Kisah Keajaiban Cinta

Mungkin aku memang cewek paling tidak cantik sedunia, batin Fitria dengan nelangsa ketika pertama kali ia mendengar bisik-bisik menyangkut ‘ketidak-cantikannya’ itu. 

Yang paling parah dari segalanya, Fitria tidak bisa berdandan atau setidaknya melakukan make up (maksudnya perbaikan) terhadap wajahnya. Kawan-kawannya sesama cewek di kampus seringkali memperhatikan—dengan heran—bahwa Fitria nyaris tidak pernah menggunakan lipstik untuk bibirnya, bahkan mungkin bedak pun tidak—mengapa ada perempuan yang seperti itu?

Yang tidak diketahui oleh kawan-kawannya adalah, Fitria memang tidak bisa melakukannya. Ketika pertama kalinya ia mencoba menggunakan lipstik untuk sedikit mempermerah—dan mempermanis—bibirnya, Fitria terus-menerus menghapus lipstik itu karena tidak pernah merasa percaya diri saat bercermin dan melihat bibirnya nampak begitu merah dan indah.

Ini sama sekali tidak pas, batin Fitria kala itu, ketika menatap wajahnya sendiri di cermin di kamar kostnya sambil memperhatikan bibirnya yang baru dipoles lipstik. Dia merasa bahwa kombinasi antara bibir yang indah (karena lipstik) itu dengan wajahnya secara keseluruhan adalah kombinasi yang jelek—mana mungkin ada bibir cantik di wajah yang tidak cantik?

Maka Fitria pun menghapus lipstiknya—dan tak pernah lagi memakainya.

Begitu pula dengan bedak atau talk. Sebagai seorang perempuan, Fitria tahu kalau dua benda itu—maksudnya bedak atau talk—adalah dua benda paling penting bagi setiap perempuan, karena dua benda itu biasanya berhubungan erat dengan wajah, dan wajah bagi setiap perempuan adalah sesuatu yang paling penting di dunia.

Hampir bisa dipastikan (dan rasanya mutlak bisa dipastikan) bahwa di setiap tas mahasiswi kawan kuliahnya terdapat bedak untuk ‘mereparasi’ wajah ketika dirasa bedak di wajah sudah mulai luntur oleh sinar matahari, atau karena keringat, atau karena terlalu lama dicumbui pacarnya di dalam mobil.

Tetapi Fitria tidak bisa menggunakan bedak—ia tak bisa menggunakan bedak untuk wajahnya—karena setiap kali ia memoleskan bedak ke wajahnya yang coklat matang itu, Fitria selalu saja merasa tengah mengenakan topeng, dan itu membuatnya semakin merasa tidak cantik.

Bila ia bercermin, ia merasa lebih baik tidak memberikan polesan apa-apa bagi wajahnya karena setidaknya itu akan membuatnya lebih nyaman daripada memoleskan bedak dan kemudian ia akan merasa risih sendiri kalau berpapasan dengan orang lain karena merasa tengah mengenakan topeng di wajahnya. Kalau memang aku tidak cantik, pikirnya, lebih baik aku jujur untuk mengakui bahwa aku memang tidak cantik.

Dan begitulah Fitria.

Fitria seringkali bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, apakah ada hal lain yang sangat penting bagi seorang perempuan selain kecantikan? Sepertinya, sejauh yang dapat disaksikannya, setiap perempuan begitu terobsesi dengan kecantikan. Sebegitu terobsesinya hingga seolah-olah kecantikan adalah segala-galanya bagi seorang perempuan.

Fitria sudah tak heran lagi, sekarang, saat membaca tentang seorang artis perempuan yang menghabiskan sekian ratus juta perbulan hanya untuk biaya salon kecantikan, sementara artis lainnya menghabiskan tiga hari dalam satu minggunya hanya untuk kesibukan mengurus kecantikan tubuhnya semata-mata. Kalau kecantikan adalah anugerah alam, mungkin sekarang anugerah itu telah menjadi sesuatu yang dapat dipalsukan.

Tetapi Fitria juga menyadari bahwa setiap perempuan memang butuh dianggap cantik. Sebagai perempuan, Fitria tahu bahwa hasrat paling kuat dalam diri seorang perempuan adalah hasrat untuk menjadi cantik—dan dianggap cantik—bahkan itu termasuk dirinya sendiri yang telah mengakui bahwa dia tidaklah cantik.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (3)