Kisah Keajaiban Cinta

“Tentu saja.” Jaka lalu menatap Fitria di hadapannya, kemudian berkata dengan perlahan-lahan, “Ken Dedes hidup di sebuah pedesaan di daerah Singasari—berabad-abad yang lampau. Suatu hari, Tunggul Ametung—biasa disebut Akuwu Tunggul Ametung, penguasa Singasari waktu itu—berkunjung ke pedesaan tempat Ken Dedes tinggal untuk melihat kehidupan rakyatnya di sana, dan saat melihat Ken Dedes, dia langsung jatuh cinta kepada perempuan itu. Maka Tunggul Ametung pun kemudian memboyong Ken Dedes ke istana untuk dijadikannya sebagai permaisuri...”

“Lalu apa hubungannya denganmu, Jaka?” sela Fitria seperti tak sabar. “Apa hubungannya cerita itu dengan sosokmu yang bisa berubah dari patung menjadi manusia?”

“Seperti yang kukatakan tadi, ceritanya panjang,” sahut Jaka dengan sabar, “dan untuk mengetahui jawaban dari pertanyaanmu itu, kau harus mendengarkan keseluruhan ceritanya.”

Fitria mengangguk. “Baiklah.”

“Nah, ketika Tunggul Ametung memboyong Ken Dedes menuju istananya, seluruh rakyat Singasari yang mendengar berita itu segera beramai-ramai memenuhi jalanan untuk dapat menyaksikan calon permaisuri raja mereka. Waktu itu, seluruh jalanan penuh sesak oleh rakyat yang berkerumun—dan di antara orang-orang yang berdesak-desakan di pinggir-pinggir jalan itu, terdapat seorang lelaki bernama Ken Arok yang waktu itu baru datang di Singasari.”

Jaka menghela napasnya sesaat, kemudian melanjutkan, “Aku masih ingat, waktu itu aku ada di belakang kereta Akuwu Tunggul Ametung bersama banyak pengawal lainnya ketika tiba-tiba iring-iringan itu berhenti. Kereta Akuwu berhenti di tengah jalan, di tengah-tengah rakyat yang berjubel di sisi kanan-kiri jalan. Ternyata Ken Dedes tertarik dengan sesuatu yang dijajakan oleh seorang penduduk di salah satu sisi jalan, dan dia ingin membeli sesuatu itu—aku sudah tak ingat barang apakah yang diminati oleh Ken Dedes waktu itu.”

 “Lalu...?” tanya Fitria saat melihat Jaka seperti termenung.

“Lalu Ken Dedes pun turun dari kereta,” jawab Jaka. “Dan di saat ia turun dari kereta itulah, kain yang dikenakannya tersangkut oleh sesuatu hingga kain panjang itu tersingkap. Beberapa orang yang menyaksikan hal itu bersumpah kalau mereka melihat betis Ken Dedes menyala—seperti mengeluarkan sinar terang—dan rupanya Ken Arok yang ada di antara kerumunan penduduk waktu itu pun menyaksikan hal itu.”3

“Maksudmu, betis Ken Dedes menyala—benar-benar menyala?” tanya Fitria dengan bingung.

“Ya, dan itulah yang menjadi awal dari sebuah pertumpahan darah paling mengerikan sepanjang sejarah Singasari,” jawab Jaka. “Ken Arok yang juga menyaksikan betis Ken Dedes menyala itu tahu bahwa itu adalah tanda yang pasti yang menjadi ciri bagi setiap perempuan yang telah ditakdirkan menjadi sosok Ardhana Reswari.”4

“Sosok...apa?”

“Ardhana Reswari.” Jaka mengulang ucapannya. “Setiap beberapa abad sekali, selalu lahir perempuan-perempuan pilihan yang disebut sebagai Ardhana Reswari—yakni sosok perempuan yang kelak diyakini akan melahirkan orang-orang besar penguasa dunia. Dan salah satu ciri paling khas dari sosok perempuan istimewa ini adalah betisnya yang menyala.”

Fitria mengangguk, mulai memahami cerita itu.

Dan Jaka kembali melanjutkan, “Sejak menyaksikan betis Ken Dedes yang menyala itulah, Ken Arok kemudian mulai menyusun suatu rencana yang amat licik sekaligus amat berdarah. Di Singasari, dia hidup di rumah sahabatnya—bernama Kebo Ijo—seorang lelaki yang baik hati namun bodoh. Diam-diam, Ken Arok memesan sebuah keris dari Empu Gandring—seorang empu keris yang sangat terkenal pada waktu itu. Hanya sedikit orang yang bisa memesan keris dari Empu Gandring karena dibutuhkan ongkos yang sangat besar untuk membayar empu yang satu itu—dan karena itulah kemudian banyak orang yang bangga kalau bisa memiliki keris yang dibuat olehnya. Empu Gandring membuatkan satu buah keris untuk Ken Arok, namun dia tak menyadari bahwa maut tengah mengancam hidupnya. Ketika keris itu telah selesai ditempa, Ken Arok pun datang untuk mengambilnya, dan dengan keris itulah dia membunuh Empu Gandring—empu yang hebat itu terbunuh oleh keris buatannya sendiri.”

“Tapi...tapi mengapa?” tanya Fitria.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (16)