Misteri Pembunuhan Berantai

Kalau Benny harus menyusun semacam ranking ketakutan yang pernah dialaminya sepanjang hidupnya selama ini, maka ketakutan saat inilah yang akan menduduki ranking pertama. Inilah saat-saat paling mendebarkan, menakutkan, sekaligus paling mengerikan yang pernah dirasakannya. Betapa tidak? Dari tujuh orang yang selama ini kumpul bersama sebagai sahabat dekat, hanya dirinyalah yang saat ini masih bertahan hidup. Semuanya telah tewas terbunuh, atau setidaknya hilang entah kemana. Teringat akan hal ini, Benny pun menjadi teringat dengan Joshep.

Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan dirinya? Kemana dia menghilang? Rasanya Benny berani membayar berapa pun untuk bisa bertemu dengannya dan mendengarkan segala ceritanya. Tapi Benny merasa ia takkan mungkin lagi bisa bertemu dengan Joshep. Yang masih menjadi tanda tanya besar bagi diri Benny adalah; benarkah Joshep yang menjadi pelaku dari segala tragedi ini?

Kadang Benny meyakini itu, tapi ada saat-saat pikirannya tak bisa menerimanya. Seperti ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak tepat sebagaimana potongan-potongan dalam puzzle yang belum melekat pada tempatnya yang benar. Tapi kalau bukan Joshep, siapa? Apakah benar ini perbuatan arwah Wulan yang gentayangan? Benny masih sulit menerima kenyataan itu.
   
“Krrriiiiiiiiing…”
   
Suara dering telepon menyentakkan lamunannya. Benny tak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya. Paling wartawan-wartawan itu lagi, pikirnya dengan sebal. Tapi dering telepon itu tak juga berhenti. Biasanya mamanya yang mengangkat dan membohongi wartawan-wartawan itu dengan mengatakan Benny sedang keluar atau sedang tidur. Tapi sekarang mamanya sedang keluar dan belum pulang semenjak sore tadi.
   
Dering telepon itu berhenti sebentar, tapi kemudian berbunyi lagi. Benny jadi benar-benar sebal. Maka dengan sedikit jengkel dia pun bangkit dari sofanya dan melangkah menuju meja telepon.
   
“Halo,” sapanya dengan suara yang lesu.
   
“Selamat malam, bisa bicara dengan Ibu Kartika?” Suara laki-laki di seberang sana terdengar sangat resmi.       
   
“Dengan siapa ini?” Benny masih ogah-ogahan.
   
“Ini Pak Munir, dari perusahaan rekanan Ibu Kartika.”
   
“Maaf, Mama sedang keluar.” Benny kini berusaha agar suaranya terdengar sopan.  “Ada pesan?”
   
“Mohon sampaikan pada Ibu Kartika agar menunda barang pesanan kemarin karena stok gudang kami masih penuh. Kami akan memberikan kabar dua atau tiga hari lagi.” Penelepon itu kemudian meminta maaf karena menelepon malam-malam, dan Benny pun berjanji akan menyampaikan pesannya pada sang mama.
   
Baru saja Benny hendak berbaring-baring di sofanya kembali, kini giliran ponselnya yang berbunyi. Segera diambilnya ponselnya dan dibawanya ke sofa. Ada sebuah SMS yang datang. Benny menyandarkan tubuhnya pada sofa dan mulai membuka SMS itu dengan ogah-ogahan pula.
   
“Semuanya telah mati, dan sekarang giliranmu. Nantikanlah.”
   
Benny langsung menegakkan tubuhnya seketika saat menyadari siapa pengirim SMS itu. Sekujur badannya terasa dingin dan Benny merasakan keringatnya keluar dari setiap pori-pori kulitnya. Suatu perasaan ketakutan yang teramat sangat begitu kuat menyelubunginya. Apakah saatnya kini sudah datang?

Apakah sekarang gilirannya untuk menjemput kematian itu telah tiba? Sebelum ini Benny memang sudah sangat menyadari bahwa saat-saat seperti ini pasti akan datang kepadanya, bahwa ancaman terkutuk lewat SMS itu pasti akan diterimanya. Tapi kini Benny merasa tidak siap, dia ketakutan dan ingin sekali berontak. Tapi berontak pada siapa?
   
“Semuanya telah mati, dan sekarang giliranmu. Nantikanlah.”
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (66)