Misteri Pembunuhan Berantai

Pikiran Henry terhenti saat melihat pembantunya kembali tergopoh-gopoh menemuinya. “Ada tamu, Den,” katanya.
   
“Siapa?” Henry belum mau beranjak dari dalam air.
   
“Katanya dari kepolisian.”
   
Henry terdiam. Apakah dia harus menemui? Henry merasakan tubuhnya sedikit gemetar. Bukan karena kedinginan, tapi karena ada semacam rasa takut yang tiba-tiba muncul.
   
“Bagaimana, Den?” tanya pembantunya yang kelihatan bingung melihat Henry hanya diam mematung.
   
“Iya,” putus Henry kemudian. “Suruh mereka menemuiku disini.”
   
Sambil menunggu kedatangan tamunya, Henry mencoba menenangkan dirinya dengan masih berenang di dalam kolam. Apa lagi yang akan mereka tanyakan kepadanya? Ini adalah kunjungan mereka yang ketiga kali, dan Henry merasa sudah jenuh memberikan jawaban-jawaban yang monoton seperti dalam tes IQ.
   
Dua orang polisi terlihat memasuki area kolam renang. Henry langsung naik dari dalam kolam, mengambil handuk untuk membebat tubuhnya, lalu menyam-but kedatangan mereka dengan sikap yang diusahakan sewajar mungkin.
   
“Maaf sekali lagi karena kami harus mengganggu acara pagi Anda, Saudara Henry,” sapa salah seorang dari mereka yang dikenal oleh Henry sebagai Komandan Polisi Hendra.
   
Henry hanya tersenyum dan menjawab bahwa sudah kewajibannyalah untuk membantu aparat kepolisian. “Silakan Anda tunggu disini sebantar, saya mau pakai baju dulu,” katanya kemudian sambil berlalu meninggalkan dua polisi itu.
   
Komandan Polisi Hendra dan ajudannya duduk berdampingan di kursi jemur yang nyaman. Mereka dipisahkan sebuah meja kecil, dan mata Komandan Hendra sempat menatap sebuah ponsel milik Rexi yang tergeletak di situ. Bibirnya tersenyum. Anak-anak muda jaman sekarang memang tengah gandrung dengan pesawat kecil yang pintar itu. Anak-anaknya sendiri juga selalu tak pernah lupa membawa ponsel dimana pun berada.

Ponsel saat ini tidak lagi menjadi sarana komunikasi, tapi juga sebagai sarana untuk bermain-main. Komandan Hendra tahu itu karena dia sering membuka-buka ponsel milik anak-anaknya dan membaca SMS-SMS yang lucu, bahkan terkadang sedikit jorok dalam ponsel mereka. SMS memang telah menjadi semacam revolusi dalam berkomunikasi. Mudah, murah, praktis sekaligus menyenangkan.
   
Baru saja berpikir tentang ponsel dan SMS semacam itu, tiba-tiba ponsel milik Rexi yang ada di dekatnya berbunyi. Nada deringnya seperti sebuah lagu yang biasa dinyanyikan oleh anak-anaknya. Secara spontan Komandan Hendra memungut ponsel itu dan berencana untuk memberikannya pada Henry. Tapi secara otomatis dering ponsel itu berhenti.

Rupanya sebuah SMS telah datang ke dalam ponsel itu. Layar ponsel di tangannya secara langsung membuka isi SMS itu dan Komandan Hendra terlanjur melihatnya. Hanya sebuah pesan biasa, cuma yang ini terlalu singkat bunyinya hingga Komandan Hendra terlanjur membaca semuanya. Isi SMS itu hanya, “Aku akan menjemputmu. Wulan.” Komandan Hendra tersenyum. Pasti janji kencan biasa, pikirnya.
   
Henry datang dengan pakaian yang sudah rapi saat Komandan Hendra masih memegangi ponselnya.
   
“Maaf Saudara Henry,” kata Komandan Hendra langsung. “Barusan ponsel Anda berbunyi. Saya kira itu panggilan untuk Anda. Saya hendak memberikannya kepada Anda, tapi rupanya hanya sms yang datang, dan tanpa sengaja saya membacanya.” Komandan Hendra mencoba tersenyum, karena menganggap isi SMS barusan bukanlah SMS yang penting atau jorok yang bisa membuat Henry malu.
   
Henry tersenyum memaklumi dan menerima ponsel itu dari Komandan Hendra. Segera saja dia membuka SMSnya dengan harapan SMS barusan bukanlah SMS yang bisa membuatnya malu. SMS itu memang tidak membuatnya malu, tapi membuat Henry benar-benar tegang dan ketakutan. Matanya nyaris terbelalak tak percaya saat membacanya.
   
“Aku akan menjemputmu. Wulan.”
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (53)