Misteri Pembunuhan Berantai

Sejenak dia terpekur memikirkan dari mana dia harus menceritakan semuanya ini. SMS Wulan tadi mengingatkan agar ia jujur. Baiklah, baiklah, Benny akan membuka semuanya. Dia akan mengungkapkan semuanya, lengkap dengan cerita perkosaan yang dilakukannya dengan teman-temannya yang lain.

Hanya saja Benny berencana nanti bisa sedikit membelokkan cerita itu dengan menyebutkan kalau dia sudah terlalu mabuk hingga tak sempat ikut memperkosa Wulan. Ancaman penjara dan publikasi koran juga sama menakutkannya dengan ancaman kematian dari Wulan!
   
Benny mengangkat handle telepon dan bersiap untuk memencet nomor telepon Komandan Hendra. Waktu itu muncul bayangan wajah para sahabatnya di sekeliling kepalanya. Ada wajah Henry yang mengejeknya. Ada wajah Wawan yang menyeringai sinis, wajah Farid yang melotot dan mengatainya tidak efektif, juga wajah Rexi yang menertawakan perbuatannya ini.

Benny merasa pikirannya kacau. Bagaimana pun juga apa yang akan dilakukannya ini sudah termasuk sebagai penghianatan besar pada sahabat-sahabatnya. Tapi Benny tidak mau mati! Ia lebih memilih merasa menjadi penghianat asal dia masih punya kesempatan untuk hidup!
   
Sambil berdiri dengan menumpukan tangan kirinya pada sisi meja, dipencetnya nomor telepon Komandan Hendra, lalu ditunggunya nada sambung berbunyi di telinganya. Oke Wulan, lihatlah aku memenuhi permintaanmu. Semoga saja dunia arwah belum tahu bagaimana cara menyadap telepon!
   
“Kantor Polisi Pusat, selamat malam.” Sebuah sapaan menyambut telepon Benny dengan nada suara yang sangat resmi.
   
“Se…selamat malam. Bisa bicara dengan Komandan Hendra?”
   
“Dari siapa ini?”
   
“Benny,” jawab Benny langsung. “Tolong sampaikan pada Komandan Hendra, ini penting sekali.”
   
Penerima telepon itu kini terdengar sedang berbicara dengan orang lain, lalu suara Komandan Hendra muncul di telepon.
   
“Selamat malam Saudara Benny,” sapanya dengan hangat.
   
“Komandan Hendra?” Benny merasa lega orang yang ditujunya ada di tempat.
   
“Iya. Senang sekali saya mendengar Anda mau menelepon.”
   
“Saya…saya harus…” Meski barusan telah mengkonsepnya dalam pikirannya, Benny masih bingung juga dari mana dia harus memulai laporan ceritanya.
   
“Ada sesuatu yang ingin Anda ceritakan kepada saya?” Komandan Hendra membantu.
   
“Iy…iya. Ini…ini tentang Wulan…”
   
“Wulan?” Komandan Hendra terdengar bingung. “Siapa Wulan?”
   
“Maksud saya…tentang pembunuhan yang terjadi pada teman-teman saya.”
   
“Saya mendengarkan.”
   
“Semua ini… Semua ini berawal dari Wulan.” Benny memulai dan berusaha menceritakan segalanya dengan singkat. “Joshep, salah satu teman kami, meraya-kan ultahnya malam itu dengan kami. Dia menyediakan banyak minuman keras dan seorang cewek yang katanya wanita nakal yang telah dibookingnya.”
   
“Wulan tadi?”
   
“Iya! Singkatnya, Wulan kemudian tewas karena kehabisan napas dan, karena takut, kami membuangnya ke sungai.” Benny tak tahu kalau saat itu Komandan Hendra tersentak di kursinya. “Kemudian, saat mayat Wulan ditemukan, kami mulai menerima sms-sms dari Wulan. Isinya bernada ancaman dan siapa pun yang mendapatkan sms itu kemudian terbunuh.”
   
“Semuanya?”
   
“Pertama Hakim, kemudian Rexi, lalu Farid. Waktu itu saya menganggap kalau pembalasan dendam Wulan sudah selesai, tapi ternyata Wawan akhirnya juga terbunuh dan Henry tewas karena kecelakaan.” Benny terdiam sesaat. “Saya… saya sangat takut sekali…”
   
“Apakah Anda yakin kalau pengirim sms itu benar-benar Wulan yang telah mati itu?”
   
“Saya sempat tidak yakin. Juga Wawan. Bahkan saat menjelang kematiannya, Wawan sempat menelepon saya dan memberitahu kalau dia telah tahu siapa pembunuh teman-teman kami itu. Tapi saya terlambat datang ke rumahnya dan begitu sampai di sana, dia sudah…”
   
“Menurut Anda, siapa sebenarnya pengirim sms sekaligus pembunuh teman-teman Anda itu?”
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (68)