Kisah Keajaiban Cinta

Fitria terkejut dengan suara itu, dan seketika ia membalikkan badan dengan salah tingkah, lalu beranjak berdiri dari jongkoknya. Di hadapannya kini berdiri sesosok pemuda dengan wajah tampan yang lembut dan tengah tersenyum kepadanya dengan sama lembutnya—Fitria tak pernah mendapatkan senyuman selembut itu dari seorang lelaki. Pemuda itu berusia sekitar 25 tahunan, dan mengenakan seragam museum yang telah dikenali oleh Fitria.

“Oh, eh, iy...iya...” jawab Fitria dengan kikuk.

“Jarang ada orang yang tertarik dengan patung itu,” kata pemuda itu—masih dengan senyum lembutnya. “Padahal itu patung yang istimewa.”

Fitria mencoba mengendalikan perasaannya, dan kemudian dia mencoba bertanya, “Kau pegawai di sini ya? Kelihatannya kau cukup tahu mengenai patung-patung di sini.”

Pemuda itu tertawa sopan.

“Mengapa patung yang ini...dipisahkan dengan patung-patung lainnya?” tanya Fitria dengan harapan agar komunikasi itu tak selesai sampai di situ.

Pemuda itu kini mendekat ke arah Fitria dan mulai menjelaskan, “Patung ini ditemukan bersama benda-benda yang kini ada bersamanya ini, sementara patung-patung yang di luar sana itu ditemukan di tempat dan waktu yang berbeda dari penemuan patung yang ini.”

Fitria mengangguk dan memahami penjelasan itu. Matanya kini lebih memperhatikan benda-benda aneh yang mengelilingi patung yang sendirian ini. Ada sebentuk kalung yang sepertinya terbuat dari batu-batuan aneh, sebuah busur dan anak panah yang terlihat sangat tua, juga gelang yang terbuat dari bahan seperti marmer, dan beberapa benda lain yang tak dapat dikenali oleh Fitria.

“Para peneliti tidak bisa mengidentifikasi patung siapa ini,” lanjut pemuda pegawai museum itu, “dan mereka hanya dapat memperkirakan berapa kira-kira usianya.”

“Dan berapa kira-kira usianya?” tanya Fitria dengan wajah penuh minat—meski ia sendiri tak tahu apakah dia benar-benar berminat untuk mengetahuinya.

“Kau bisa membacanya di dalam keterangan itu,” jawab si pemuda sambil melambaikan tangannya pada kertas kecil yang diletakkan di bawah patung itu.

Maka Fitria pun tak punya pilihan lain. Ia mulai merendahkan kepalanya untuk dapat membaca tulisan yang terdapat di kertas kecil itu, dan dengan gaya penuh minat, Fitria memperhatikan tulisan yang dibacanya.

“Aku senang melihat seorang gadis muda sepertimu yang berminat dengan benda-benda purbakala,” ujar si pemuda penjaga museum.

Fitria menengadahkan kepalanya, sepertinya ia merasa tak yakin kalau ucapan itu ditujukan untuknya. Namun saat dilihatnya pemuda itu tersenyum tulus kepadanya, Fitria pun tahu kalau pemuda itu memang berkata untuknya.

“Yah...setiap orang memiliki kesukaannya masing-masing, kan?” sahut Fitria sambil dalam hati berharap ucapannya itu tidak terdengar konyol.

“Kau benar,” ucap si pemuda dengan tampang yang senang. “Tetapi kita selalu merasa senang kalau bertemu dengan seseorang yang memiliki minat yang sama dengan kita.”

Fitria mengangguk. Karena tak tahu harus menjawab apa atas pernyataan itu.

Pemuda itu kembali berkata, “Kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku tahu namamu?”

Oh Tuhan, dia mengajak berkenalan, batin Fitria dengan perasaan takjub. Dan dia bertanya apakah aku tidak keberatan? Dia bercanda! Aku bahkan rela membayar untuk dapat berkenalan dengannya! “Namaku Fitria,” kata Fitria sambil mencoba tersenyum untuk menutupi perasaan kikuknya.

“Aku Adrian,” kata pemuda itu sambil tersenyum dan menyalami tangan Fitria dengan hangat. “Senang berkenalan denganmu.”

Fitria tersenyum. Mungkinkah kau malaikat...?

“Nah, selamat menikmati segala yang ada di sini,” lanjut Adrian. “Kalau kau butuh bertanya sesuatu menyangkut benda-benda yang ada di sini, aku ada di sebelah sana—dan aku pasti akan senang menjelaskannya untukmu.”

Fitria mengangguk. Ya, kau pasti malaikat!

Saat Adrian melangkah meninggalkan ruangan itu, Fitria merasakan dirinya tak lagi memijak bumi. Siapa yang menyangka kalau aku bisa berkenalan dengan cowok setampan itu...???

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (9)