Kisah Keajaiban Cinta

Fitria sudah terbiasa menyaksikan bahwa perempuan yang cantik—atau dianggap cantik—lebih sering memperoleh special treatment daripada perempuan yang mungkin tidak cantik—atau yang dianggap tidak cantik. Kecantikan telah menjadi semacam tiket istimewa untuk memperoleh beberapa perlakuan yang sama istimewanya.

Dan seringkali, bencana terbesar yang dihadapi oleh seorang perempuan adalah ketika ia mulai menyadari bahwa dirinya tidak cantik—atau setidaknya ketika ia merasa dianggap sebagai ‘bukan perempuan cantik’. Fitria adalah perempuan normal—dalam arti bahwa dia bukan lesbi dan tetap mencintai lelaki—dan Fitria pun menyadari bahwa apabila perempuan tertarik pada lelaki karena pendengarannya, maka laki-laki tertarik pada perempuan karena pandangannya.

Laki-laki jatuh cinta pada seorang perempuan seringkali bukan karena ‘bagaimana perempuan itu’, melainkan karena ‘seperti apa perempuan itu’. Dan perempuan yang tidak cantik adalah ‘seperti apa’ yang seringkali tak ingin dilihat oleh lelaki. Dan—sialnya—Fitria tergolong dalam ‘seperti apa’ yang seperti itu.

Langkah-langkah kaki Fitria makin mendekati kantin kampusnya. Suasana kantin terlihat cukup ramai seperti biasa, namun Fitria tahu kalau dia pasti akan mendapatkan tempat duduk yang tersisa. Dia memasuki kantin itu tanpa menengok kiri kanan seperti biasa, lalu meletakkan tasnya di salah satu bangku yang kosong, dan kemudian memesan makanan yang diinginkannya pada pelayan kantin.

Di tengah keramaian kantin seperti itu, Fitria tak pernah berani menengok atau menyapa orang-orang di sekelilingnya meskipun mungkin ia mengenal salah satu dari mereka—Fitria sudah terbiasa dengan kesendiriannya yang introvert.

Fitria duduk di bangkunya, mulai menyedot es tehnya yang tak terlalu manis, dan menunggu soto ayam pesanannya diantarkan. Sambil menikmati tenggorokannya dibasahi oleh es teh yang terasa menyegarkan, telinga Fitria menangkap bincang-bincang dan canda tawa dari para mahasiswa dan mahasiswi yang duduk-duduk tak jauh dari tempatnya—mereka melingkari sebuah meja yang cukup besar.

“Kalian pernah mendengar kisah keajaiban menyangkut kodok?” tanya salah satu mahasiswa yang berada di lingkaran itu—Fitria cukup yakin kalau itu suara Firdan, salah satu kawan sekelasnya. Si Firdan ini termasuk mahasiswa yang tidak tampan namun banyak disukai cewek di kampusnya karena humoris dan pintar membuat orang tertawa.

“Pasti tentang seekor kodok yang mendapat ciuman dari seorang gadis cantik dan kemudian berubah menjadi pangeran tampan itu, kan?” sahut suara seorang mahasiswi—Fitria tak mengenali itu suara siapa.

“Bukan,” jawab Firdan langsung—dan kini Fitria jadi ikut tertarik untuk mendengar kelanjutannya, meski ia nampak tak bergerak dari tempat duduknya. “Ini bukan tentang Pangeran Kodok. Ini asli keajaiban menyangkut kodok,” lanjut Firdan.

“Bagaimana keajaibannya, Fir?” tanya mahasiswi yang lain—Fitria mengira kalau itu mungkin suara Novi.

“Menurut legenda keajaibannya,” Firdan memulai, “setiap orang yang pernah menginjak kodok akan ditakdirkan untuk mendapatkan jodoh yang jelek. Jadi, secantik apapun kamu, kalau kamu pernah menginjak kodok, hampir bisa dipastikan jodohmu bakalan cowok jelek—begitu pula secakep apapun seorang cowok, jodohnya juga akan jelek kalau pernah menginjak kodok.”

“Apa iya, Fir?” sangsi salah seorang dari mereka—kedengarannya seperti suara mahasiswi yang pertama tadi.

“Believe it or not,” sahut Firdan dengan percaya diri. “Kalian mau bukti?”

Para pendengarnya pun langsung setuju—dan Fitria yang semenjak tadi ikut mendengarkan percakapan itu pun kini semakin menajamkan pendengarannya.

“Menurut kalian,” ujar Firdan lagi, “aku ini termasuk cakep apa tidak?”

“Tidak...!” jawab yang lain dengan serempak sambil terdengar suara tawa kecil.

Firdan juga terdengar tertawa. “Dan menurut kalian, apakah Paramitha, pacarku itu, cantik?”

Yang lain pun segera setuju kalau Paramitha—pacar Firdan—adalah salah satu mahasiswi cantik di kampus mereka.

“Nah, kalian tahu mengapa Paramitha yang cantik itu bisa punya pacar sejelek aku?” lanjut Firdan sambil tertawa. “Karena dia pernah menginjak kodok!”

Teman-temannya pun spontan tertawa. Bila ada cowok yang mengaku jelek namun disukai oleh kawan-kawannya, khususnya cewek-cewek, maka cowok itu adalah Firdan. Dia adalah orang yang bisa mengolok-olok dirinya sendiri—dan karena itulah dia kemudian disukai.

Sementara di tempat duduknya, Fitria diam-diam berdoa, semoga saja ada cowok tampan yang tak sengaja menginjak kodok!

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (4)