Kisah Keajaiban Cinta

Pukul delapan kurang lima menit, Fitria akhirnya keluar dari kamarnya karena merasa suntuk berlama-lama di dalam kamar sendirian. Ia berencana untuk duduk-duduk di depan kamar sambil menikmati udara malam. Saat membuka pintu kamarnya, ia berpapasan dengan ibu kost yang sepertinya akan mengantarkan beberapa pakaian yang baru dicuci ke beberapa kamar kost di situ.

“Lho, Fit,” sapa ibu kost dengan senyum keibuannya, “kok tidak keluar seperti yang lain?”

Bagi Fitria, ibu kostnya adalah ibu kost terbaik di dunia—selama kau tidak terlambat membayar biaya kost. Fitria membalas senyum itu. “Iya, Bu,” jawabnya dengan serba salah.

“Tempat kost ini sepi sekali kalau malam Minggu begini,” lanjut si ibu kost. “Bagaimana kalau kau main ke tempat Ibu saja? Kau tidak kesepian?”

Sekali lagi Fitria memaksakan senyumnya, dan mengucapkan terima kasih. “Hari Senin nanti saya ada tes, Bu. Saya mau membaca makalah untuk tes Senin nanti.”

“Anak rajin,” komentar ibu kost, “ya sudah, Ibu tinggal dulu. Semoga hasil tesmu nanti memuaskan.”

Begitu ibu kostnya berlalu dari hadapannya, Fitria mengutuk dirinya sendiri. Tes? Hari Senin? Yang benar saja! Seumpama akan ada tes selama satu tahun berturut-turut sekalipun, rasanya dia tetap ingin menikmati malam Minggunya dengan pacarnya—kalau saja dia punya pacar!

Dari tempat duduknya di depan kamarnya, mata Fitria tertuju pada meja bambu di depan kamar Rini. Di atas meja itu sepertinya ada sebuah majalah yang terbuka. Rini memang suka membaca majalah dan biasanya dia membeli majalah edisi terbaru sebulan sekali. Fitria pun kadang meminjam majalahnya saat ia merasa kesepian seperti sekarang. Maka Fitria pun melangkah menuju ke meja itu sambil berharap itu majalah baru yang belum pernah dipinjamnya dari Rini.

Dan harapan Fitria terkabul. Saat melihat sampulnya, Fitria tahu kalau itu majalah edisi terbaru. Maka Fitria pun lalu duduk di depan kamar Rini, dan mulai membaca-baca isi majalah itu. Meskipun terkadang Fitria merasa tersiksa saat menyaksikan wajah-wajah cantik yang terpampang di lembaran-lembaran majalah itu, namun setidaknya Fitria sering merasa terhibur dan juga memperoleh pengetahuan baru dari halaman-halaman majalah yang pernah dibacanya. Begitu pula dengan majalah yang sekarang ada di tangannya ini.

Saat membuka halaman 17 dalam majalah itu, mata Fitria tertuju pada sebuah bagian tulisan yang sepertinya sengaja dilingkari dengan spidol merah—mungkin Rini membubuhkan tanda itu karena menyukai kata-kata yang terdapat di situ. Kata-kata yang dilingkari itu berbunyi, “Cinta itu bukan sesuatu yang gratis. Untuk mendapatkannya, kau harus keluar. Untuk memperolehnya, kau harus datang kepadanya—atau mencarinya hingga mendapatkannya.”

Fitria mengerutkan keningnya.

Seringkali, kata-kata tertentu yang tanpa sengaja kita baca tiba-tiba menggerakkan sesuatu di dalam diri kita—dan tepat seperti itulah yang kini terjadi pada diri Fitria. Kata-kata dalam lingkaran spidol merah itu seperti menyengat sesuatu di dalam dirinya.

Dengan perlahan dia letakkan majalah itu di atas meja seperti sebelumnya, kemudian dia melangkah kembali menuju ke kamarnya. Sementara kata-kata yang baru saja dibacanya seperti terngiang-ngiang di dalam telinganya.

Cinta itu bukan sesuatu yang gratis. Untuk mendapatkannya, kau harus keluar. Untuk memperolehnya, kau harus datang kepadanya—atau mencarinya hingga mendapatkannya.

Sesampai di dalam kamarnya, Fitria berdiri di depan cermin, dan menyaksikan dirinya sendiri. Baju yang tadi telah dikenakannya untuk keluar bersama Rini belum sempat digantinya, dan sekarang tiba-tiba ia jadi ingin keluar. Tapi kemana ia akan keluar?

Sudut matanya menangkap selebaran berwarna hijau muda yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Diambilnya selebaran itu dan dibacanya sekali lagi. Tak ada salahnya kalau dia kesana, pikirnya dengan semangat yang muncul tiba-tiba.

Maka Fitria pun lalu mengambil dompetnya, keluar dari kamarnya, dan kemudian dengan langkah-langkah yang ringan ia mulai meninggalkan tempat kostnya. Dia sudah tahu kemana dia harus pergi.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (7)