Kisah Keajaiban Cinta

Museum Tetranika terlihat tak terlalu ramai ketika Fitria sampai di sana. Dia memang telah menyangka kalau pameran di museum ini tidak akan menyedot banyak orang sebagaimana acara konser musik atau pagelaran hiburan semacamnya—dan Fitria bersyukur akan hal itu. Di museum ini Fitria bisa merasa nyaman tanpa terlalu takut kepergok dengan kawan kuliahnya—seorang cewek jalan-jalan sendirian di malam Minggu, sungguh suatu anekdot yang konyol, pikirnya.

Dengan langkah yang ringan Fitria memasuki pintu gerbang museum itu, dan kemudian mulai menapak di lantai museum yang cukup luas itu. Terlihat beberapa orang yang tengah mengerumuni patung-patung yang dipajang di salah satu sisi dinding, dan Fitria pun melangkahkan kakinya kesana.

Jadi ini patung-patung itu, batin Fitria saat telah berada di hadapan deretan patung-patung batu yang kelihatannya sudah berumur sangat tua—atau setidaknya seperti itulah kesannya.

Patung-patung manusia itu berukuran cukup besar—seukuran manusia asli—dan dari wajah atau penampilannya menunjukkan kalau patung-patung itu ada yang berjenis lelaki, atau berjenis perempuan, ada pula yang tidak jelas jenis kelaminnya. Di bawah patung-patung itu terdapat keterangan yang menyebutkan dimana patung-patung itu didapatkan atau ditemukan, lengkap dengan perkiraan nama patung-patung itu, dan juga dengan estimasi usianya. Di dalam ruangan itu terdapat sekitar dua belasan patung.

Fitria terus melangkah perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan di dalam museum itu, dengan gaya seolah-olah dia seorang arkeolog yang benar-benar tertarik dengan patung-patung yang ada di situ—meski dia tidak paham dengan segala yang disaksikan dan diperhatikannya. Dia hanya ingin menikmati waktunya sekarang ini, dan dia berharap dia benar-benar bisa menikmatinya.

Langkah-langkahnya terus bergerak, dan kini ia sampai di tikungan museum yang terlihat sepi dari pengunjung. Saat menapaki lantai di tikungan itu, Fitria merasakan kalau lantai di sini terlihat lebih licin dibanding lantai di bagian ruang lainnya. Apakah lantai di sini baru saja dipel, batinnya sambil memperhatikan bekas-bekas air yang terlihat belum kering benar.

Dan sebelum sempat Fitria memperhatikan langkahnya agar lebih berhati-hati, satu kakinya telah terpeleset oleh sepatunya sendiri, dan tubuh Fitria pun terjatuh di atas lantai yang licin itu. Bagian bawah gaun panjangnya tersingkap, dan sambil menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, Fitria bergegas bangkit dari jatuhnya dengan harapan agar tak ada orang yang sempat memergokinya ketika jatuh tadi.

Sekarang Fitria berjalan dengan sedikit terpincang karena menahan rasa nyeri di pergelangan kakinya. Ia memasuki ruangan yang terlihat sepi di ujung tikungan itu, dan berharap di sana ia dapat menenangkan perasaannya—serta memeriksa kakinya yang mungkin terkilir.

Di dalam ruangan yang berada di ujung tikungan itu hanya dipajang satu buah patung dan beberapa benda aneh yang juga dipamerkan di situ—semuanya kelihatan tak menarik—dan mungkin karena itulah para pengunjung tak terlalu tertarik dengan isi ruangan yang ini. Sambil berjongkok untuk memeriksa pergelangan kakinya, Fitria memandang sejenak ke arah patung yang ada di situ—kelihatannya patung seorang lelaki—dan Fitria bertanya-tanya sendiri mengapa patung ini tidak dipamerkan bersama patung-patung lainnya di luar sana.

“Tertarik dengan patung itu?” sapa sebuah suara di belakangnya.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (8)