Misteri Pembunuhan Berantai

Komandan Hendra yang melihat Henry berubah menjadi tegang seperti itu jadi heran bukan main. Mengapa Henry harus merasa bingung dan ketakutan seperti itu hanya karena akan dijemput oleh seorang perempuan? Tapi pikiran kebapakannya yang kemudian muncul membuat Komandan Hendra menjadi tersenyum sendiri. Henry pasti tengah melakukan semacam perselingkuhan dengan pacarnya. Hm, anak-anak muda memang seperti itu, pikirnya.

***

SAMA seperti Henry, untuk ketiga kalinya pula Wawan harus menemui Komandan Polisi Hendra menyangkut kematian orang-orang dekatnya. Perte-muan ketiga ini membuat Wawan benar-benar tegang. Om Hendra seperti mulai mencurigai sesuatu menyangkut dirinya dan teman-temannya. Berkali-kali Om Hendra mendesak dan memojokkannya, suatu hal yang belum pernah dilakukan-nya dalam dua kali pertemuan sebelum ini.
   
“Om ingin kamu berterus-terang, Wan. Ada apa sebenarnya ini? Dosa apa yang diperbuat oleh teman-temanmu hingga mereka terbunuh satu-persatu?”
   
Wawan masih terus mencoba berkelit. “Lho, bukankah itu tugas kepolisian untuk mengungkapnya?”
   
“Kami memang bertugas untuk membongkar kasus ini dan menangkap pelaku-nya. Tapi kami juga butuh informasi yang akurat untuk membantu pelacakannya.”
   
“Jadi Om anggap informasi yang saya berikan tidak akurat?”
   
“Informasi yang kamu berikan sudah akurat.” Om Hendra mencoba meralat ucapannya. “Tapi masih terlalu sedikit dan belum bisa banyak membantu kami.”
   
“Tapi hanya itulah yang bisa saya berikan, Om. Saya benar-benar tidak tahu!” Waktu itu, rasanya wawan ingin membuka semuanya di hadapan Om-nya agar beban berat yang ada dalam pikirannya segera lenyap. Ingin rasanya dia membeberkan semua cerita yang sebenarnya. Tapi Wawan masih ragu.

Apa kata Om Hendra nanti jika tahu cerita yang sebenarnya? Lebih tepat lagi, apa yang akan dilakukan polisi jika tahu bagaimana kronologi yang sesungguhnya dari kasus ini? Saat ini mereka mungkin merasa bersimpati dengan korban-korban pembunuhan ini. Tapi bagaimana sikap mereka nanti jika tahu bahwa korban-korban dari pembunuhan berantai ini adalah para pemerkosa yang telah mem-buang mayat korbannya ke sungai?
   
Om Hendra memandang Wawan yang tengah menghela napas. “Ada yang kamu pikirkan?”
   
“Saya menyesal tidak bisa membantu banyak, Om.”
   
“Kamu sebenarnya bisa membantu kami, Wan, asal kamu mau membuka semuanya dan tak ada yang kamu sembunyikan.”
   
“Saya tidak menyembunyikan sesuatu, Om. Saya benar-benar tidak tahu.” Wawan masih bersikukuh.
   
Kini Om Hendra yang menghela napas. “Om juga ingin, bahkan sangat ingin mempercayai itu, Wan. Tapi cobalah pikirkan ini; dua orang temanmu tewas terbunuh. Dua yang lain hilang tanpa jejak. Lalu salah seorang yang menjadi saksi juga ditemukan tewas dalam mobil seorang temanmu yang kini menghilang. Kalian semuanya bersahabat dekat. Bagaimana mungkin kalau kamu sampai tidak tahu-menahu dengan semua yang menimpa sahabat-sahabatmu ini?”
   
Wawan menundukkan wajahnya dengan bingung. Bagaimana dia harus men-jelaskannya? Sebenarnya mudah saja baginya untuk berterus-terang dengan menceritakan segalanya dari awal, dari Wulan, sampai dengan terbunuhnya teman-temannya. Tapi susahnya, dia sudah terikat janji pada teman-temannya, setidaknya dengan yang masih hidup, untuk tetap merahasiakan semuanya ini.

Selain itu, kalau cerita ini sampai terungkap, mereka akan terancam vonis bersalah karena telah memperkosa dan membuang mayat Wulan, meski hingga hari ini mayat itu telah terkubur tanpa bisa diketahui identitasnya.
   
“Wan,” suara Om Hendra lagi dengan nada masih berharap.
   
“Bukankah Om bisa menanyakannya pada teman-teman saya yang lain?” jawab Wawan akhirnya dengan pasrah.
   
“Mereka juga sama bungkamnya sepertimu. Om lebih memilih berharap kamu-lah yang mau berterus-terang karena kamu sudah kenal dan tahu siapa Om. Tapi bila kamu terus-menerus merahasiakan segala yang kamu ketahui…”
   
“Ya?” Wawan menahan napas.
   
“Mungkin Om harus mengamankanmu karena Om menguatirkan keselamatan-mu. Bisa saja kamu terbunuh sewaktu-waktu menyusul teman-temanmu yang lain.”
   
Wawan tersentak mendengar itu. “Tidak…tidak mungkin…”
   
“Tak ada yang tidak mungkin, Wan. Selama pembunuh itu belum tertangkap, dia tetap punya kemungkinan untuk membunuhmu. Ingat, kamu juga salah satu di antara mereka yang terbunuh.”
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (54)