Kisah Keajaiban Cinta

Untuk beberapa saat lamanya, Fitria tercengang dan tak bisa menjawab pernyataan yang mengejutkan itu.

“Jaka, aku...aku tak bisa mempercayai segalanya ini,” ucap Fitria dengan terbata-bata. “Maksudku...semua ini...semuanya ini...”

“Aku tahu,” bisik Jaka dengan lembut, menenangkan kegalauan Fitria. “Semua ini mungkin terlalu mengejutkanmu. Namun aku yakin, Fitria, bahwa kau memang benar-benar salah satu keturunan Ken Arok dan Ken Dedes. Kutukan yang terjadi padaku menjadi sirna ketika kau menciumku—karena ciuman itu menjadi semacam penanda bahwa salah satu keturunan dari Ken Arok telah memaafkanku...”

Sekali lagi Fitria termangu mendengar penjelasan itu. Ditatapnya wajah Jaka di hadapannya—dan Fitria merasa dirinya berada di antara kesadaran dan ketidaksadaran. Benarkah semua yang telah kudengar ini bukan hanya mimpi...?

“Fitria...” ucap Jaka dengan lembut, menggugah ketermanguan Fitria.

Dan seketika Fitria tercekat. “Oh ya, Jaka, bagaimana kau bisa tahu kalau namaku Fitria?”

Sekali lagi Jaka tersenyum. “Seperti yang pertama kali kukatakan kepadamu, aku bisa mendengarmu saat kau akan menciumku. Kau memperkenalkan namamu kepadaku, dan aku mendengarnya.”

“Jadi...jadi selama kau menjadi patung itu kau bisa mendengar ucapan orang-orang di hadapanmu?” tanya Fitria dengan takjub.

“Ya,” Jaka mengangguk, “dan itulah yang membuatku amat tersiksa. Aku masih bisa melihat dan mendengar—namun aku tak bisa bergerak ataupun berbicara. Dan...aku pun bisa mendengar segala yang kau perbincangkan dengan sesosok lelaki bernama Adrian—selama kalian bercakap-cakap di ruangan ini.”

Seketika wajah Fitria jadi terasa panas, namun dia tak bisa menyalahkan Jaka atas hal itu. Dia jadi mengingat-ingat apa saja yang pernah diperbincangkannya dengan Adrian selama ini dan ia berharap tak ada hal-hal yang memalukan yang pernah mereka perbincangkan. Fitria pun bersyukur bahwa selama ini dia tidak melakukan hal apapun yang dirasanya memalukan bersama Adrian.

Tiba-tiba sesuatu menghinggapi pikiran Fitria, dan dia pun menanyakannya pada Jaka, “Jadi, kau juga tentunya melihat ketika Adrian mengambil sesuatu di ruangan ini?”

“Kalung itu?” tanya Jaka. “Ya, aku melihatnya.”

“Oh!” Fitria merasa terpukul mendengar jawaban itu. Jadi Adrian benar-benar melakukan pencurian itu.

“Kalung itu adalah bekas kalungku, Fitria,” kata Jaka. “Selama aku terkubur di dalam tanah dan belum tertemukan, kalung itu kemudian terlepas dari leherku. Aku tidak tahu mengapa dia mengambil kalung itu, namun aku telah mendengar segala hal yang pernah ia katakan di ruangan ini ketika ia sendirian...”

Fitria jadi penasaran dan ingin tahu apa sekiranya yang pernah dikatakan Adrian itu—pantaskah kalau ia menanyakannya? “Kau...kau mau mengatakannya kepadaku?”

Jaka tersenyum sambil menatap mata Fitria. “Aku memang harus mengatakannya kepadamu,” katanya kemudian. “Begitu kau keluar dari ruangan ini setelah pertama kalinya kalian berkenalan, Adrian nampak begitu bahagia sekali. Dia terus-menerus bernyanyi-nyanyi kecil di ruangan ini, persis seperti orang yang baru memperoleh sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya—sesuatu yang bahkan lebih besar dari yang pernah diimpikannya. Dan kau tahu apakah yang telah membuatnya begitu bahagia itu, Fitria? Karena dia telah berkenalan denganmu...”

Fitria jadi terkenang kembali saat-saat perjumpaan dan perkenalannya dengan Adrian di ruangan ini, namun ia tak menyangka kalau Adrian akan menjadi begitu...

“Selama dia berada di sini dengan kebahagiaan yang meluap-luap itu,” lanjut Jaka, “dia seperti menjadi lupa diri, dan mungkin karena dia butuh membicarakan kebahagiaannya dengan orang lain namun tak ingin orang lain tahu kebahagiaannya itu, maka dia pun menumpahkan seluruh yang ada dalam hatinya kepadaku. Dia mungkin berpikir bahwa aku hanya patung yang tak akan dapat mendengar atau memahami ucapannya, namun aku benar-benar mendengar dan memahami ucapannya...”

Jaka terdiam sesaat, seperti mengingat-ingat, kemudian melanjutkan, “Dia berkata kepadaku bahwa dia begitu bahagia karena tak pernah membayangkan sesuatu yang paling indah bisa hadir dalam hidupnya. Saat dia tengah membersihkan lantai di salah satu bagian ruangan museum ini, tanpa sengaja dia melihat sesosok perempuan yang terjatuh karena tergelincir lantai yang licin, dan gaun panjang perempuan itu tersingkap—dan Adrian menyaksikan betis perempuan itu menyala...”

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (19)