Misteri Pembunuhan Berantai

“Kamu juga salah satu diantara mereka yang terbunuh.” Ucapan itu masih terngiang-ngiang di telinga Wawan saat dua polisi itu meninggalkan rumahnya. Wawan merasakan tubuhnya gemetar. Ingin, ingin sekali rasanya Wawan mengungkapkan semua yang dirahasiakannya ini dan melihat bagaimana reaksi Om Hendra-nya itu. Tapi Wawan menyadari belum saatnya.
   
Dia melangkah menuju ke ruang tengah. Hari ini sebenarnya dia masuk kuliah, tapi dia absen karena kedatangan dua polisi tadi, juga karena ada sesuatu yang ingin dilakukannya. Dengan duduk bersandar di atas sofa, Wawan mulai membuka kembali pikirannya.
   
Apa yang tadi diucapkan oleh Om Hendra itu memang benar, bahwa dia termasuk salah satu dari sahabat-sahabatnya yang kini telah terbunuh. Wawan sangat sadar akan hal itu, dan ia pun sudah siap setiap saat untuk mengantisipasi segala sesuatu yang mungkin akan terjadi pada dirinya.

Bahkan lebih dari itu, Wawan telah memiliki skenarionya sendiri, ia telah menyusun rencananya sendiri. Warning dari Om Hendra yang tadi mengisyaratkan akan menahannya dengan alasan demi keamanan adalah salah satu hal yang di luar skenarionya. Wawan harus mempersiapkan diri untuk itu.
   
Selama ini dia telah dikenal oleh teman-temannya sebagai si ahli detail, dan Wawan bangga akan hal itu. Kini akan ditunjukkannya bahwa teman-temannya tak salah memberikan julukan itu. Langkah pertama yang kemudian dilakukannya adalah mengambil ponselnya, lalu memencet nomor ponsel Wulan.

Wawan tahu betul pada apa yang tengah dilakukannya ini. Ia sudah siap untuk menerima apapun yang akan terjadi pada dirinya dengan tindakannya ini. Waktunya sudah semakin mendesak dan Wawan merasa harus menuntaskan semuanya. Ia pun telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bisa menyelesaikan semuanya ini sampai berhasil. Dan ia pasti akan berhasil!
   
Begitu hubungan tersambung, Wawan menempelkan ponselnya semakin erat dengan telinganya. Wawan sedikit tersentak. Tak ada suara apa-apa di seberang sana selain suara tawa perempuan yang terdengar mengerikan. Suara tawa itu terdengar serak, licik dan mengejeknya. Wawan menguatkan hatinya untuk terus mendengarkan suara tawa yang menakutkan itu, lalu dimatikannya ponselnya. Bibirnya nampak tersenyum, lalu perlahan dia mengangguk-anggukkan kepala-nya. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya!
   
Dengan langkah santai Wawan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Pikirannya kini benar-benar telah terarah. Di dapur, ia menuangkan air dingin dari dalam botol di kulkas, lalu meneguknya dengan pikiran yang segar. Ia hendak menambah isi gelasnya ketika matanya melihat pintu lemari besar di hadapannya kelihatan bergerak-gerak. Lemari besar dari kayu jati itu memang sengaja diletakkan di dapur karena sudah tak terpakai lagi. Lemari itu saat ini hanya digunakan untuk menyimpan payung, sepatu dan sandal-sandal bekas, juga segala barang yang sudah jarang dipakai.
   
Wawan mengerutkan keningnya. Diletakkannya gelasnya di atas meja, lalu ia melangkah mendekati lemari besar itu. Kemudian dibukanya pintu lemari itu dengan hati-hati dan waspada. Wawan tersentak saat pintu yang agak berat itu terbuka dan melihat sosok Joshep di dalamnya tengah menatapnya…

Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (55)