Misteri Pembunuhan Berantai

Benny kembali membaca SMS itu dan mencoba mempelajarinya dengan pikiran yang tak karuan. Semuanya telah mati. Benarkah semuanya telah mati? Kalau begitu Joshep juga sudah mati, dan ini benar-benar SMS dari Wulan? Apakah sekarang Benny harus mempercayai bahwa ini SMS dari Wulan? Benny menggelengkan kepala dengan rasa tidak percaya. Kalau saja ada Sherlock Holmes, kalau saja ada Hercule Poirot…
   
Benny kemudian berpikir, kalau arwah sialan itu bisa mengirimkan SMS kepadanya, rasanya bukan mustahil kalau dia juga bisa menerima SMS darinya. Apakah dunia arwah juga telah mengenal ponsel? Benny tak peduli. Kalau arwah Wulanlah yang memang benar-benar mengirimkan SMS ini, barangkali saat ini di dunia arwah juga telah mengenal internet dan situs porno!
   
Dengan perasaan nekat, Benny kemudian mencoba mengirimkan SMS balasan ke nomor ponsel Wulan. Ibu jarinya terasa gemetaran saat mengetikkan huruf demi huruf di keypad ponselnya. Benny sudah habis pikir. Orang yang hampir tenggelam juga berusaha menarik rumput meski ia tahu rumput takkan mampu menahan berat tubuhnya. Dan Benny merasa inilah satu-satunya jalan yang masih bisa dicobanya untuk menghindari ancaman maut yang menimpanya ini. Ia akan mencoba untuk menawar nyawanya!
   
“Maafkan aku. Apa yang bisa kulakukan agar kau tak membunuhku? Aku masih ingin hidup. Sekali lagi, maafkan aku.”
   
Begitu yakin isi SMSnya itu sudah mewakili apa yang ingin dikatakannya, Benny pun langsung  mengirimkan SMS itu ke nomor ponsel Wulan. Dengan hati berdebar ia memandangi layar ponselnya yang memperlihatkan proses pengiri-man SMS itu. Benny langsung menghembuskan napas lega begitu layar ponselnya menampilkan “Message sent” sebagai tanda kalau SMS yang barusan dikirimkannya telah sampai pada nomor yang dituju.
   
Meski tidak yakin dengan apa yang tengah dilakukannya ini, Benny merasa sedikit lega. Setidaknya dia telah mencoba segala upaya yang dia rasa bisa dilakukannya. Ia berharap arwah Wulan atau siapapun yang saat ini tengah memegang nomor ponsel milik Wulan itu bisa memahami ketakutannya dan mau bernegosiasi untuk nyawanya. Dengan perasaan berdebar-debar dia menunggu SMS balasan di ponselnya. Benny merasa apa yang tengah dilakukannya ini benar-benar konyol. Menunggu SMS balasan dari dunia arwah?
   
Benny sudah hampir putus harapan setelah sepuluh menit lebih tak ada balasan apapun untuk SMSnya yang barusan ia kirimkan. Tapi dua menit kemudian ponselnya kembali bernyanyi. Jantung Benny terasa berhenti berdetak saat itu. Ada sebuah SMS lagi yang masuk ke dalam ponselnya. Dengan perasaan yang lebih tak karuan dibukanya SMS itu.
   
“Keadilan harus ditegakkan. Ceritakan segalanya pada polisi dengan jujur. Jangan kurangi dan jangan ditambahi. Lakukan sekarang juga!”
   
Benny merasakan kepalanya berputar dan tubuhnya melayang. Apakah ini merupakan negosiasi itu? Apakah ini persyaratan agar dia masih bisa hidup? Tanpa pikir panjang lagi Benny sudah langsung memutuskan untuk melakukan permintaan itu. Kalau memang inilah yang diinginkan Wulan, Benny siap melakukannya sekarang juga asal nyawanya benar-benar tak dicabut, asal pem-balasan dendam terhadapnya benar-benar dilupakan dan Wulan tak mengganggu hidupnya lagi.

Oke, Benny menerima persyaratan itu. Segera disulutnya sebatang rokok untuk menenangkan perasaannya yang tak karuan. Perasaan takut, bingung, lega dan tak percaya bercampur menjadi satu, menggumpal dan mengaduk-aduk isi otaknya. Dengan hati yang berdebar ia menuju meja telepon dan segera mencari nomor telepon kantor Komandan Hendra di buku catatan telepon yang selalu ada di dekat pesawat telepon. Komandan Hendra pasti akan sangat berterima kasih pula dengan apa yang akan dilakukannya ini. O, rupanya kisah ini akan berakhir di sini…
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (67)