Misteri Pembunuhan Berantai

Sampai di depan pintu rumah, Benny semakin merasa bimbang. Suatu perasaan ketakutan dan kengerian tiba-tiba menyergap dirinya. Dia ragu-ragu untuk masuk. Bagaimana kalau pembunuh itu masih ada di dalam rumah dan telah menunggu-nya untuk membantainya pula? Apakah ini semacam jebakan untuk memancing-nya datang ke sini? Berpikir seperti itu membuat Benny semakin gentar untuk memasuki rumah Wawan. Ia masih saja berdiri mematung di depan pintu.

Di dalam rumah tak terdengar suara apapun selain…hei, suara apa itu? Benny menajamkan pendengarannya. Dari dalam rumah itu memang terdengar suatu suara yang tak begitu jelas didengarnya. Lagi-lagi Benny berpikir, apa sebenarnya yang terjadi pada Wawan? Akhirnya dia nekat. Ia memberanikan diri untuk memasuki rumah Wawan. Kalau memang sesuatu telah terjadi pada Wawan, Benny berharap dia masih dapat menolongnya!
   
Ruang tamu juga lengang dan tak ada apapun yang mencurigakan. Benny memberanikan diri untuk masuk ke ruang tengah. Dan tanpa harus mencari-cari, Benny langsung melihat apa yang seharusnya dia lihat sejak tadi. Di ruang tengah itu, di atas lantai yang bersih, nampak sesosok tubuh tergeletak bermandikan darah dan api!
   
“Astaga…” Benny membelalakkan matanya seakan tak percaya.
   
Tubuh di atas lantai itu nyaris tak bisa dikenali lagi. Seluruh bagian tubuhnya penuh dengan luka-luka menganga dan kepalanya hampir pecah. Wajahnya sudah sulit dikenali karena telah benar-benar hancur. Darah ada dimana-mana.

Percikan-percikan darah itu bahkan ikut membasahi ponsel kecil milik Wawan yang tergeletak tak jauh dari mayat itu. Akhirnya Wawan ikut terbunuh, batin Benny dengan perasan getir. Bahkan pembunuhan yang menimpanyalah yang paling sadis di antara semua.
   
Api yang membakar mayat Wawan nampak semakin besar. Hidung Benny mencium aroma daging yang terbakar. Apa yang sekarang harus dilakukannya? Benny seakan tak bisa bergerak menyaksikan pemandangan yang teramat mengerikan itu. Kakinya seakan telah dipaku dengan lantai hingga ia benar-benar hanya bisa berdiri mematung dengan pandangan yang tak percaya.

Seharusnya ia mengambil air dan segera menyiram api yang membakar mayat itu! Seharusnya ia segera menelepon polisi dan memberitahukan kejadian ini! Seharusnya dia segera bergerak memeriksa seluruh ruangan rumah untuk mencari si pembunuh yang barangkali saat ini sedang bersembunyi! Seharusnya ia segera meninggalkan rumah itu sebelum ada orang yang memergoki dan menuduhnya! Seharusnya…
   
Benny merasakan pikirannya begitu kacau. Apa yang harus ia pilih untuk dilakukannya? Ia kemudian berpikir bahwa semakin lama ia berada di sini, semakin besar risiko yang harus dihadapinya. Bagaimana kalau si pembunuh itu saat ini juga sedang mengincarnya? Dia melihat Benny sementara Benny sama sekali tak melihatnya! Selain itu, bagaimana jadinya kalau ada orang yang memergokinya di sini dan kemudian menuduhnya sebagai pelaku pembunuhan sadis ini?

Maka Benny pun segera berbalik untuk mengambil langkah seribu. Ia lebih memilih aman dari pada harus menghadapi risiko yang macam-macam. Benny berlari menuju mobilnya dan segera memacunya meninggalkan rumah Wawan. Semoga saja tak ada yang melihatku, pikirnya dengan keringat dingin yang bercucuran. Mobil itu terus meluncur di jalanan tanpa Benny tahu kemana harus menuju.

Salah seorang sahabatnya yang diharapkannya bisa memecahkan persoalan besar ini kini juga telah tewas. Tinggal dia dan Henry yang masih hidup. Joshep…? Benny tak tahu apakah dia masih hidup ataukah sudah mati. Bahkan Benny pun bimbang apakah Joshep termasuk korban ataukah pembunuh-nya. Rasanya Benny ingin, sangat ingin sekali, bertemu dengan Joshep dan menanyakan semuanya ini. Tapi, di manakah dia…?
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (57)