Misteri Pembunuhan Berantai

Akhirnya, karena merasa tak kuat lagi dengan berita-berita yang terus mengalir dan semakin mengada-ada, keluarga Henry pun kemudian memutuskan untuk mengungsi sementara ke luar negeri. Tapi kepindahan sementara ini pun kemudian dilaporkan dalam koran-koran sebagai ‘ketakutan’, karena mereka juga diancam pembunuh gila itu.
   
Di tengah hiruk-pikuk berita-berita yang simpang-siur itu, seseorang tersenyum menyaksikan ‘hasil karyanya’ terpublikasikan dengan begitu sensasional. Bibir-nya tersenyum. Dingin. Kalau saja mereka tahu tentang Wulan. Ya, kalau saja koran-koran dan tabloid gila sensasi itu tahu tentang Wulan dan SMS-SMS ancaman itu, tak terbayangkan lagi bagaimana besarnya mulut mereka!

***

BENNY merasakan ada yang selalu mengikutinya kemana pun dia pergi. Saat dia keluar dari rumah, ke kampus, ke supermarket, atau kemana pun, dia selalu merasa ada yang terus mengawasi. Perasaan itu terasa begitu kuat saat beberapa hari yang lalu dia ikut mengantarkan jenazah Henry ke pemakaman. Saat itu dia merasa terus dikuntit oleh seseorang dengan begitu dekat, tapi Benny sama sekali tak tahu siapa sebenarnya penguntitnya.

Kadang Benny mencoba menjebak penguntit sialan itu dengan cara seperti yang pernah dilihatnya dalam film-film spionase. Seperti kemarin, saat sedang membeli beberapa koran di supermarket, Benny sengaja memutar arah jalannya diantara rak-rak dengan harapan bisa berpapasan dengan penguntitnya. Tapi rupanya orang yang menguntitnya juga terbiasa nonton film-film spionase dan tahu bagaimana cara menghindari jebakan semacam itu.
   
Benny menjadi semakin resah. Kesadaran bahwa dia diikuti oleh seseorang membuat beban pikirannya bertambah. Saat ini dia tengah dipusingkan dengan koran-koran yang begitu agresif mengekspos kematian Henry dan rangkaian pembunuhan sebelumnya. Sebagai salah seorang sahabat dekat Henry, dan sekaligus satu-satunya yang masih hidup, Benny benar-benar telah menjadi incaran nomor satu dari nyamuk-nyamuk pers.

Setiap hari telepon di rumahnya berdering dan setiap saat ponselnya pun bernyanyi. Benny tentu menyadari bahwa salah seorang teman di kampusnya pasti telah disuap untuk memberikan nomor telepon rumah dan ponselnya pada wartawan-wartawan itu. Pada mulanya Benny mau memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mereka.

Tapi lama-lama dia muak karena setiap pertanyaan selalu sama atau terlalu mengada-ada, juga terkadang terkesan memojokkannya. Dan kini Benny seorang diri menghadapi serangan nyamuk-nyamuk pers yang seakan tak kenal lelah. Puluhan SMS masuk setiap hari ke dalam ponselnya karena Benny tak pernah menanggapi setiap telepon yang masuk. SMS-SMS itu pun tak pernah ditanggapi.
   
Kini, dia menyandarkan tubuhnya di atas sofa kesayangannya, mencoba mengendurkan urat sarafnya yang seakan terus-menerus menegang semenjak kematian Henry. Dia ingin melepaskan segala kekalutannya dan ingin memikir-kan nasibnya sendiri. Benny ingin menjernihkan pikirannya dengan melupakan segala yang membebani perasaannya. Tapi Benny juga tak bisa memungkiri hatinya sendiri yang gelisah, yang terus memikirkan segala yang tengah terjadi ini. Dan Benny juga merasakan takut…takut pada sesuatu yang sama sekali tak dipahaminya.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (65)