Misteri Pembunuhan Berantai

MUNGKIN kalau Henry bukan seorang anak pengusaha sukses yang kaya raya di kota itu, berita kematiannya takkan sesensasional seperti ini. Kematian tabrak lari di jalanan bukanlah sesuatu yang istimewa. Yang menjadikannya istimewa adalah karena kematian Henry kali ini juga menyisakan kisah-kisah lain yang menarik untuk ditulis di koran-koran kuning dan tabloid-tabloid yang haus sensasi.

Berita tentang adanya seorang waria di mobil Henry jelas menyimpan banyak pertanyaan menyangkut kehidupan seks anak pengusaha retail dan handycraft yang kaya raya itu. Sampai saat ini memang waria itu masih bungkam dan belum memberikan keterangan apapun menyangkut hubungannya dengan Henry. Tapi para wartawan tahu bagaimana cara menulis berita sensasional yang seakan-akan bersumber dari waria itu. Dan berita pun terus bersambung dengan menghubung-hubungkan segala sesuatu yang menyangkut diri Henry.

Tabloid-tabloid sensasi kemudian mengendus adanya semacam kematian berantai diantara Henry dengan teman-teman dekatnya. Satu berita selalu berkembang dan terus ditambah dengan bumbu-bumbu penyedap di sana-sini. Tanpa narasumber yang jelas dan terkesan hanya berdasarkan spekulasi semata, koran-koran itu begitu lancar memberitakan tentang Henry yang menjadi salah satu korban dari sebuah pembunuhan berantai.

Di antara mereka kemudian ada yang berhasil melacak teman-teman Henry dan mendapatkan fakta bahwa korban-korban pembunuhan beberapa waktu yang lalu memang teman-teman dekat Henry yang biasa ngumpul setiap malam minggu. Satu koran menyebutkan korban yang meninggal dari pembunuhan berantai ini sudah mencapai sembilan orang, sementara koran yang lain menyebutkan hanya enam orang. Ada juga tabloid yang menyodorkan tujuh orang sebagai ‘yang telah menjadi korban’.
   
Koran-koran itu menanyakan; ada apa di balik pembunuhan berantai ini? Mengapa polisi sampai saat ini belum juga berhasil menangkap pembunuh sadis itu? Mengapa hukum di negeri ini seringkali tak bisa menindak tegas setiap kejahatan? Dan mereka juga mengingatkan para pembacanya agar selalu berhati-hati bila keluar rumah karena setiap saat nyawa bisa melayang, karena seorang pembunuh gila sedang bergentayangan dengan bebas, karena teror maut mengintai di mana-mana.

Mereka menyodorkan kisah teman-teman Henry yang terbunuh di rumahnya masing-masing. Hati-hati, maut ada di dekatmu! Peringatan semacam ini tentu menimbulkan keresahan tersendiri bagi para pembaca koran-koran itu. Tapi setiap berita selalu diburu setiap kali menimbulkan keresahan, dan koran-koran itu pun semakin laris, semakin naik oplah, semakin banyak menjaring iklan. Berita buruk adalah berita baik!
   
Keluarga Henry yang menyaksikan semua itu merasa begitu tertekan. Hal yang paling membuat mereka gusar, sedih dan malu adalah berita tentang keberadaan seorang waria dalam mobil Henry yang terus-menerus disebut oleh koran-koran itu. Mereka memang telah menghubungi waria itu dan memberikan peringatan serta pengertian untuk tutup mulut terhadap semua wartawan. Tapi koran-koran dan tabloid itu begitu lihai menyusun laporannya!
   
Setiap hari, bahkan hampir setiap jam, telepon di rumah mereka berdering dan selalu ada wartawan yang menanyakan perihal kematian Henry. Berkali-kali mereka menjawab bahwa kematian Henry adalah kematian yang biasa, sebuah kematian tabrak lari yang sama sekali tak istimewa. Tapi wartawan-wartawan itu terus saja menghubung-hubungkan kematian Henry dengan rangkaian kematian teman-temannya. Salah satu tabloid bahkan menyebutkan kalau Henry dan teman-temannya yang terbunuh itu telah terjebak masuk dalam sebuah sekte aliran sesat.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (64)