Misteri Pembunuhan Berantai

“Keesokan harinya saya menemui Firdha untuk bertanya tentang Wulan, karena Joshep mengatakan kalau Firdhalah yang menghubungkannya dengan Wulan. Betapa terkejutnya saya waktu Firdha mengatakan kalau dia sama sekali tak pernah menghubungkan Joshep dengan Wulan. Firdha juga meyakinkan saya kalau Wulan benar-benar gadis baik-baik dan bukan cewek bookingan seperti yang dibilang Joshep.

“Saya bingung dan kacau waktu itu. Lebih dari itu, saya merasakan suatu penyesalan yang teramat besar. Saya telah membunuh orang yang saya cintai, bahkan telah menganggapnya sebagai seorang yang sangat hina. Dua hari setelah itu Firdha menelepon saya dan menceritakan kalau Joshep barusan menyuapnya untuk mengatakan bahwa dialah yang menghubungkan Joshep dengan Wulan apabila ada temannya yang menanyakan kepadanya.

“Joshep mungkin tak tahu kalau saya bersahabat cukup dekat dengan Firdha. Waktu itu Firdha juga sempat menanyakan pada Joshep mengapa mengumpankan Wulan pada teman-temannya, dan Joshep menjawab dengan pongah bahwa itu balas dendamnya karena Wulan telah menolak cintanya. Ia ingin Wulan sakit hati dan menanggung malu…”
   
Wawan terdiam sementara Komandan Hendra mencoba mencerna segala yang barusan didengarkannya dengan perasaan tak karuan.
   
“Dan kemudian kamu merancang pembunuhan-pembunuhan itu…?” Koman-dan Hendra merasa berat saat mengucapkan pertanyaan itu.
   
“Iya.” Wawan menjawabnya dengan pasti. “Saya merasa terpukul sekali waktu itu. Dua hari dua malam saya mengurung diri dalam kamar dan merenungkan semuanya. Cinta saya yang begitu besar kepada Wulan dan penyesalan saya yang juga begitu besar karena telah membunuhnya kemudian melahirkan keinginan untuk membalas dendam pada teman-teman saya yang telah menyebabkan tragedi ini.

“Maka saya pun kemudian menyusun rancangan dan konsepnya. Saya ingin mengesankan pembunuhan berantai yang akan saya lakukan ini seolah-olah suatu pembalasan dendam dari arwah Wulan. Karena itulah saya selalu mengirimkan sms terlebih dulu ke ponsel calon korban saya. Ini juga bertujuan sebagai teror mental agar mereka merasakan ketakutan dan kengerian terlebih dulu sebelum mereka mati…
   
“Langkah pertama yang kemudian saya lakukan adalah menyelam ke dasar sungai tempat mayat Wulan dan barang-barangnya dibuang dua hari yang lalu. Ini juga saya anggap sebagai salah satu penebusan dosa saya terhadap Wulan. Saya mencari karung yang digunakan untuk membungkus tubuhnya dan kemudian saya keluarkan mayatnya dari dalam karung agar bisa segera timbul ke permukaan dan ditemukan orang.

“Saya juga membongkar karung yang digunakan untuk mem-buang barang-barangnya dan mencari ponselnya yang juga ada di situ. Saya ambil ponselnya dengan harapan kartu sim-nya masih bisa dipergunakan.”
   
Komandan Hendra mengangguk-anggukkan kepalanya, mulai mengerti bagai-mana semuanya itu harus dirangkai.
   
“Kartu sim dalam ponsel milik Wulan ternyata masih bisa dipakai. Saya gunakan dalam ponsel milik saya yang memiliki fasilitas dua kartu. Saya pun mulai mematangkan konsep permainannya. Dengan menggunakan kartu sim milik Wulan itu, saya menghubungi kotak suara untuk memasukkan salam pribadi.

“Saya merekam suara tawa menakutkan yang saya dapatkan dari suatu sinetron dan memasukkannya ke kotak suara sebagai salam pribadi bila ponsel tidak diaktifkan. Ini saya lakukan sebagai jaga-jaga sekaligus sebagai penguat apabila ada yang nekat menghubungi nomor ponsel milik Wulan ini.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (73)