Misteri Pembunuhan Berantai

“Saya sama sekali tak bisa memastikannya. Saya pernah berpikir kalau pembunuh itu Joshep, karena sampai saat ini dia menghilang entah kemana, dan Firdha juga terbunuh di dalam mobilnya.”
   
“Anda juga kenal dengan Firdha?”
   
“Tidak terlalu dekat. Joshep mengatakan kalau Firdhalah yang menghubung-kannya dengan Wulan, dan kami percaya waktu itu karena selama ini Firdha memang dikenal sebagai pialang perek kampus. Maafkan ucapan saya. Tapi ternyata Joshep membohongi kami semua karena ternyata Wulan anak baik-baik, dan Firdha juga membantah kalau dia telah menghubungkan Joshep dengan Wulan.”
  
“Dan Firdha tentu juga bukan perempuan yang diperebutkan Hakim dan Rexi teman Anda itu?”
   
“Itu hanya akal-akalan kami waktu itu agar kematian Hakim dan Rexi nampak seperti pembunuhan biasa, bukan hasil balas dendam arwah Wulan.”
   
“Dimana Rexi terbunuh? Saya belum pernah mendengar dia telah terbunuh.”
   
“Rexi tewas di rumah Joshep. Kami membuangnya ke hutan.”
   
Mereka terdiam sejenak, berenang dan menyelam dalam lautan pikirannya masing-masing. Sampai kemudian Komandan Hendra yang pertama membuka suara.
   
“Saya bingung, Saudara Benny. Kasus yang Anda hadapi bersama teman-teman Anda ini sangat gawat dan mengancam keselamatan. Tapi Anda dan juga yang lain terkesan sangat menutup-nutupi kasus ini.”
   
“Itu…itu karena kami sangat ketakutan waktu itu.” Benny sedikit tergagap. “Eh… Waktu itu kami sudah sepakat untuk tutup mulut pada polisi mengenai kasus ini. Karena menurut kami waktu itu, kalau polisi sampai tahu tentang Wulan, kami pasti akan ditahan dan dipenjara karena telah membuang mayat Wulan…”
   
“Juga karena telah memperkosanya,” potong Komandan Hendra dengan geram.
   
“Itu saya tidak tahu.” Benny merasa di sinilah dia harus sedikit membelokkan ceritanya. “saat itu saya sudah mabuk berat dan sama sekali tidak sadar. Saya tidak tahu siapa saja yang telah memperkosa Wulan.”
   
“Anda juga tidak ikut?”
   
“Tidak,” jawab Benny langsung.
   
Sebuah benda berat melayang dan menghantam kepala Benny dengan keras dari arah belakang. Hanya suara pekikan lirih yang sempat keluar dari mulut Benny, dan setelah itu dia jatuh terkapar di atas lantai dengan darah yang mengucur deras dari batok kepalanya. Handle telepon yang tadi dipegangnya kini terlepas dan menggantung di meja.
   
“Halo…halo… Saudara Benny…?” Samar-samar terdengar suara Komandan Hendra dari handle telepon yang nampak sedikit terayun-ayun itu.

***

KOMANDAN Hendra merasa sangat terpukul. Waktu empat bulan lebih yang telah dihabiskannya ini terasa terbuang percuma. Dia merasa gagal. Kasus besar yang disorot oleh banyak media massa ini telah gagal diselesaikannya, dan pembunuh tanpa wujud itu sampai detik ini belum juga berhasil ditangkap.

Jangankan untuk menangkapnya, untuk menentukan siapa dia pun Komandan Hendra masih sebatas meraba dan menduga. Tak ada satu kepastian pun yang bisa dijadikannya sebagai pegangan untuk melacak jejak pembunuh berantai ini. Kasus ini merupakan kasus pertama sekaligus kasus terbesar yang tak bisa diungkapnya.
   
Selama ini ia begitu bangga dengan reputasinya, dengan caranya yang unik dan halus dalam mengungkap setiap kejahatan yang terjadi di kotanya. Dia belum pernah gagal. Dia selalu bisa mencium jejak pembunuh dan dengan cara yang begitu taktis dan gemilang seperti biasa, dia pun berhasil menyeret penjahat itu ke penjara. Tapi kasus ini…?
   
Komandan Hendra mencoba membesarkan hatinya dan mengakui kalau kasus ini bukanlah kasus biasa seperti yang selama ini telah ditanganinya. Tapi reputasinya kini dipertanyakan. Tujuh anak muda telah terbunuh dan hilang tanpa jejak tanpa diketahui siapa yang membunuhnya. Masyarakat telah gempar dengan berita-berita sensasional di koran-koran menyangkut kasus pembunuhan berantai yang baru kali ini terjadi. Kabar-kabar yang muncul pun kemudian saling simpang-siur dan tidak jelas.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (69)