Misteri Pembunuhan Berantai

Mereka kemudian saling bercakap-cakap dengan sesekali suara di seberang sana mengikik manja. Henry tertawa kecil beberapa kali mendengar rayuan-rayuan dari dalam ponselnya.
  
“Kapan kita bisa kencan lagi, Sayang?” suara dari seberang sana.
   
“Aku belum bisa menentukan,” jawab Henry dengan bimbang namun dengan senyum tersungging. “Tapi aku pasti akan hubungi kamu lagi, oke?”
   
“Bagaimana kalau nanti malam? Aku punya sesuatu yang asyik untuk kuberikan kepadamu.”
   
Kembali mereka bercakap-cakap sejenak, lalu hubungan pun terputus. Henry meletakkan ponselnya di atas meja di samping kursi jemurnya sambil tersenyum, lalu kembali terjun ke dalam kolam renang. Air kembali berkecipak dan Henry kembali menikmati kesegarannya. Sambil berenang kesana-kemari, pikiran Henry juga melayang, membayangkan semua yang tengah terjadi pada dirinya.

Dia tidak memungkiri bahwa segala pembunuhan yang sedang terjadi pada diri teman-temannya ini sungguh merisaukan hatinya, tapi Henry juga sedang dilanda kegalauan tentang hal-hal yang hanya menyangkut dirinya saat ini. Kecanduan itu, ya perilaku yang tengah dialaminya sekarang ini seperti telah menjadi semacam candu yang terus menuntutnya untuk memuaskan hasratnya yang seolah tanpa akhir.

Dia ingin berhenti, begitu ingin menghentikan hasratnya yang menyimpang ini, tapi setiap kali keinginan untuk berhenti itu muncul, keinginan untuk terus melakukannya juga terus menggodanya. Hal yang paling menakutkan baginya saat ini adalah kemungkinan diketahui oleh orang lain. Apa yang akan mereka pikirkan tentang dirinya jika tahu Henry seorang… Brengsek, Henry memaki sambil memukulkan tinjunya pada air yang terus berkecipak.
   
Henry menyelam sesaat untuk mendinginkan kepalanya, lalu kembali mencoba memikirkan sesuatu yang begitu membebani dirinya saat ini. Jujur Henry mengakui kalau dia begitu menikmati semuanya ini. Dia merasakan suatu perasaan bebas lepas karena bisa melakukan sesuatu yang tak biasa dilakukan oleh orang lain.

Tapi hati kecilnya terus saja mengingatkannya bahwa semua ini menyimpang, bahwa Henry harus segera melepaskan diri dari kecanduan yang tak sehat semacam ini, bahwa dia harus segera menghentikan kebiasaannya sebelum ada orang lain yang tahu, sebelum semuanya menjadi lebih kacau dan berantakan. Tapi Henry selalu terbentur pada kebingungan; bagaimana cara menghentikannya?

Selama ini, Henry yakin bahwa hanya adiknya, Fitria, saja yang tahu tentang penyimpangannya ini. Dia pernah memergoki aksi Henry suatu malam. Tapi Henry telah mengancamnya agar tak mengungkapkannya pada siapapun. Dan Henry merasa dia berani membunuh adiknya itu kalau sampai Fitria berani buka mulut!
   
Ini semua kesalahan Wulan! Pekiknya kemudian. Gara-gara perempuan sundal itulah dia saat ini menjadi kacau seperti ini. Henry masih ingat betul bahwa segalanya bermula dari Wulan. Kecanduan dan penyimpangan itu dimulai semenjak kematian Wulan malam itu, yang kemudian mayatnya mereka buang ke sungai. Henry memiliki semacam ketakutan, semacam trauma setelah itu, dan seringkali menjadi gemetar bila mengingatnya. Kemudian disusul pembunuhan yang menimpa teman-temannya satu-persatu yang semakin menguatkan ketakutan Henry.

Sialnya, rutuk Henry, pembunuhan terakhir harus ada di Jembatan Hilir, sebuah tempat yang begitu terbuka, yang tidak menutup kemungkinan ada teman-teman atau orang yang dikenalnya yang berada di sana dan sempat melihat keberadaannya di Jembatan Hilir, tepat saat pembunuhan itu terjadi! Henry tak bisa mengerti mengapa Firdha harus ikut dibunuh dan mengapa harus terbunuh di dalam mobil Joshep. Apakah…
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (52)