Kisah Keajaiban Cinta

Berikut ini beberapa catatan kaki menyangkut keterangan-keterangan sejarah yang terdapat dalam Kisah Keajaiban Cinta:

Beberapa literatur sejarah menyebutkan bahwa Tunggul Ametung membawa Ken Dedes dari desanya (Panawijen—sekarang disebut Palawijen) secara paksa. Karena hal itulah yang kemudian membuat ayah Ken Dedes (Empu Purwa) menjatuhkan kutukan terhadap Tunggul Ametung karena melarikan anak gadisnya. Kelak, kutukan Empu Purwa menjadi kenyataan yang juga terekam oleh sejarah.

Peristiwa ini terdapat dua versi dalam literatur sejarah. Ada yang menyebutkan bahwa Ken Arok pertama kali melihat Ken Dedes saat Tunggul Ametung memboyongnya ke istana, ada pula literatur yang menyatakan kalau Ken Arok pertama kali melihat Ken Dedes saat perempuan itu tengah mengunjungi taman Boboji (di daerah Singasari, waktu itu), dimana Ken Arok bergabung dengan rakyat Singasari lainnya yang ingin menyaksikan kecantikan Ken Dedes dari dekat.

Terdapat kesimpangsiuran menyangkut ‘betis Ken Dedes yang menyala’ ini. Kebanyakan dari literatur sejarah menyebutkan bahwa betis Ken Dedeslah yang menyala, sementara kebanyakan pakar sejarah menyatakan bahwa literatur itu sengaja ditulis demikian untuk ‘memperhalus fakta’ sejarah yang sesungguhnya, karena sebenarnya yang menyala itu bukanlah betisnya, melainkan vaginanya. Cerita selengkapnya yang terjadi (yang diyakini oleh kebanyakan pakar sejarah) adalah; kain yang dipakai Ken Dedes tersangkut roda kereta saat ia turun dari kereta, dan kemudian kain itu terlepas dari tubuh Ken Dedes. Kitab Pararaton juga membenarkan versi yang kedua itu.

Ada berbagai versi penyebutan menyangkut hal itu. Ada yang menyebutnya ‘Stri Naricwari’ (yang berarti ‘Ratu dari semua wanita’), atau ‘Ardharicwari’ (sebutan bagi Dewi Parwati, istri Dewa Siwa), ada pula yang menyebutnya ‘Ardhanaricwari’ (perempuan yang akan menjadikan lelaki pasangannya serta anak-anak turunnya sebagai raja atau penguasa termahsyur). Namun literatur sejarah berbahasa Indonesia lebih populer menyebutnya sebagai ‘Ardhana Reswari’.

Keris pusaka yang menciptakan sejarah berdarah ini konon bernama keris ‘Setan Kober’.

Sekali lagi, ada beberapa versi menyangkut hal itu. Sebagian literatur menyebutkan bahwa Ken Dedes sama sekali tidak tahu apa-apa menyangkut pembunuhan terhadap suaminya (Tunggul Ametung), bahkan ia sama sekali tak tahu kalau Ken Aroklah pembunuhnya. Sementara versi yang lain menyatakan bahwa Ken Dedes ikut terlibat dalam rencana pembunuhan itu, dimana ia jatuh cinta kepada Ken Arok dan kemudian menyusun rencana bersama untuk menyingkirkan Tunggul Ametung. Tak pernah jelas versi manakah yang benar-benar valid menyangkut hal itu.