Misteri Pembunuhan Berantai

BENNY mengantarkan dua orang polisi yang kini telah dikenalnya itu sampai di depan pintu. Sebelum mereka berpisah, salah seorang diantaranya masih juga mengingatkan, “Anda benar-benar tak merasa perlu penjagaan untuk keamanan Anda?”
   
“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Anda,” jawab Benny dengan sopan. “Tapi saya masih merasa aman.”
   
Komandan Polisi Hendra mengangguk tapi tak segera berlalu dari hadapan Benny.
   
“Anda yakin tak ada lagi yang ingin Anda sampaikan pada kami?” katanya kemudian.
   
“Saya merasa telah menyampaikan semua yang saya tahu.” Sampai saat ini Benny masih belum berani untuk mengungkapkan semuanya pada polisi-polisi itu. Ia masih harus memikirkannya masak-masak sebelum melakukan itu.
   
“Kami berharap Anda bersedia melaporkan segala sesuatu pada kami bila sewaktu-waktu ada yang terjadi.”
   
“Tentu,” jawab Benny, masih dengan sikapnya yang sopan.
   
Begitu mereka benar-benar berlalu dari hadapannya, Benny segera menutup pintu dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Kalau saja polisi-polisi itu tak sesopan ini, pikir Benny, mungkin dia sudah malas untuk menemuinya. Sampai hari ini, sampai pada kunjungan polisi yang keempat tadi, Benny masih mencoba menyimpan semua fakta yang sesungguhnya terjadi.

Dia memang butuh keamanan, membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalahnya. Tapi ia belum berani memutuskan untuk mengungkapkannya pada polisi dan masih mencoba untuk menyelesaikan masalahnya dengan otaknya sendiri. Yang masih menjadi beban berat dalam pikirannya adalah; kalau dia sampai membongkar semua yang tengah terjadi ini, itu artinya dia harus menceritakan segalanya dari awal, dari Wulan, dan itu sama artinya dengan memasukkan dirinya sendiri ke dalam penjara. Itu yang terus-menerus menghantui diri Benny, yang selalu menghadir-kan bayangan ketakutan siang dan malam.

Penjara bagi Benny terasa lebih menakutkan dari ancaman maut Wulan yang bisa datang sewaktu-waktu. Benny sudah berulangkali mengkalkulasi; kalau penyebar teror maut ini benar-benar Wulan, maka pengakuannya kepada polisi tak akan ada artinya karena, seperti yang pernah dikatakan Wawan saat dia masih hidup dulu, Wulan pasti dapat menjemputnya meski ia ada dalam penjara yang paling terasing sekalipun.

Tapi kalau pembunuh berantai ini bukanlah Wulan, dalam arti manusia biasa yang hanya saja belum diketahui identitasnya oleh Benny, maka Benny masih bisa berharap dia akan selamat. Dia merasa mampu menghadapi pembunuh itu kalau dia benar-benar manusia. Berdasarkan perhitungan semacam inilah, Benny masih memutuskan untuk tetap merahasiakan segala yang terjadi ini pada polisi.
   
Ponselnya yang tiba-tiba berbunyi menyentakkan pikiran Benny. Ia mengerut-kan keningnya dengan perasaan was-was. Apakah teror untuknya telah datang? Apakah itu SMS dari Wulan? Apakah maut kini telah menunggunya?
   
Dengan berdebar-debar Benny melangkah ke arah bufet tempat ia meletakkan ponselnya. Perasaannya langsung lega begitu melihat nama Fitria tertampil di layar ponselnya. Segera diterimanya panggilan itu.
   
“Ya, Fit?”
   
“Ben, dimana kamu?” Suara Fitria terdengar sedikit serak.
   
“Aku di rumah, Fit.” Benny langsung merasakan sesuatu yang telah terjadi. “Bagaimana kabar Henry?”
   
“Ben, dia…Henry telah meninggal satu jam yang lalu.”
   
Sudah kuduga…! Benny menghela napas. “Aku turut berduka cita…”
   
Begitu Fitria memutuskan hubungan, Benny segera menghubungi ponsel mamanya dan mengabarkan kematian Henry.
   
“Mama heran, Ben, kenapa sih teman-temanmu pada meninggal satu-persatu?” tanya mamanya seakan tanpa sedih sama sekali.
   
Benny menjawab dengan dongkol. “Tanya ke malaikat saja, Ma.”
   
Setelah hubungan lewat ponsel dengan mamanya juga telah terputus, Benny juga punya semacam keinginan untuk menghubungi Joshep, untuk mengabarkan kematian saudara sepupunya ini. Sampai saat ini Benny memang sama sekali tak tahu bagaimana dan di mana Joshep saat ini. Tapi bukankah dia masih memiliki nomor ponsel Joshep? Tak ada salahnya untuk dicoba, pikir Benny.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (62)