepala Farid akhirnya keluar dari jendela.”
   
Komandan Hendra merasakan bulu kuduknya berdiri mendengarkan kisah pembunuhan yang diceritakan seperti sebuah kisah sandiwara ini. Betapa lancarnya Wawan menceritakan semua itu seperti sedang membaca sebuah novel yang mengalir datar. Tak ada nada penyesalan sedikit pun, bahkan suaranya terdengar begitu bangga…
   
“Persoalan kemudian muncul saat Firdha menghubungi saya. Dia mengatakan kalau dia tahu bahwa sayalah pelaku dari pembunuhan yang terjadi pada diri Hakim dan Farid. Saya tidak tahu dari mana dia bisa mengetahuinya. Saya sempat berpikir bahwa dia hanya mengira-ngira saja setelah berhasil melacak informasi dari salah seorang teman dekat Wulan yang memberitahu dia kalau saya dan Wulan saling mencintai. Firdha menginginkan uang tutup mulut yang besar dan saya sulit menyanggupinya.

“Lebih dari itu, saya juga tak bisa seratus persen mempercayai mulutnya. Persoalan kemudian menjadi bertambah lagi saat Om mengisyaratkan akan menahan saya dengan alasan demi keamanan saya. Ini jelas di luar skenario yang telah saya persiapkan. Kalau saya sampai ditahan, maka rencana yang telah separuh jalan ini akan gagal total bahkan bisa-bisa perbuatan saya akan terungkap. Saya pun kemudian bekerja cepat. Saya menghubungi Joshep dan menjebaknya untuk datang ke rumah saya.

“Saya katakan padanya bahwa saya punya informasi penting menyangkut perkara yang tengah kami hadapi dan saya juga telah tahu siapa pelaku yang sebenarnya. Joshep langsung datang dan saya menyuguhkan minuman yang telah dicampur dengan obat tidur berdosis besar kepadanya. Begitu Joshep tertidur dengan pulas, saya mengikatnya dan memasukkannya ke dalam lemari. Pekerjaan ini lebih mudah karena waktu itu keluarga saya sedang ke kampung untuk menjenguk kakek yang sakit...

Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (76)