Kisah Keajaiban Cinta

Hari kesembilan belas dalam bulan November itu Fitria menyelesaikan siklus menstruasinya untuk bulan itu. Terkadang Fitria bertanya-tanya mengapa cewek yang tidak cantik juga harus mengalami siklus menstruasi seperti halnya cewek-cewek lainnya yang mungkin cantik?

Setelah mandi sore itu, Fitria berencana untuk berbaring-baring santai di kamar kostnya sambil mendengarkan musik. Ini Sabtu sore, dan besok tak ada kuliah juga tak ada rencana apa-apa. Nanti malam kawan-kawan kostnya pasti bakal keluar bersama pacarnya masing-masing, dan Fitria berencana menghabiskan malam Minggunya sendirian seperti biasa—di dalam kamar kostnya yang sepi seperti biasa.

Saat ia tengah melangkah dari kamar mandi untuk menuju ke kamarnya, mata Fitria menangkap beberapa helai kertas berwarna hijau muda yang bertebaran di depan salah satu kamar kost kawannya. Sepertinya selebaran-selebaran itu baru dibaca dan kemudian ditaruh begitu saja.

Karena rasa penasaran, Fitria pun memungut salah satu selebaran itu untuk dibacanya. Barangkali saja ini menyangkut acara di kampusnya, pikirnya sambil melanjutkan langkahnya.

Sesampai di dalam kamarnya, Fitria pun duduk di pinggiran tempat tidurnya dan mulai melihat isi selebaran yang baru dipungutnya itu.

Ternyata itu adalah selebaran pemberitahuan akan adanya pameran benda-benda purbakala yang akan diadakan selama dua minggu ke depan, dan bertempat di museum Tetranika, salah satu museum purbakala yang tidak terkenal di Yogyakarta. Fitria tahu dimana letak museum ini—beberapa waktu yang lalu saat ia berbelanja buku-buku bekas untuk kuliahnya, tanpa sengaja dia sampai di depan pintu gerbang museum yang telah berumur tua itu.

Dengan ogah-ogahan Fitria kemudian membaca ulasan yang cukup panjang lebar di bagian bawah selebaran itu—mungkin saja ada sesuatu yang menarik, pikirnya dengan tanpa minat. Dalam ulasan di selebaran itu disebutkan bahwa sekitar dua tahun yang lalu, beberapa pekerja tambang tanpa sengaja menemukan sejumlah patung batu yang terkubur di dalam tanah—di suatu daerah yang cukup terpencil di bagian selatan Yogyakarta.

Pada mulanya hanya dua buah patung yang ditemukan, namun seiring dengan kesabaran untuk terus melakukan penggalian di lokasi itu, ternyata di dalam tanah galian tersebut terdapat cukup banyak patung—yang entah sudah berapa ratus tahun terkubur di situ tanpa pernah tertemukan.

Patung-patung yang terbuat dari batu itu kemudian diamankan, dan setelah dilakukan pembersihan, semua patung yang baru ditemukan itu dikirim ke Pusat Penelitian Benda-benda Purbakala untuk diketahui ‘identitas’nya. Yogyakarta sudah cukup sering menemukan benda-benda yang terkubur di dalam tanah semacam itu, dan sebagian dari para pekerja yang menemukannya pun tidak terlalu berharap penemuan mereka itu tergolong istimewa—dan ternyata memang seperti itulah kenyataannya.

Satu tahun setelah penemuan patung-patung itu, tak ada laporan apa-apa menyangkutnya, dan para pekerja yang menemukannya pun sepertinya telah melupakannya. Itu hanya patung biasa, hanya saja terkubur dalam tanah dalam waktu yang cukup lama, simpul mereka.

Para peneliti yang bertugas mempelajari patung-patung itu pun meyakini kesimpulan yang sama—bahwa patung-patung yang ditemukan itu bukanlah patung-patung istimewa atau memiliki suatu keistimewaan tertentu. Satu-satunya hal yang mungkin bisa disebut istimewa hanyalah bahwa patung-patung itu sepertinya telah terkubur di dalam tanah dalam waktu yang sangat lama. 

Dan sekarang patung-patung itu direncanakan untuk dipamerkan di museum, bersama beberapa benda temuan lain yang telah ditemukan sebelum dan sesudah penemuan patung-patung yang ‘tidak istimewa’ itu. Semua upaya penelitian yang perlu terhadap benda-benda itu telah dilakukan, dan kini masyarakat berhak untuk ikut menyaksikannya.

Tok-tok-tok...

Terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Kemudian terdengar suara yang memanggilnya, “Fit...”

Itu suara Rini, batin Fitria. “Masuk saja, Rin.”

Dan pintu kamar pun terbuka. Sosok Rini yang nampaknya juga baru mandi berdiri di ambang pintu dan kemudian masuk ke dalam kamar.

“Hei, kau juga mendapat selebaran itu ya?” ujar Rini saat menyaksikan tangan Fitria masih memegangi selebaran yang sejak tadi dibacanya.

“Aku tadi menemukan ini di depan kamarmu,” sahut Fitria. “Kupikir ini selebaran dari kampus.”

“Inneke tadi yang dapat selebaran itu,” terang Rini, “lalu dibagi-bagi ke teman-teman di sini. Kau tertarik untuk melihat pameran itu, Fit?”

Fitria balik bertanya, “Kau?”

Rini tertawa kecil. “Jujur, aku belum bisa memahami mengapa orang bisa tertarik pada pameran benda-benda seperti itu. Tapi nanti malam Heru, pacarku, tidak bisa datang karena ada acara bareng keluarganya. Jadi, kalau kau tidak ada acara nanti malam dan juga tidak keberatan, bagaimana kalau kita mengunjungi pameran itu saja? Mungkin di sana ramai dan kita bisa ketemu kawan-kawan yang lain. Aku tidak biasa menikmati malam Minggu di tempat kost...”

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (5)