Misteri Pembunuhan Berantai

“Semuanya sudah siap dan saya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memulai segalanya. Mayat Wulan kemudian muncul dan ditemukan. Saat itulah saya pikir moment yang tepat untuk mulai melancarkan teror ini. Pertama saya mengirimkan sms ancaman ke ponsel milik Hakim dengan alasan karena dialah yang pertama kali memperkosa Wulan malam itu. Sebagaimana yang sudah saya duga, Hakim langsung shock saat mendapatkan sms itu.

“Kami yang rencananya akan kumpul di rumah Joshep dikabari hal itu oleh Farid dan kemudian kami berangkat bersama ke rumah Hakim. Waktu itu saya sudah mempersiapkan segalanya meski belum yakin bagaimana cara membunuh Hakim. Dan sebagai-mana yang telah saya duga, kami begitu meributkan soal sms dari Wulan itu dan kemudian Benny nekat menghubungi nomor ponsel Wulan. Saat itu sebenarnya nomor ponsel milik Wulan ada dalam ponsel yang saya bawa malam itu, tapi tidak saya aktifkan. Suara tawa menakutkan yang telah saya siapkan dalam kotak suara langsung membuat Benny dan yang lain ketakutan setengah mati. Dan saat saya pura-pura ikut mendengarkannya, saya pun dengan penuh keyakinan mengatakan kalau itu suara tawa Wulan. Mereka tersugesti dan rasanya tak ada yang tak percaya kalau itu bukan suara Wulan.
   
“Saat kami akan tidur, saya sengaja mematikan lampu-lampu dengan harapan bisa melakukan pembunuhan terhadap Hakim tanpa ada yang melihatnya. Tapi saya masih terus saja ragu untuk melakukan itu. Saat semuanya sudah terlelap, saya belum juga bisa tidur dan masih mengumpulkan keberanian untuk melaksanakan niat saya. Sampai kemudian Hakim terbangun dan saat melihat saya belum tidur, dia meminta diantar ke kamar kecil di belakang.

“Saya langsung menurut dan secara spontan mempersiapkan pembunuhan itu. Sambil menunggu Hakim keluar dari kamar mandi, saya mengambil sebuah balok kayu di dapur dan langsung menghantamkan ke kepalanya saat dia keluar. Hakim roboh seketika dan saya mengembalikan semuanya seperti semula. Saya tidak terlalu bodoh untuk meninggalkan sidik jari saya pada balok yang saya gunakan untuk membunuh Hakim.

“Saya menggunakan sapu tangan untuk memegang balok kayu itu karena saya yakin balok kayu itu pasti akan ditemukan polisi sebagai alat pembunuhan dan mereka pasti akan memeriksanya. Semuanya berjalan begitu singkat, bahkan saya masih sempat mengaktifkan ponsel saya dan mengirimkan sms ancaman baru ke ponsel milik Rexi.”
   
Komandan Hendra langsung memotong, “tentunya bajumu terkena cipratan darah kan, Wan? Teman-temanmu tak ada yang melihatnya?”
   
“Saat datang ke rumah Joshep tadi, saya mengenakan baju dengan dirangkapi jaket tebal. Saya melepas jaket saat melakukan pembunuhan terhadap Hakim. Memang ada beberapa percikan darah yang sempat nempel ke baju saya tapi saya kembali mengenakan jaket saya hingga tak ada seorang pun yang melihatnya. Mereka juga tak curiga karena kami terbiasa tidur dengan memakai jaket bila kedinginan.”
   
Komandan Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat, lalu meminta Wawan melanjutkan.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (74)