Kisah Keajaiban Cinta

“Tapi...tapi aku masih belum bisa memahami apa hubungan semua cerita itu dengan dirimu, Jaka,” kata Fitria sambil menatap wajah Jaka.

Dan Jaka tersenyum. “Nah, sekarang dengarkan ini. Aku adalah cucu dari Empu Gandring—pembuat keris terkenal itu. Ken Arok tak pernah tahu kalau Empu Gandring hidup bersama cucunya—dia mengira kalau Empu Gandring hanya hidup sendirian di dalam padepokannya. Ketika Ken Arok membunuh kakekku, aku menyaksikan semuanya itu melalui dinding kayu kamarku—dan aku menggigil ketakutan melihat kekejaman yang luar biasa yang baru pertama kali kusaksikan.

“Selama waktu-waktu setelah itu, aku sengaja membungkam dan pura-pura tak tahu akan kenyataan pembunuhan itu—aku takut kalau aku juga terbunuh. Tetapi ketika mendapati rajaku terbunuh oleh keris Empu Gandring, darahku seketika menjadi mendidih. Akuwu Tunggul Ametung terbunuh oleh keris buatan kakekku—itu seperti mencorengkan arang hitam di kening Empu Gandring yang sangat terhormat.

“Maka aku pun kemudian mulai mengumpulkan keberanianku—dan selang beberapa bulan setelah Ken Arok menikahi Ken Dedes, aku nekat menemuinya dan mengatakan semua kenyataan yang kuketahui. Aku tahu bahwa dialah pembunuh Empu Gandring—kakekku—dan aku pun yakin kalau dia pulalah yang telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung dengan sengaja mengkambinghitamkan Kebo Ijo atas hal itu...”

Fitria nampak terpaku mendengar penuturan itu.

Lalu Jaka melanjutkan kisahnya setelah menarik napas beberapa saat. “Aku melihat wajah Ken Arok bersemu merah waktu itu, mungkin karena menahan kemarahan yang amat sangat. Aku tahu kalau dia sosok yang amat kejam, namun aku telah bersiap untuk bertarung dengannya—aku ingin membalaskan kematian kakekku sekaligus kematian rajaku. Tetapi aku tak mengetahui satu hal yang amat berbahaya menyangkut diri lelaki itu. Ken Arok ternyata memiliki serbuk batu api, dan dengan barang itulah dia mengubah wujudku menjadi patung.”

“Dia memiliki serbuk...apa?”

“Serbuk batu api,” jawab Jaka. “Itu semacam pasir yang dihasilkan dari kawah gunung berapi. Siapapun yang memiliki serbuk itu dapat memiliki semacam kekuatan kutukan untuk mengubah siapapun yang dikehendakinya menjadi patung—dan itulah yang kemudian dilakukan oleh Ken Arok kepadaku. Dengan menebarkan serbuk itu ke arahku, dia dapat mengutukku menjadi patung—dan semenjak itulah aku menghadapi kenyataan mengerikan yang tak pernah kusangka-sangka sebelumnya—aku menjadi sesosok patung batu...”

Fitria menyaksikan sepasang mata Jaka kini berkaca-kaca.

“Aku telah merasakan siksaan itu selama beratus-ratus tahun lamanya, Fitria,” ucap Jaka dengan lirih, “dan kau telah menyelesaikan penyiksaan yang amat berat itu. Aku...aku tak tahu bagaimana aku harus mengucapkan terima kasihku...”

Fitria termangu dan tak tahu harus menjawab apa. “Tetapi, Jaka,” kata Fitria kemudian dengan bingung, “mengapa...mengapa kau sekarang bisa berubah menjadi manusia kembali?”

“Karena kau menciumku,” sahut Jaka dengan pasti.

“Apakah...apakah selama ini—maksudku selama kau menjadi patung—belum pernah ada yang menciummu?”

Jaka menggeleng. “Setiap kali aku dipamerkan di mana pun, tak pernah ada orang yang menciumku—namun seandainya ada pun, ciuman mereka tak akan mengubah apa-apa karena hanya ciuman darimu yang akan berhasil mengubah wujudku.”

“Oh, mengapa...?” tanya Fitria dengan terkejut.

Dan Jaka tersenyum. “Jawabannya hanya satu, Fitria—karena kau keturunan dari Ken Arok dan Ken Dedes.”

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (18)