Misteri Pembunuhan Berantai

Dengan penuh gairah diseruputnya kopi yang masih mengepulkan asap itu. Kemudian disulutnya sebatang rokok. Kopi dan rokok memang selalu menjadi sahabat setia dalam melewati malam-malam panjang dengan setumpuk pekerjaan. Komandan Hendra menyandarkan tubuhnya sejenak pada kursinya dan menikmati asap rokoknya. Rokok itu masih terselip di bibirnya saat telepon di meja kerjanya berdering. Dipencetnya sebuah tombol dan suara dari seorang anak buahnya terdengar melapor.
   
“Ada seseorang yang mau melaporkan sesuatu, Pak. Tentang kasus terakhir.”
   
“Namanya?” Komandan Hendra menghembuskan asap rokoknya.
   
“Dia tak mau menyebutkan nama. Dia hanya bilang kalau ini penting sekali.”
   
Semuanya selalu penting sekali, pikir Komandan Hendra. Telepon-telepon yang masuk untuknya memang selalu disaring agar telepon-telepon yang tak penting tidak sampai mengganggu pekerjaannya. Setelah diam sejenak, Koman-dan Hendra pun memerintahkan agar teleponnya segera disambungkan.
   
Satu tombol dipencet lagi dan sebuah suara yang lain muncul.
   
“Selamat malam, Om. Masih ingat dengan suara saya?”
  
Komandan Hendra tersentak kaget mendengar suara itu. “Dengan siapa saya berbicara?”
   
“Ini Wawan, Om.”
   
Dengan suara yang masih tak percaya, Komandan Hendra hanya sempat menggumam, “Wawan siapa?”
   
“Wawan keponakan Om Hendra.”
   
“Tak mungkin!” Komandan Hendra membasahi tenggorokannya. “Maaf, saya sedang banyak pekerjaan dan tidak bisa melayani telepon yang main-main seperti ini!”
   
“Om, ini benar-benar Wawan! Saya mau melakukan pengakuan dosa.”
   
“Apa?!”
   
“Saya ingin mengakui perbuatan saya, bahwa sayalah yang telah membunuh teman-teman saya sendiri…”
   
Komandan Hendra terpaku di tempat duduknya. Segala macam perasaan campur aduk dalam hatinya. Dengan hanya mendengar suaranya, Komandan Hendra sudah bisa yakin kalau peneleponnya saat ini memang benar-benar Wawan keponakannya. Apa yang tengah dirasakannya saat ini? Kegembiraan karena keponakannya masih hidup? Kesedihan karena kenyataan yang sama sekali tak diduganya?
   
“Wan…? Dimana kamu saat ini?” Kalimat itu yang akhirnya keluar dari mulutnya yang terasa kelu.
   
“Itu tidak penting, Om. Saya hanya ingin mengakui semua perbuatan saya karena saya merasakan hidup saya saat ini tidak tenang dan terus-menerus dicekam bayangan dosa. Saya…saya ingin mengungkapkan semuanya…”
   
“Wan, jangan katakan kalau kaulah pembunuh itu,” suara Komandan Hendra terdengar begitu getir.
   
“Tapi memang sayalah pelakunya, Om. Sayalah yang telah membunuh teman-teman saya. Sebenarnya saya tidak ingin mengakui ini dan berencana untuk terus hidup dalam persembunyian sampai orang-orang melupakan kasus ini dan sudah tak mengenali saya lagi. Tapi saya tak bisa tenang. Setiap hari, setiap malam saya selalu dihantui perasaan berdosa dan ini membuat hidup saya benar-benar tersiksa. Saya ingin mengakhiri semuanya ini. Saya sudah tak kuat lagi. Saya…”
   
Mendengar suara Wawan yang begitu memelas itu, mau tak mau Komandan Hendra merasa trenyuh. “Kamu tentu punya alasan melakukan semuanya itu…”
   
“Iya,” jawab Wawan setelah terdiam beberapa saat.
   
“Ceritakanlah.” Hanya itulah yang kemudian bisa dikatakan Komandan Hendra.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (71)