Kisah Keajaiban Cinta

Sebenarnya, Fitria sudah dapat mengira apa tujuan Rini datang ke kamarnya ini, bahkan ketika pertama kali mendengar ketukan dan suara panggilannya di depan kamar. Inilah malam Minggu bagi seorang Fitria—ia dibutuhkan ketika salah satu dari kawan kostnya ada yang tidak diapeli atau karena tidak bisa kencan dengan pacarnya, dan kemudian mereka akan mendatangi Fitria untuk ditemani keluar. Tempat kost mereka di malam Minggu biasanya akan begitu sepi—mungkin sesepi kuburan dicampur makam—dan biasanya tak ada yang suka tinggal di tempat kost, selain Fitria—mungkin.

“Hm...boleh juga,” jawab Fitria kemudian. Tak ada salahnya keluar dengan Rini malam ini, pikirnya. Dan tak ada salahnya menyaksikan pameran itu.

***

Maka malamnya, Fitria pun telah bersiap-siap untuk keluar menemani Rini. Ia tidak berdandan—ia tidak biasa berdandan—ia hanya mengenakan pakaian yang layak dikenakan untuk acara keluar, dan sekarang ia tengah menunggu kedatangan Rini di kamarnya. Malam itu Fitria mengenakan gaun panjang warna biru tua—satu-satunya pakaian yang menurutnya cukup serasi di tubuhnya.

Tetapi sesuatu yang tak direncanakan terjadi. Heru, pacar si Rini, ternyata sudah nongol di tempat kost mereka menjelang isya’, bahkan sebelum Rini sempat berdandan sedikit pun. Ada perubahan rencana, begitu penjelasan Heru kepada Rini, dan sekarang Rini berjalan dengan tergesa-gesa ke kamar Fitria untuk mengabarkan berita gembira itu.

“Sori, Fit, ternyata Heru jadi datang malam ini,” kata Rini dengan tampang menyesal meski Fitria tahu hatinya tersenyum. “Jadi...jadi mungkin kita tidak bisa meneruskan rencana yang tadi.”

“Oh, tidak apa-apa, kok,” sahut Fitria. Bukankah kencan dengan pacarmu lebih penting daripada sekedar menyaksikan pameran itu?

Begitu Rini telah keluar dari kamarnya, Fitria pun menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Selamat datang malam Minggu yang sepi—seperti biasa.

Menjelang pukul delapan malam, seperti yang telah diduga oleh Fitria, tempat kostnya benar-benar telah sepi. Kini tinggallah dia sendirian, dalam kamarnya seperti biasa kalau malam Minggu datang.

Di dalam kesendirian semacam itu, Fitria terkadang melamunkan alangkah indahnya kalau dia memiliki seorang pacar—seorang cowok, seorang lelaki—yang bisa disebutnya sebagai kekasih. Seperti apakah rasanya punya pacar? Fitria pernah memergoki Inneke—salah satu kawan kostnya—yang tengah berciuman dengan pacarnya di dalam kamarnya—mungkin Inneke terlupa menutup gorden kamarnya—dan sejak itu Fitria seringkali membayangkan, seperti apakah rasanya berciuman...?

Sepanjang hidupnya selama dua puluh dua tahun di dunia ini, Fitria belum pernah tahu rasanya bersentuhan dengan lawan jenis—saat merasakan jarinya digenggam atau tangannya digandeng—dia juga belum pernah merasakan seperti apa sensasi sebuah ciuman—ciuman sayang di kening maupun ciuman lembut di pipi. Semua itu bagi Fitria hanyalah semacam mitos atau cerita hantu—orang-orang ramai memperbincangkannya dan kadang mengaku melakukannya, namun dia sendiri belum pernah merasakannya.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (6)