Misteri Pembunuhan Berantai

“Jelas saja aku tak mengenalnya. Siapa sebenarnya dia, Ben?” Fitria mulai mendesak. “Apakah…apakah dia punya hubungan dengan kematian teman-teman kalian dan juga kecelakaan Henry ini?”
   
“Aku tak bisa menjawabnya, Fit. Aku benar-benar tak tahu.”
   
“Tapi kamu tahu siapa dia, kan?”
   
“Wulan? Seperti yang aku bilang tadi, dia bisa disebut sebagai salah satu teman kami.”
   
“Asli perempuan?”
   
“Maksudmu?” Benny terbelalak mendengar pertanyaan itu.
   
“Kamu benar-benar belum tahu?” Fitria kemudian melirihkan suaranya. “Sudah beberapa kali aku memergoki Henry sedang berkencan dengan waria. Kamu benar-benar tak tahu itu, Ben?”
   
“Apa?!” Benny nyaris tak bisa mempercayai pendengarannya. “Kamu serius kan, Fit?”
   
“Aku juga nyaris tak percaya waktu pertama kali melihatnya, Ben. Aku memang tahu kalau Henry suka gonta-ganti cewek, tapi kalau berkencan dengan waria, aku sama sekali belum pernah membayangkannya.”
   
“Kapan pertama kali kamu melihat itu?”
   
“Aku sudah lupa kapan waktunya. Tapi yang jelas setelah kematian Hakim dan hilangnya Rexi teman kalian itu. Aku pertama kali melihatnya di Taman Sewu. Waktu melihat mobilnya parkir di sana, aku kira dia sedang kencan dengan cewek seperti biasa. Tapi ternyata yang keluar kemudian seorang waria. Aku benar-benar tak salah lihat waktu itu.”
   
Benny terdiam mendengar penjelasan itu.
   
Fitria kemudian melanjutkan, “lalu aku kembali memergokinya kencan dengan waria-waria yang lain setelah itu. Aku pernah mencoba menanyakan hal itu secara langsung dengan Henry, tapi dia malah marah-marah. Aku tahu dia tentu malu mengenai itu. Lalu, lain hari aku pernah menyarankannya agar konsultasi dengan psikiater. Dia tak peduli. Dia malah mengancamku agar tak membongkar rahasianya ini. Dia juga mengatakan dengan marah bahwa penyimpangannya itu gara-gara Wulan. Aku tak sempat menanyakan siapa Wulan itu kepadanya karena waktu itu dia sedang marah sekali.”
   
Benny menyadari bahwa tentu Fitria takkan membuka semuanya ini jika Henry saat ini tidak sedang terkapar dalam keadaan koma. Benny juga menyadari bahwa Fitria bersedia menceritakan persoalan ini karena dia mempercayai Benny sebagai salah seorang famili dekatnya. Tapi Benny masih ragu apakah dia harus menceritakan Wulan juga kepada Fitria?
   
“Ben, sekarang aku ingin tahu siapa sebenarnya Wulan. Pacar Henry?”
   
Benny hanya menggelengkan kepalanya. Fitria kemudian mendesah dan meng-angkat bahunya dengan lemah.
   
“Dimana Henry kecelakaan, Fit?” tanya Benny kemudian agar Fitria tak terus-menerus bertanya soal Wulan. “Menurut pembantu rumahmu, Henry kecelakaan tadi malam.”
   
“Dia sedang keluar dari rumah makan saat sebuah mobil melaju kencang menabraknya.”
   
“Henry sendirian?”
   
“Tidak. Dia bersama teman kencannya yang waria.”
   
“Oh?” Lagi-lagi Benny harus menahan napas.
   
“Teman kencannya selamat karena masih ada di dalam mobil. Sekarang mungkin masih ditahan polisi. Tapi Henry langsung terkapar di aspal dan penabraknya langsung lari.”
   
Benny mengangguk-anggukkan kepalanya. “Antarkan aku ke ruang Henry, Fit.”
   
Fitria menurut, lalu mereka berjalan berdampingan tanpa banyak bicara menuju ruangan tempat Henry saat ini terbaring koma. Benny melihat dua orang tua Henry yang sedang duduk lunglai di atas kursi. Ibu Henry terlihat masih menangis sesenggrukan. Benny menemui mereka sejenak sebelum kemudian mendekati ruang tempat Henry dirawat.
   
Benny menahan napas saat melihat Henry dari balik kaca ruangannya. Henry terlihat begitu mengenaskan. Tubuhnya terbaring tak bergerak dengan balutan kain perban di sana-sini, sementara selang-selang infus bertebaran di sekitar tubuhnya.
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (60)