Kisah Keajaiban Cinta

Fitria merasakan darahnya membeku. Perempuan yang dimaksud itu pastilah dirinya—kalau hanya dirinya satu-satunya yang tergelincir malam itu, ketika ia mendapati lantai menuju ke tikungan ini nampak begitu licin seperti baru dipel dan kemudian ia tergelincir dan jatuh. Ia tak menyangka kalau Adrian menyaksikan hal itu.

Perlahan, Fitria kemudian bangkit dari duduknya—ia berdiri dengan perasaan gundah yang tak bisa dipahaminya. Jaka pun ikut bangkit dari duduknya dan berdiri menghadapi Fitria.

“Dia tahu siapa dirimu, Fitria,” lanjut Jaka. “Ketika dia berbicara di ruangan ini sendirian, aku berkali-kali mendengarnya menyebutmu sebagai Ardhana Reswari karena kau memiliki tanda yang sama seperti yang dimiliki oleh Ken Dedes—itulah mengapa dia selalu mendekatimu setiap kali kau datang—dia telah jatuh cinta kepadamu karena dia tahu siapa dirimu—kecantikan itu tergantung pada siapa yang melihatnya, bukankah itu yang dikatakannya kepadamu...?”

Sekali lagi Fitria merasakan wajahnya memerah—ia tak pernah tahu bahwa segala yang diperbincangkannya dengan Adrian di waktu-waktu itu terdengar semua oleh sosok patung yang ia kira hanyalah seonggok batu.

“Dan aku pun percaya sebagaimana dia percaya, Fitria,” ucap Jaka, kali ini dengan suara yang lirih dan sungguh-sungguh. “Aku percaya kalau kau salah satu keturunan Ken Dedes—salah satu sosok Ardhana Reswari—perempuan yang telah ditakdirkan untuk melahirkan orang-orang besar penguasa dunia...”

Fitria menatap Jaka yang kini mendekatkan wajahnya kepadanya, dan dengan suara lirih yang bergetar, Fitria berkata terbata-bata, “Semua ini...semua ini... terdengar terlalu...terlalu ajaib bagiku, Jaka... Aku...aku tak bisa mempercayai semua ini...”

“Kalau kau pernah menjadi patung dan kemudian kembali menjadi manusia, kau pun akan tahu bahwa kehidupan ini adalah keajaiban, Fitria,” sahut Jaka sambil menatap mata Fitria. “Ya, hidup ini adalah keajaiban—kalau kau menganggapnya begitu.”

Fitria balas menatap sepasang mata yang kini ada begitu dekat dengannya.

“Dan aku ada di sini sekarang,” lanjut Jaka dengan suara yang sama lirihnya, “aku berada di hadapanmu sekarang—sebagai bukti bahwa kehidupan ini memang sebuah keajaiban... Kau telah mengembalikan wujudku dari patung menjadi manusia—bukankah itu lebih ajaib dibanding kenyataan bahwa kau adalah seorang Ardhana Reswari?”

Kemudian, dengan sikap yang penuh hormat, Jaka mengambil kedua tangan Fitria di hadapannya, lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya, dan dengan sikap yang amat manis ia mendekatkan sepasang jari-jari itu ke wajahnya. Jaka mencium tangan Fitria dengan cara yang begitu indah—suatu keindahan yang tak akan pernah dilupakan oleh Fitria selama berabad-abad lamanya—dan Fitria tak ingin keajaiban ini berakhir...

“Ehm,” terdengar sebuah suara membuyarkan segala keindahan dan keajaiban itu.

Jaka dan Fitria sama-sama menengok ke arah suara itu, dan mereka melihat seorang petugas museum yang telah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum kikuk.

“Maaf,” ujar petugas museum itu dengan serba salah, “museum akan segera ditutup.”

Jaka dan Fitria mengangguk, kemudian mereka berdua melangkah keluar dari ruangan itu dengan tangan Jaka yang menggandeng tangan Fitria.

Si penjaga museum menatap pasangan itu dengan senyum yang membayang di bibirnya—dia tak menyadari kalau patung yang ada di ruangan itu telah hilang dari tempatnya.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (20)