Misteri Pembunuhan Berantai

Begitu bayangan mamanya lenyap bersama mobilnya, Benny kembali memikirkan tentang sahabat-sahabatnya. Sampai dimana tadi dia berpikir? Oh ya, semuanya berawal dari Wulan dan berakhir pada Joshep. Apakah memang seperti itu? Jangan-jangan ada hal lain yang terlewat dari pemikirannya?

Benny kemudian teringat kepada Edo. Satu tahun yang lalu, Edo menjadi salah satu teman dekat mereka. Tapi kemudian Edo juga tewas karena over-dosis. Waktu itu mereka semua menganggap Edo frustrasi karena harus bertanggungjawab atas kehamilan pacarnya. Tapi bila mengingat kematian-kematian yang terjadi saat ini, Benny menjadi terpikir, apakah kematian Edo setahun yang lalu juga berkaitan dengan kasus ini?

Apalagi bila mengingat bahwa pacar Edo yang tengah hamil itu pun ikutan bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di sungai, rasanya rangkaian kematian ini menjadi semakin sulit dimengerti. Apakah semuanya itu berkaitan? Dan, sekali lagi, bila memang semuanya berhubungan satu sama lain, bagaimana semuanya ini harus dijelaskan?

Bagaimana semuanya ini harus direkatkan satu sama lain agar bisa menjadi sebuah gambaran yang jelas dan masuk akal sebagaimana potongan-potongan puzzle yang telah melekat pada tempatnya masing-masing? Benny menonjok jidatnya sendiri dengan marah. Pikirannya terlalu berlebihan!

***

BANGUN pagi adalah salah satu keajaiban dalam hidup Henry. Karena itu, di kalangan teman-temannya sampai ada lelucon bahwa sepanjang dua puluh tiga tahun umurnya, Henry baru beberapa kali melihat matahari terbit. Henry selalu tersenyum kecut bila mendengar lelucon itu. Tapi dia memang sulit sekali untuk bangun pagi.

Alasan inilah yang membuatnya menyusun jadwal mata kuliahnya dengan mengambil semua jam kuliah pada siang hari. Beberapa kali Henry sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa bangun pagi. Kadang dengan meminta pembantunya untuk membangunkan, kadang pula dengan memasang weker di dekat tempat tidurnya. Tapi pembantu yang membangunkannya malah dilempar bantal saat dia terbangun, sedang weker yang berbunyi langsung dibantingnya karena dianggap mengganggu kenikmatan tidurnya.

Karena itu pulalah, Fitria adiknya itu juga tak berani membangunkannya bila tak ada keperluan yang benar-benar mendesak. Kedua orang tuanya yang bisa dikatakan tak pernah ada di rumah semakin membuat Henry leluasa menjalankan hobi bangun siangnya. Bila ayah atau ibunya ada di rumah, biasanya mereka sudah teriak-teriak bila jam tujuh Henry belum bangun. Dan itulah yang terjadi pada pagi hari ini. Karena itu, mau tak mau Henry harus bangun meski dengan mata yang masih sangat mengantuk.
   
Seperti biasa pula, satu-satunya cara yang bisa dilakukan Henry untuk bisa menyegarkan matanya adalah dengan melakukan renang dalam kolam renangnya yang jernih. Berlama-lama berendam dalam air bisa membantu membuka mata-nya yang sepet dan menyegarkan tubuhnya. Henry masih asyik bermain-main dalam air saat pembantunya tergopoh-gopoh menemuinya sambil membawakan ponselnya yang masih berbunyi.
   
“Ada telepon, Den,” katanya sambil menyodorkan ponsel ke arah Henry.
   
Henry segera naik dari dalam kolam dan berjalan ke arah pembantunya. Diterimanya ponsel itu. Lalu sambil duduk di atas kursi jemur, Henry pun tersenyum menerima sang penelepon.
   
“Halo,” sapanya dengan manis.
   
“Halo Sayang, apa kabar?” suara dari seberang sana yang terdengar dilembut-lembutkan. “Sudah bangun?”
   
“Tentu, aku lagi renang saat ini.”
   
Bersambung ke: Misteri Pembunuhan Berantai (51)