Misteri Pembunuhan Berantai

Brengsek! Benny menekan pedal remnya kuat-kuat sambil memaki keras-keras saat seorang penyeberang yang ceroboh menyeberang jalan tanpa tengok kiri-kanan.
   
Sambil terus menjalankan mobilnya, Benny mengambil rokok dan mulai menyulutnya dengan korek gas. Kerongkongannya yang kering terasa sedikit pedih saat asap rokok itu terhisap lewat mulutnya. Tapi ia tak peduli. Ia butuh menenangkan pikiran, dan rokok biasanya bisa sedikit membantunya.
   
Mau kemana sekarang? Kembali ke kampus? Benny merasa sudah tak berselera melihat kampusnya, apalagi bila harus mendengarkan kuliah manajemen yang tadi telah membosankannya. Mau pulang? Benny membayangkan rumahnya yang sepi dan lengang, dan ia merasa takut bila harus sendirian saat ini.

Bisa saja dia terbunuh di rumahnya sendiri, dan Benny menganggap itu sesuatu yang konyol. Betapa tidak? Hakim terbunuh di rumahnya sendiri. Rexi terbunuh di rumah Joshep. Farid dan Wawan juga terbunuh di rumahnya masing-masing. Apakah ajalnya sekarang juga telah menanti di rumahnya sendiri? Dan lalu, apakah semua ini menyiratkan sesuatu yang sebelumnya tidak ia pahami?
   
Benny menggelengkan kepalanya dengan bingung. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Henry. Hanya Henrylah saat ini yang masih hidup. Saudara sepupunya itu pasti belum tahu tentang kematian Wawan. Sedang apa dia siang ini? Henry pasti akan terkejut sekali mendengar semua yang akan diceritakannya ini. Semenjak kepergian mereka ke paranormal beberapa hari yang lalu, Henry seperti mulai menjaga jarak dengan sahabat-sahabatnya.

Benny menyadari bahwa bukan hanya Henry saja yang terlihat menjaga jarak. Mereka semua memang terkesan menjaga jarak satu sama lain gara-gara peringatan dari paranormal itu. Masing-masing merasa curiga dengan yang lain meski di permukaan mereka mencoba untuk tetap bersikap biasa. Tapi diantara semuanya, hanya Henrylah yang paling nampak sikap jaga jaraknya. Ia tak mau kumpul lagi dengan yang lain dan terus menyendiri. Tak ada seorang pun diantara mereka yang tahu apa kegiatan Henry selama ini.

Di kampus pun Henry menjadi jarang kelihatan. Apakah dia ketakutan? Benny tersenyum kecut. Sudah jelas Henry merasa takut. Sebagaimana yang lain, Henry juga tentu merasa takut karena setiap saat bisa saja Wulan mengancamnya dan tiba-tiba membunuhnya. Lagi-lagi Wulan! Benny menjadi benar-benar muak dengan nama itu. Mengapa semuanya selalu kembali pada Wulan?
   
Rumah Henry terlihat begitu sepi. Benny turun dari mobil dan mulai memencet bel rumah. Tak ada yang keluar. Dia kembali menekan bel dengan keras berulangkali. Lalu muncul pembantu yang datang tergopoh-gopoh dari pintu samping.
   
“Eh, Den Benny. Kok baru kelihatan,” sapa pembantu itu yang telah mengenal Benny sebagai salah satu famili keluarga Henry.
   
“Henry ada, Bi?” tanya Benny langsung.
   
“Lho, belum dengar, tho?”
   
“Dengar apa?” Benny menjadi bingung.
   
“Semalam Den Henry mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit.”
   
“Dimana kecelakaannya?” Benny mulai merasakan suatu perasaan yang tidak enak.
   
“Saya nggak tahu tuh, Den. Saya hanya dikasih tahu kalau sekarang Den Henry sedang dirawat di rumah sakit.”
   
“Di rumah sakit apa?”
   
“Kalau nggak salah, di rumah sakit Karya Bhakti.”
   
Maka tanpa tunggu waktu lama-lama lagi Benny segera berlalu dari situ dan segera memacu mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Henry dirawat. Dia merasakan tangannya berkeringat dan stir mobilnya menjadi terasa licin. Benny mengelap kedua telapak tangannya dengan saputangan dan kemudian kembali menyulut rokoknya.

Dia merasakan bukan telapak tangannya saja yang bekeringat, tapi sekujur tubuhnya pun terasa berkeringat dingin. Bahkan bulu kuduknya mulai meremang seiring dengan rasa takut yang teramat sangat yang mulai tumbuh dalam hatinya. Apa-apaan ini? Benny merasakan pikirannya telah menjadi buntu dan ia seakan tak bisa berpikir lagi.

Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah memacu mobilnya secepat mungkin untuk bisa sampai di rumah sakit. Semoga saja dia masih bisa melihat Henry dalam keadaan hidup, separah apapun keadaannya!
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (58)