Misteri Pembunuhan Berantai

“Sebagaimana yang sudah Om ketahui, saya bersahabat dengan Joshep, Hakim, Rexi, Farid, Benny dan Henry. Kami seringkali ngumpul pas malam minggu, juga pada malam-malam lain setiap ada kesempatan. Keakraban kami bukannya tanpa tabir yang menutupi. Ada banyak hal yang tak terungkap dalam persahabatan itu… Waktu itu saya mencintai seorang teman kuliah bernama Wulan. Nama lengkapnya Wulandari.

“Saat kami mulai dekat satu sama lain, saya nekat menyatakan cinta dan dia menerimanya. Tapi Wulan berpesan agar hubungan kami dirahasiakan dulu karena baru beberapa hari yang lalu Joshep juga telah menyatakan cintanya pada Wulan. Wulan bermaksud untuk menjaga perasaan Joshep, dan saya pun memakluminya. Tetapi saya nyaris tak percaya waktu itu.

“Saya kenal siapa Joshep dan saya tahu perempuan macam apa yang selama ini biasa dekat dengannya. Tapi Wulan meyakinkan saya kalau Joshep benar-benar telah menyatakan cintanya. Wulan juga mengakui kalau dia menolak cinta Joshep waktu itu, dan karena itulah kemudian dia meminta kami agar merahasiakan hubungan ini. Saya bersedia memenuhi keinginannya karena saya sendiri pun merasa tak enak kalau harus ‘merebut’ cinta sahabat saya sendiri.
   
“Sampai kemudian Joshep berulang tahun dan mengundang kami untuk datang ke rumahnya. Kami pun berkumpul dan minum-minum seperti biasa. Joshep juga bilang kalau dia telah menyediakan seorang cewek yang telah dibookingnya untuk kami. Acara seperti ini sebenarnya sudah biasa bagi kami karena itu bukan untuk pertama kalinya.

“Tapi yang paling membuat saya shock adalah waktu tahu kalau cewek yang dimaksudkan itu adalah Wulan. Saya kebetulan mendapat giliran terakhir. Dan waktu saya mendapati Wulan yang tidak sadar telah ada dalam kamar Joshep dengan tubuh tanpa busana, pikiran pertama yang terlintas dalam benak saya waktu itu adalah bahwa saya telah dibohongi Wulan selama ini.
   
“Sepanjang petualangan kami dengan mahasiswi-mahasiswi yang nyambi jadi perek, kami memang seringkali terkejut saat mengetahui kalau mahasiswi-mahasiswi yang kami kira alim, lugu dan tidak nakal ternyata bisa dibooking. Dan saya langsung menganggap Wulan juga seperti itu. Reaksi pertama saya waktu itu hanyalah kemarahan yang meluap-luap. Saya merasa dibodohi, saya merasa telah ditipu dan saya merasa sangat terhina. Saya kalap!

“Kemarahan itu kemudian membuat saya gelap mata dan langsung membekap wajahnya dengan bantal sampai dia kehabisan napas. Tapi setelah itu saya merasa bingung dan sangat ketakutan. Saya panik ketika menyadari bahwa dia benar-benar telah tewas oleh tangan saya. Bagaimana saya harus mempertanggungjawabkan ini? Maka saya kemudian bersikap seolah-olah bukan saya pembunuhnya.

“Saya turun menemui teman-teman saya dan mengatakan kalau Wulan telah mati. Mungkin waktu itu tak ada yang mencurigai saya. Hanya Benny yang terus-menerus menuduh saya telah membunuhnya. Tapi saya tahu dia tak punya dasar kuat untuk menuduh saya membunuh Wulan, dan saya tahu dia melakukan itu agar dirinya bebas dari tuduhan. Lalu kami memutuskan untuk membuang mayat Wulan ke sungai.

“Saya memang sempat menakut-nakuti mereka dengan mengatakan kalau sampai polisi tahu tentang kematian Wulan, maka kami semua akan masuk penjara dan  koran-koran akan memuat foto kami sebagai pemerkosa sekaligus pembunuh Wulan. Peringatan itu langsung membuat mereka kecut dan Wulan pun kemudian dibuang ke sungai dengan memasukkan pemberat pada karung mayatnya.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (72)