Misteri Pembunuhan Berantai

KULIAH manajemen menjadi terasa membosankan bagi Benny siang itu. Grafik-grafik yang tengah digambar dosennya di whiteboard tidak lagi mampu menarik minatnya. Ia merasakan perasaannya tak enak dan ia ingin lekas pulang. Apa sebenarnya yang tengah dirasakannya ini? Seperti ada sebuah firasat aneh melingkupi hatinya.

Benny mencoba memusatkan konsentrasinya pada whiteboard yang penuh dengan grafik dan coretan-coretan dosen, tapi konsentrasinya selalu buyar. Kuliah manajemen yang selalu menarik minatnya ini, entah mengapa hari ini terasa menjadi membosankan. Bahkan beberapa kali Benny terlihat menguap.
   
Benny menatap ke sekeliling dan melihat teman-temannya yang tengah berkonsentrasi dengan khusyuk. Lalu dia merasakan ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Benny memang sengaja mematikan bunyi ponselnya dan hanya menggunakan nada getar karena selama kuliah dilarang ada ponsel yang berbunyi. Dirogohnya ponselnya, lalu dilihatnya nama Wawan tampil di layar ponselnya. Benny mengerutkan keningnya. Ada apa dengan Wawan? Dia segera bangkit dari kursinya, lalu minta ijin pada dosennya untuk keluar sebentar.
   
“Halo Wan, tumben nelepon siang gini,” sapanya begitu hubungan tersambung.
   
“Ben, tolong aku… Aku…” suara Wawan terdengar parau seperti sedang menahan sakit.
   
“Ya, Wan? Kamu kenapa…?” Benny langsung panik mendengar suara Wawan.
   
“Aku…telah tahu siapa pembunuh itu… Dia… Aaahhh…!”
   
Benny seperti mendengar suara gaduh di seberang sana. “Kamu…kamu dimana, Wan…?!”
   
“Aku di rumah… Tolong…tolong aku, Ben… Aku…aku mau dibunuhnya…!”
   
“Siapa…?” Benny menjadi benar-benar panik.
   
“Dia… Aaaakkkhh…!!!”
   
Dan hubungan pun terputus.
   
“Wan..! Waann…! Halo…”
   
Yang terdengar kemudian hanya suara ‘tut’ yang monoton.
   
Benny merasakan tubuhnya panas dingin. Ia tahu Wawan sendirian di rumah saat ini karena seluruh keluarganya sedang mudik ke kampung halaman. Apa yang saat ini sedang terjadi pada Wawan? Tanpa sempat minta ijin terlebih dulu pada dosennya, secepat kilat Benny berlari menuju ke tempat parkir dan segera memacu mobilnya keluar dari halaman kampus.

Jarak dari kampus ke rumah Wawan tak terlalu jauh, tapi bagaimana pun juga Benny merasa sudah pasrah dengan nasib sahabatnya itu. Suara Wawan di telepon tadi terdengar begitu ketakutan dan kesakitan. Apakah Wawan juga telah mendapatkan SMS dari Wulan dan saat ini sedang dalam proses pembantaian? Ataukah Wawan telah menjumpai sosok pembunuh yang sebenarnya dan sekarang sedang bertarung memperjuangkan hidupnya? Benny semakin kencang menekan pedal gas mobilnya.
   
Kalau Wawan sampai terbunuh, pikir Benny dengan perasaan tak karuan, itu berarti hanya tinggal dirinya dan Henry saja yang masih hidup. Arwah Wulan atau siapapun pembunuh terkutuk itu memang benar-benar haus darah dan tak mau menyisakan satu pun diantara mereka. Benny yakin itu. Kalau Wawan sampai terbunuh, Benny merasa yakin seyakin-yakinnya bahwa dia dan Henry pun pasti akan menemui ajalnya dalam waktu dekat setelah ini. Lalu siapakah sebenarnya pembunuh tanpa wujud ini?
   
Rumah Wawan terlihat sepi seperti biasa. Tak ada tanda-tanda yang men-curigakan sama sekali selain pintu rumah yang terlihat sedikit terbuka. Rumah-rumah di daerah permukiman ini juga terlihat sepi seperti biasa. Benny segera turun dari mobil dan berjalan dengan perasaan tak karuan menuju halaman rumah yang pintu gerbangnya juga terbuka. Semakin dekat dengan pintu rumah, Benny semakin merasakan perasaannya tak karuan. Apa yang telah menimpa Wawan dalam rumahnya?
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (56)