Kisah Keajaiban Cinta

Dan kemudian angan Fitria kembali terbayang pada Adrian. Terlepas dari perbuatan yang telah dilakukan Adrian menyangkut pencurian itu, Fitria mengakui bahwa sosok lelaki itu telah menghidupkan sesuatu yang telah mati dalam kehidupannya sebagai seorang perempuan. Adrianlah satu-satunya lelaki yang telah mengatakan kepadanya bahwa dia cantik, dan meskipun Fitria tak ingin mempercayai ucapan itu, dia ingin sekali mempercayai ucapan itu—bahwa dia benar-benar cantik.

Adrianlah orang pertama dan satu-satunya yang telah menunjukkan sikap bahwa Fitria adalah sosok yang dirindukan—dan Fitria selalu senang mengenang saat-saat itu sekarang—ketika ia kembali teringat pada sikap Adrian yang terlihat begitu senang saat melihatnya datang kembali ke museum ini, di ruangan ini... Terkadang sikap tulus yang menghargai dari seseorang membuat kita bisa menilai diri kita secara lebih baik dan lebih tinggi, dan itulah yang telah dilakukan oleh Adrian terhadap diri Fitria...dan Fitria merasa sangat bersyukur telah berjumpa dengan lelaki itu.

Fitria menghela napasnya yang tiba-tiba terasa sesak, dan dengan mata yang berkaca-kaca dia menatap sosok patung di hadapannya—yang diam tak bergeming, dengan wajah kaku sedingin batu.

Aku tak jauh berbeda dengan patung ini—atau patung ini tak jauh berbeda denganku, batin Fitria sambil memandangi wajah patung itu. Dia juga pasti kesepian...diasingkan sendiri di ruangan ini, tanpa kawan, tanpa pernah ada orang yang datang menjenguknya, dan mungkinkah dia juga mengharapkan seseorang mengatakan kepadanya bahwa dia begitu berharga...?

Fitria menggelengkan kepalanya sendiri. Ia terlalu berlebihan. Tapi...apa salahnya? Malam ini adalah malam terakhir pameran di museum ini, dan besok seluruh benda yang dipamerkan di sini akan diangkut kembali ke tempatnya semula, dan Fitria sudah tak dapat lagi menjumpai patung yang kesepian ini.

Apa salahnya kalau sekarang ia melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat patung itu merasa senang dan merasa dihargai? Ya, ya, patung itu tentu saja tak bisa memahaminya, namun...siapa tahu? Patung itu telah mempertemukan dirinya dengan Adrian, dan sekarang tak ada salahnya kalau Fitria sedikit membalas kebaikan patung itu.

Maka Fitria pun kemudian memperbaiki sikapnya, lalu menatap wajah patung itu, dan kemudian berkata dengan suara yang mirip bisikan, “Aku...aku Fitria, dan...dan aku ingin berterima kasih kepadamu, karena melalui dirimulah aku bisa bertemu dengan seseorang yang telah membuatku merasa lebih berarti. Aku...aku tak tahu apakah kau bisa mendengar atau memahami ucapanku ini—aku hanya ingin kau tahu.”

Dan, antara sadar dan tidak sadar, Fitria kemudian mendekatkan dirinya pada wajah patung itu, lalu menciumnya dengan lembut. Ia merasa lebih lega setelah melakukan itu. Dan kemudian ia pun melangkah untuk keluar dari ruangan itu. Kebahagiaannya telah selesai sampai di sini—dan Fitria tahu bahwa besok ia akan kembali ke dunianya yang sepi seperti dulu lagi.

Namun sebelum ia mencapai pintu untuk keluar dari ruangan itu, sebuah suara memanggilnya.

“Fitria...”

Fitria menghentikan langkahnya dengan terkejut. Dan dia seperti terpaku di tempatnya. Ketika kemudian kepalanya menengok ke belakang ke arah suara yang memanggil itu, Fitria merasakan jantungnya telah berhenti berdetak. Patung yang ada di sana telah berubah menjadi sosok pemuda tampan—sesosok pemuda tampan yang kelihatannya sebaya dengannya—yang kini tengah menatap dan tersenyum kepadanya.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (14)