Misteri Pembunuhan Berantai

“Saya kembali ke tempat semula dan membaringkan diri seolah-olah tertidur lelap sambil menunggu bagaimana reaksi teman-teman saya mendapatkan kejutan ini. Tak lama kemudian ponsel milik Rexi berdering. Joshep yang pertama kali terbangun karena bunyi ponsel itu langsung membangunkan Rexi begitu tahu kalau bunyi itu dari ponsel milik Rexi. Ibu Rexi yang sangat protektif memang sering menelepon Rexi dan menanyakan dia ada dimana.

“Rexi bangun dan mendapati ada sebuah sms yang datang, dan tentu saja langsung kalang-kabut begitu tahu ‘Wulan’lah yang mengirim sms itu, sama seperti yang telah diterima Hakim. Kami kemudian bangun semua gara-gara sms itu dan segera mendapati tubuh Hakim yang telah terbujur kaku menjadi mayat. Saya kembali meng-gunakan pengaruh sugesti dengan mengatakan pada mereka bahwa arwah Wulan benar-benar telah datang untuk membalas dendam. Mereka semua langsung kocar-kacir, tapi saya tak melupakan antisipasi.

“Saya meminta mereka untuk kembali membenahi semua yang ada di dalam rumah Hakim agar kembali nampak seperti semula hingga tak ada tanda-tanda keberadaan kami di situ. Saya begitu menekankan pada mereka bahwa kalau ada satu tanda sekecil apapun tentang keberadaan mereka di sana, maka kami semua akan menghadapi masalah besar karena bisa dituduh sebagai pembunuh Hakim.
   
“Kami kembali ke rumah Joshep untuk merundingkan masalah ini. Joshep yang biasanya menjadi pengambil keputusan nampak sangat shock dan bingung dengan kejadian ini dan sayalah yang kemudian menentukan segalanya. Saya mengajukan berbagai teori yang saya anggap bisa melempangkan jalan bagi saya tapi tak mereka sadari, dan kami pun lalu sepakat untuk tutup mulut pada polisi.

“Rexi yang paling ketakutan kemudian menjadi histeris dan berteriak-teriak kalau dia akan melaporkan hal ini pada polisi. Kami menjadi panik dan Joshep langsung mencekal Rexi dengan kuat. Karena tubuh yang lemas dan ketakutan yang teramat sangat, Rexi pun pingsan. Saya segera mengambilkan minuman untuknya. Saya mempersiapkan secangkir kopi karena tahu Rexi sangat menyukai minuman itu. Saya juga mencampuri kopi itu dengan suatu serbuk racun yang telah saya persiapkan dari rumah.

“Saat Rexi tersadar, saya pun langsung meminumkannya. Seperti yang telah saya duga dan saya harapkan, Rexi langsung menghabiskan kopi hangat yang saya bikin. Racun di dalamnya tak segera  bereaksi. Tapi satu menit kemudian Rexi merasakan lehernya kepanasan dan dia mencengkram lehernya sendiri tanpa bisa memberitahu apa yang tengah dirasakannya.

“Saya langsung berteriak mangatakan kalau Rexi tengah mencekik lehernya sendiri dan saya pun pura-pura menarik dua tangannya dari lehernya. Semua begitu kebingungan waktu itu. Dan saat Joshep akan membantu saya menarik kedua tangan Rexi dari lehernya, Rexi pun menghembuskan napas terakhirnya…
   
“Dengan berbagai pertimbangan yang saya ajukan, kami kemudian membuang mayat Rexi ke dalam hutan dan mempersiapkan skenario untuk menghadapi polisi. Kami berencana akan mengkambinghitamkan Rexi hingga pembunuhan yang terjadi pada Hakim nampak sebagai pembunuhan karena perebutan perempuan.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (75)