Misteri Pembunuhan Berantai

Maka segera dipencetnya nomor Joshep, dan dengan sedikit berdebar dia menantikan hubungan tersambung. Apa yang akan dikatakan Joshep? Tapi kemudian Benny langsung memaki dalam hati ketika suara klise menyapanya, “nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Silakan tunggu beberapa saat…”

***

KOMANDAN Polisi Hendra duduk di kursi dengan gelisah. Kertas-kertas kerja yang menumpuk di hadapannya sama sekali tak dihiraukannya. Dia lebih asyik memandangi pesawat interkom di mejanya dan berharap pesawat itu segera berbunyi untuk menyampaikan sesuatu. Dia memang telah menugaskan beberapa anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitar rumah Benny meski Benny sama sekali tak meminta, bahkan terkesan menolaknya.

Bagaimana pun juga Komandan Hendra menguatirkan keselamatan Benny. Apalagi mengingat keponakannya sendiri, Wawan, yang akhirnya tewas dengan cara yang sangat mengerikan, Komandan Hendra semakin was-was dengan keselamatan Benny. Saat ini cuma Benny yang masih bisa terpantau. Cuma dialah yang masih dalam keadaan segar-bugar. Tapi Komandan Hendra menyadari bahwa setiap saat Benny bisa saja terbunuh sebagaimana teman-teman dekatnya yang lain dengan alasan yang sampai saat ini belum diketahuinya.

Ia ingin Benny terselamatkan dari segala macam ancaman maut, lalu bila segalanya telah berjalan normal kembali, dia akan mengorek segala keterangan tentang semuanya ini. Ia ingin tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi ini dan bagaimana bisa terjadi. Nalurinya sebagai seorang polisi tentu merasa gemas dengan keadaan semacam ini. Ia bisa saja menggunakan kekuasaannya untuk menahan Benny, lalu memaksanya untuk membongkar semuanya ini demi memuaskan keingintahuannya agar kerjanya bisa lebih mudah dalam menangkap pembunuh gila yang sampai saat ini belum teridentifikasi itu.

Tapi perasaannya sebagai seorang bapak begitu lembut dan sangat bisa memahami bagaimana perasaan Benny saat ini. Komandan Hendra bisa merasakan bagaimana kacaunya pikiran Benny menjalani kenyataan seperti ini, bagaimana galaunya Benny menyaksikan teman-temannya satu-persatu terbunuh dan dia sadar bahwa dia sendiri pun terancam. Kalau sampai saat ini Benny masih juga belum mau mengungkapkan segala kejadian yang tengah menimpa dia dan teman-temannya, sekali lagi, Komandan Hendra masih berusaha untuk bisa memahami dan memakluminya.

Anak lelakinya pun juga sama seperti itu, selalu menyimpan segala persoalan yang tengah dihadapinya untuk dirinya sendiri dan tak mau orang lain ikut campur. Tapi begitu persoalan itu selesai, anaknya pun dengan lancar akan menceritakan semuanya dari awal sampai akhir dan dia merasa bangga karena telah berhasil menyelesaikan persoalannnya dengan baik seorang diri. Komandan Hendra tentu sangat menyadari bahwa persoalan yang tengah dihadapi Benny saat ini jelas berbeda dengan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh anak lelakinya.

Tapi sebagai seorang bapak, Komandan Hendra pun rasanya ingin melihat Benny bisa menyelesaikan persoalannya ini dengan baik agar dia juga kelak bisa menceritakan semuanya dengan bangga karena merasa bisa menuntaskan permasalahannya seorang diri. Toh dia pasti akan meminta bantuan juga bila ternyata memang tak mampu mengatasi permasalahan itu.

Yang bisa dilakukan Komandan Hendra saat ini hanyalah memberikan pengawasan ketat pada setiap langkah Benny dan terus menjaganya agar selamat dalam melewati saat-saat yang mengerikan ini. Tapi, bagaimana kalau justru Bennylah sebenarnya pembunuh itu…?
   
Pesawat interkom di hadapannya berbunyi dan Komandan Hendra menekan sebuah tombol penerima.
   
“Sasaran keluar rumah, Pak,” suara di interkom.
   
“Ikuti!” ucap Komandan Hendra dengan tegas. “Jangan sampai lepas sedetik pun.”
   
“Laksanakan!”
   
Komandan Hendra mendesah. Disandarkannya tubuhnya pada kursi dan matanya terpejam dengan rapat. Dahinya berkerut tanda dia sedang berpikir keras. Bagaimana semuanya ini akan berakhir…?

Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (63)