Misteri Pembunuhan Berantai

Rumah Sakit Karya Bhakti terlihat sibuk seperti biasa. Di halaman depan nampak puluhan mobil dan sepeda motor berjejer rapi, sementara di paviliun nampak beberapa orang dokter dan suster yang sedang berjalan cepat kesana-kemari. Benny memarkir mobilnya di tempat parkir kemudian berlari menuju ruang resepsionis.

Benny harus sabar menunggu sejenak sampai orang-orang yang juga sibuk di depan loket resepsionis itu menyingkir satu-persatu. Rumah sakit ini memang memberikan kebebasan pada pengunjung untuk menjenguk para pasien tanpa memberikan jam kunjungan khusus. Begitu gilirannya tiba, Henry langsung menyebutkan nama pasien yang akan dikunjunginya.
   
“Henry Sulistyo?” Petugas di bagian resepsionis itu memastikan nama Henry, lalu mencari di buku datanya. “Pasien ada di ruang Dahlia, kelas satu.”
   
Benny segera melesat setelah mengucapkan terima kasih. Ia berjalan dengan tergesa-gesa, melewati orang-orang lain yang juga tengah berlalu lalang. Benny sempat berpikir, rumah sakit ini lebih mirip dengan swalayan! Membelok ke arah kanan, Benny kemudian harus naik tangga untuk menuju ruang Dahlia yang ada di lantai atas. Baru setengah jalan Benny menaiki tangga, dia berpapasan dengan Fitria, adik Henry, yang tengah melangkah turun dengan muka yang sembab.
   
“Fit…?” Benny menyapa dengan bingung.
   
Fitria yang melihat Benny langsung mendekat. Dia mencoba tersenyum tapi senyumnya begitu kaku.
   
“Aku barusan ke rumahmu dan diberitahu pembantumu kalau Henry dirawat di sini.”
   
Fitria hanya mengangguk.
   
“Bagaimana keadaannya, Fit?”
   
“Dia masih belum sadar, Ben.” Fitria kelihatan hampir menangis. “Dia masih koma,” jawabnya kemudian.
   
Benny mendesah dan Fitria mengusap air matanya yang kembali turun. Benny hendak merangkulnya dan membawanya kembali ke atas, tapi Fitria malah menariknya untuk turun ke bawah. Benny yang masih bingung hanya menurut saat lengannya seperti ditarik oleh Fitria. Mereka berjalan menuruni tangga, lalu masuk ke ruang lobi. Fitria menariknya masuk dan kemudian mereka duduk berdekatan di suatu sudut yang lengang.
   
“Ada yang perlu kutanyakan padamu, Ben.” Fitria mulai buka suara setelah mengusap air mata dengan saputangannya.
   
“Tentang?”
   
“Wulan,” jawab Fitria langsung.
   
“Apa…?” Mau tak mau Benny terbelalak mendengar Fitria menyebut nama Wulan. Dari mana dia kenal Wulan?
   
“Siapa dia, Ben?”
   
“Kamu juga mengenalnya?” tanya Benny tanpa menjawab pertanyaan Fitria.
   
“Aku hanya tahu namanya karena sudah beberapa malam ini Henry selalu mengigau menyebut-nyebut nama Wulan dalam tidurnya. Saat ini pun dia masih juga menyebut nama itu dalam komanya. Dan, lihat ini.” Fitria mengambil sebuah ponsel dari saku celananya dan setelah membuka menu message di dalamnya, disodorkannya ponsel itu pada Benny.
   
Benny menerimanya dengan hati berdebar. Tak salah lagi, Henry rupanya juga telah menerima SMS ancaman dari Wulan. Dibacanya SMS yang ada di layar ponsel itu. Sebuah SMS yang singkat, tapi Benny langsung tahu apa maknanya. “Aku akan menjemputmu. Wulan.”
   
“Siapa Wulan, Ben?” Fitria mengulangi pertanyaannya.
   
Benny tak langsung menjawab. Lalu, “aku hanya bisa menyebutkan bahwa dia teman kami.” Brengsek, apakah pembunuh sadis ini layak kusebut teman?
   
“Mengapa Henry harus ketakutan saat mendapatkan sms darinya?”
   
“Oh ya?” Benny hanya menanggapinya secara asal-asalan.
   
“Kemarin pagi, ada dua orang polisi yang menemui Henry.” Fitria mulai bercerita. “Salah seorang di antara mereka sempat membaca sms itu karena kebetulan ponsel Henry ada di dekatnya dan menganggap itu sms yang biasa. Tapi begitu Henry membacanya, dia langsung terlihat ketakutan. Salah seorang polisi itu mencoba menanyakannya pada Henry, tapi dia malah semakin ketakutan. Siang harinya aku ditelepon oleh polisi itu dan ditanyai tentang Wulan, apakah aku mengenalnya.”
   
“Lalu?”
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (59)