Kisah Keajaiban Cinta

“Kau akan tahu jawabannya, tak lama lagi,” sahut Jaka dengan tersenyum. “Ketika kemudian mayat Empu Gandring ditemukan, masyarakat pun geger, namun siapa pembunuhnya tak pernah diketahui. Ken Arok telah mengambil kerisnya kembali setelah ia tusukkan ke perut Empu Gandring, dan siapa pembunuhnya itu pun tetap menjadi misteri hingga bertahun-tahun setelahnya.

“Kemudian, beberapa waktu setelah itu, Ken Arok menghadiahkan keris buatan Empu Gandring itu kepada sahabatnya—Kebo Ijo. Kebo Ijo yang mengetahui kalau itu adalah keris buatan Empu Gandring sangat bersuka cita atas hadiah itu, dan dia sama sekali tak menyadari bahwa keris itulah yang telah membunuh empu terkenal itu. Kebo Ijo bahkan melakukan sesuatu yang amat bodoh. Dia memamer-mamerkan keris itu kepada banyak orang—karena dia meyakini bahwa dialah orang terakhir yang dapat memiliki keris asli buatan Empu Gandring...

“Dalam waktu singkat, banyak orang yang segera tahu kalau Kebo Ijo memiliki sebuah keris hebat buatan Empu Gandring, dan waktu itulah Ken Arok kemudian memulai langkah liciknya. Suatu malam, ketika Kebo Ijo tertidur amat lelap dalam kamarnya, Ken Arok mengambil keris Empu Gandring dari kamar Kebo Ijo, sementara Kebo Ijo tak menyadari bahaya yang amat menakutkan tengah mengancam jiwanya.

“Dengan keris Empu Gandring di tangannya, Ken Arok mendatangi istana Akuwu Tunggul Ametung. Dia menyelinap masuk ke dalam istana tanpa ketahuan para penjaga, lalu mencari kamar Tunggul Ametung—dan kemudian membunuh raja itu dengan keris Empu Gandring yang telah dipersiapkannya saat Tunggul Ametung tengah tertidur. Dia sengaja meninggalkan keris itu tertancap di perut Tunggul Ametung...dan seperti yang telah diperkirakannya, besoknya seluruh Singasari mengalami kegemparan karena raja mereka telah mati terbunuh.

“Para petinggi istana segera mengusut kasus itu dan mencari pembunuh raja mereka. Dan karena keris yang membunuh Tunggul Ametung masih tertancap di perutnya, mereka pun segera tahu siapa pemilik keris itu. Dalam waktu singkat Kebo Ijo ditangkap dengan tuduhan telah membunuh raja mereka, dan meski Kebo Ijo telah bersumpah-sumpah bahwa dia tidak melakukan pembunuhan itu, tak ada orang yang mau percaya—karena sebelum pembunuhan itu terjadi dia memamer-mamerkan keris itu—dan orang-orang pun meyakini kalau Kebo Ijo beserta kerisnya itulah yang membunuh raja mereka.

“Ketika Kebo Ijo mengatakan bahwa ia mendapat keris itu dari Ken Arok, maka Ken Arok pun dipanggil ke pengadilan, namun dengan gampang Ken Arok mengatakan bahwa dia tak pernah melihat keris itu, dan tak pernah memberikan keris apapun kepada Kebo Ijo. Maka Kebo Ijo pun kemudian dihukum mati dengan tuduhan telah membunuh Tunggul Ametung.

“Jadi, Ken Arok sengaja membunuh Empu Gandring untuk menghilangkan saksi mata menyangkut siapa pemilik asli dari keris itu. Dan dia sengaja menumbalkan Kebo Ijo, agar siapa pembunuh Tunggul Ametung tidak terus diusut dan dicari. Pada waktu itu, terbunuhnya seorang rakyat tidak akan membuat banyak perbedaan dan tidak akan diadakan banyak pengusutan, namun terbunuhnya seorang raja pasti akan membuat pengusutan dan pencarian besar-besaran terhadap si pembunuh itu, dan Ken Arok telah bersiap-siap untuk itu. Dengan tertangkapnya Kebo Ijo, maka segala pengusutan atas terbunuhnya Tunggul Ametung pun berhenti, dan Ken Arok pun kemudian melamar Ken Dedes untuk menjadi istrinya.”

“Dan Ken Dedes menerimanya—begitu saja?” tanya Fitria.

“Ken Arok itu bajingan yang romantis, Fitria,” jawab Jaka. “Oh, maafkan istilahku. Maksudku, Ken Arok itu sosok lelaki yang tahu betul bagaimana menghadapi perempuan. Ken Dedes pun kemudian luluh dan takluk di hadapan rayuan Ken Arok—dan mereka pun lalu menikah.6 Dan terbukti kemudian bahwa apa yang diyakini Ken Arok benar adanya. Ken Dedes memang sosok seorang Ardhana Reswari. Dari rahim Ken Dedeslah kemudian lahir orang-orang yang di kelak kemudian hari dikenal sebagai orang-orang besar penguasa dunia...”

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (17)