Kisah Keajaiban Cinta

Semenjak itulah kemudian, Fitria jadi merasa memerlukan untuk kembali datang ke museum itu. Tentu saja bukan untuk kembali menyaksikan patung-patung itu, tetapi karena berharap dapat kembali bertemu dengan sesosok tampan dengan senyum lembut bernama Adrian di sana.

Meski Fitria cukup tahu diri untuk tidak berharap hubungan itu berkembang menjadi hubungan yang istimewa, namun Fitria sudah merasa cukup bahagia setiap kali berada di dekat Adrian, dan mendengarkan suaranya, dan menyaksikan senyumnya, dan menikmati kelembutannya. Itu sudah lebih dari cukup bagi Fitria, dan karena itulah kemudian Fitria kembali ke museum itu hingga beberapa kali—dan ia berharap ia dapat selalu menemukan alasan yang terdengar logis saat ditanya Adrian menyangkut kembalinya dia ke museum itu.

Fitria selalu masuk ke ruangan tempat patung lelaki yang dipajang sendirian—tempatnya pertama kali bertemu dengan Adrian—karena tempat itulah yang paling dekat dengan keberadaan Adrian di museum itu. Dan setiap kali Fitria memasuki ruangan itu, dia selalu merasakan jantungnya berdebar-debar karena berharap-harap cemas—apakah Adrian akan muncul malam ini?

Dan harapan Fitria selalu terkabul. Adrian selalu muncul untuk menemuinya di dalam ruangan itu dan kemudian mereka akan bercakap-cakap—dan makin hari Fitria merasakan mereka semakin akrab, dan Fitria sangat menikmatinya.

“Kau telah menjadi pengunjung tetap bagi museum ini, Fitria,” ujar Adrian suatu malam saat mereka berada di ruangan yang biasa mereka gunakan untuk bertemu.

“Oh ya?” Fitria tersenyum dan berharap Adrian tidak tahu maksud kedatangan dirinya yang sebenarnya ke museum ini.

“Ya,” sahut Adrian pasti. “Dan aku pasti merasa kehilangan kalau suatu malam kau tidak terlihat datang ke sini.”

Fitria tertawa sumbang, “Oh, kau pasti berlebih-lebihan, kan?”

“Aku mengatakan yang sejujurnya, Fitria,” tegas Adrian sambil menatap wajah Fitria.

Fitria merasakan wajahnya jadi menghangat karena tatapan itu, dan Fitria yakin kalau sekarang wajahnya jadi memerah—atau menghitam—karena tatapan yang baru pertama kali disaksikannya itu.

Fitria menundukkan wajahnya, dan ia merasakan Adrian mendekat ke arahnya. Fitria merasakan jantungnya berdebar dengan keras—suatu debar yang indah yang pertama kalinya dirasakan seumur hidupnya.

“Aku senang setiap kali melihatmu di sini, Fitria,” kata Adrian lagi dengan suara yang lebih lembut di telinga Fitria.

Dan Fitria menjawabnya dengan bodoh, “Aku...aku merasa tak layak mendapatkan ucapan semacam itu, Adrian.”

“Kenapa?” tanya Adrian sambil tertawa kecil.

Fitria kembali menjawab dengan bodoh, “Karena aku...yah, karena aku tidak cantik, kan?”

Tetapi Adrian hanya tersenyum manis mendengar jawaban itu. “Kau tentu mengenal Shakespearre?” tanyanya kemudian.

“Maksudmu, William Shakespearre?” Fitria balik bertanya dengan bingung. Mengapa tiba-tiba kita membicarakan Shakespearre?

“Ya, Shakespearre yang pujangga Inggris itu.” Adrian mengangguk senang. “Nah, Shakespearre mengatakan bahwa kecantikan itu tergantung pada siapa yang melihatnya. Mungkin...mungkin kau merasa dirimu tidak cantik, tetapi di mataku, kau seorang perempuan yang cantik, Fitria. Dan seumpama seluruh dunia menganggapmu tidak cantik pun, kau tetap cantik bagiku.”

Saat mendengar pengakuan itu, dan setelah mendengar ucapan itu, Fitria merasa bahwa dia adalah perempuan paling cantik di dunia.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (10)