Kisah Keajaiban Cinta

Fitria mengucak kedua matanya dengan jari-jari yang kaku, tak percaya pada penglihatannya sendiri, namun sosok pemuda tampan itu masih tersenyum kepadanya.

“Fitria...” sapa pemuda tampan itu.

Dan kini Fitria seperti bergidik ketakutan. Apa yang telah terjadi...?

Saat Fitria berbalik untuk meninggalkan ruangan itu, pemuda itu terdengar buru-buru berkata, “Kau tidak perlu takut, Fitria. Aku...aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu. Kau telah mengembalikan wujudku.”

Fitria tidak memahami apa yang didengarnya itu, namun ia kembali menengok ke arah belakangnya.

“Aku bukan patung seperti yang kau kira selama ini,” lanjut pemuda itu. “Aku...aku manusia sepertimu yang berubah menjadi patung, dan...dan kau telah membuatku kembali ke wujudku semula.”

“Tapi...itu...” Fitria merasa ragu untuk mengucapkan sesuatu. Ia sama sekali tak bisa memahami apa yang kini dihadapinya.

“Ya, ya, aku tahu kalau ini mungkin terdengar terlalu ajaib bagimu,” sahut pemuda itu, “tapi percayalah kepadaku, bahwa itulah yang terjadi. Kalau kau mau tetap di sini, aku akan menjelaskannya kepadamu.”

Fitria seperti terpaku pada tempatnya. Ia tak sempat memikirkan bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang datang ke ruangan itu dan mendapati patung di sana telah berubah wujud menjadi manusia.

“Namaku Jaka Wilis,” kata pemuda itu memperkenalkan diri.

Fitria mengangguk dengan ragu.

“Aku tahu namamu Fitria,” lanjut si patung bernama Jaka itu, “kau telah memperkenalkan dirimu kepadaku sebelum kau menciumku.”

Fitria merasakan wajahnya jadi bersemu merah—atau bersemu hitam—atas ucapan itu. Untuk menutupi sikap kikuknya, dia pun lalu berkata, “Dan...bagaimana kemudian kau bisa berubah seperti ini?”

Jaka Wilis menatap Fitria dengan tatapan yang hangat—dan Fitria baru menyadari kalau sosok di hadapannya itu memiliki sepasang mata yang indah. “Semua ini diawali ratusan tahun yang silam,” ujar Jaka kemudian. “Kau pernah mendengar kisah tentang Ken Arok dan Ken Dedes?”

“Yah...itu...itu salah satu legenda yang terkenal.”

“Itu bukan sekedar legenda, Fitria,” ujar Jaka. “Ken Arok dan Ken Dedes itu benar-benar ada.”

“Oh ya?”

“Ya. Kau mau mendengarnya?”

Fitria mengangguk ragu-ragu. “Kalau kau mau menceritakannya.”

Jaka memperhatikan seluruh ruangan tempatnya berada, dan dia seperti mencari sesuatu yang dapat digunakannya untuk duduk. Namun tak ada bangku, atau kursi, atau apapun yang dapat digunakannya untuk duduk—selain hanya meja yang penuh berisi barang-barang aneh yang dipamerkan di situ. Maka Jaka pun kemudian duduk di atas lantai di salah satu sisi dinding ruangan itu, dan menyandarkan punggungnya di dinding di belakangnya.

Jaka tersenyum pada Fitria yang masih berdiri di sisi dinding lain di hadapannya, kemudian berkata dengan nada lucu, “Kau tahu, aku telah berdiri selama berabad-abad lamanya, dan sekarang aku ingin menikmati rasanya duduk.”

Mau tak mau Fitria tersenyum mendengar itu, dan ia pun lalu mendekat ke arah Jaka, dan mulai duduk di hadapannya. Ia duduk dengan kedua kaki terlipat ke atas, dan kedua tangannya memeluk lututnya.

“Bagaimana dengan Ken Arok dan Ken Dedes tadi?” tanya Fitria kemudian—ia merasa sangat penasaran dengan itu. Kalau kau menghadapi sesosok patung yang bisa berubah menjadi manusia, kau tentu ingin tahu sebabnya, kan?

“Ceritanya sangat panjang,” kata Jaka sambil terlihat meregangkan urat-urat di tubuhnya.

“Kau mau menceritakannya?”

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (15)