Misteri Pembunuhan Berantai

“Saya boleh masuk, Dok?” sapanya penuh harap pada seorang dokter yang tengah mencatat sesuatu di sisi Henry berbaring.
   
Dokter itu mengangguk. “Silakan. Tapi belum boleh terlalu lama.”
   
Begitu dokter itu keluar dari ruangan, Benny segera menarik sebuah kursi dan mendekatkannya ke tempat tidur Henry. Dari jarak yang begitu dekat seperti ini, Benny bisa melihat dengan lebih jelas luka-luka yang diderita Henry. Luka-luka itu hampir menutupi seluruh tubuh Henry.

Kain-kain perban yang digunakan untuk menutupinya pun seakan telah berganti warna menjadi merah. Satu kakinya diikat dengan lempeng, menunjukkan ada tulang yang patah. Begitu pula dengan tangannya yang sebelah kanan. Kepala Henry pun terikat kuat dengan perban yang juga telah berubah warna menjadi merah.
   
“Wulan…” desis Henry tiba-tiba dengan suara yang tak terlalu jelas.
   
Benny menatapnya, berharap Henry membuka mata dan menyadari keber-adaannya.
   
“Wu…lan…”
   
“Hen…” Benny berbisik perlahan di dekat telinga Henry. “Hen…”
   
“Wulan…”
   
“Hen, ini aku… Benny…”
   
Dengan perlahan sekali, kedua mata itu mulai terbuka. Tapi kemudian menutup kembali. Benny kembali memanggil nama Henry dengan lirih, berharap Henry kembali membuka matanya.
   
“Hen… Ini Benny, Hen, sahabatmu…”
  
Henry kembali membuka matanya. Mata itu seperti tidak menunjukkan kesadaran. Henry terlihat tengah menatap Benny yang ada di dekatnya.
   
“Ini Benny, Hen…”
   
Henry hanya diam sambil terus menatap ke arah Benny. Lalu, “Wu...lan…”
   
Benny ingin terus menggugah kesadaran Henry dan ingin sekali menanyakan banyak hal kepadanya. Tapi dokter yang menjaganya kembali muncul dan meminta Benny untuk segera keluar dari ruangan itu.
   
Di luar ruangan, Fitria telah menunggunya. Setelah agak jauh dari tempat duduk kedua orang tuanya, Fitria berbisik, “Ben, tolonglah bawa Wulan kesini. Mungkin kehadirannya bisa sedikit membantu kesadaran Henry.”
   
“Tidak mungkin, Fit,” jawab Benny dengan tercekat.
  
“Kalau begitu, temukan aku dengannya. Biar aku yang bicara padanya.”
   
“Tidak…itu tidak mungkin, Fit.”
   
“Kenapa, Ben?”
   
“Dia…Wulan…sudah mati.”
   
“Apa?” Fitria merasakan tubuhnya seakan mau pingsan mendengar itu. “Kamu tidak sedang bercanda kan, Hen?”
   
“Suer, Fit. Dia benar-benar telah meninggal, lebih dari satu bulan yang lalu.” Benny menjawab itu dengan perasaan yang begitu getir.
   
“Tapi bagaimana dia bisa mengirim sms buat Henry? Itu mustahil, Ben!”
   
“Aku juga tak bisa percaya pada mulanya, Fit. Tapi sebelum mengirim sms ke Henry, dia juga telah mengirim sms ke teman-teman yang lain.”
   
“Dan kemudian mereka terbunuh?” Fitria langsung menyimpulkannya. Lalu dengan suara yang merenung dia berujar, “pantas Henry begitu ketakutan saat mendapatkan sms itu…”
   
Benny hanya membisu, tak menanggapi ucapan Fitria.
   
“Kamu yakin ini bukan ulah orang iseng, Ben?”
   
“Orang iseng tidak akan sampai membunuh, Fit.”
   
“Ceritakan padaku semuanya, Ben.”
   
Benny mendesah. “Aku tak bisa, Fit.”
   
“Ben, ini menyangkut Henry, menyangkut kakakku. Kamu harus menceritakan-nya, Ben!”
   
“Aku benar-benar tak bisa, Fit.”
   
“Kamu tak mempercayaiku?” Fitria kelihatan sangat kesal.
   
“Aku bukannya tak mempercayaimu,” jawab Benny langsung. “Aku tak berani menceritakan semua ini kepadamu karena aku takut... Aku takut kamu juga akan ikut terbunuh…”

Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (61)