Kisah Keajaiban Cinta

Fitria meninggalkan meja resepsionis itu dengan langkah-langkah gontai. Ia merasa sesuatu yang telah tumbuh di hatinya telah dirampas dengan kasar—ia seperti merasa tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja didengarnya—dan ia merasa kehilangan. Mengapa keindahan yang baru saja dirasakannya itu tiba-tiba hilang begitu saja?

Dan langkah-langkah Fitria tanpa terasa kembali memasuki ruangan di ujung tikungan—ruangan yang sepertinya telah menjadi miliknya. Dia berharap dapat menenangkan perasaannya di ruangan yang sepi itu, dan dia ingin mengenang saat-saat manisnya bersama Adrian di sana—untuk terakhir kalinya.

Fitria berdiri di hadapan patung lelaki yang sendirian—patung lelaki yang sejak semula ada di ruangan itu—dan Fitria memperhatikan patung itu dengan perasaan tak karuan. Dia masih ingat saat perjumpaan pertamanya dengan Adrian—dua minggu yang lalu—saat ia berada di ruangan ini, saat ia berpura-pura memperhatikan patung itu.

Namun sekarang, tiba-tiba ruangan ini terasa begitu kosong...dan hampa. Sosok lelaki yang paling dirindukannya di dunia ini tak lagi muncul—tak pernah lagi muncul—dan sekarang Fitria merasa kembali menjadi Fitria yang dulu—Fitria yang tidak cantik, dan yang tidak diharapkan oleh siapapun.

Fitria menatap ke atas meja tempat beberapa barang aneh dipajang di situ, dan mencoba mengira-ngira mengapa Adrian sampai mencuri salah satu barang yang ada di situ. Kalung yang terbuat dari batu-batuan aneh... Meski sekarang kalung itu tak ada lagi di situ, Fitria masih dapat mengingat bentuk kalung itu—sebuah kalung yang jelek dalam pandangannya. Dan mengapa Adrian sampai mempertaruhkan harga dirinya hanya untuk kalung yang jelek itu? 

“Kecantikan itu tergantung pada siapa yang melihatnya.”

Fitria kembali teringat ucapan itu—saat Adrian mengutip salah satu ucapan Shakespearre. Mungkinkah hal itu yang terjadi menyangkut kalung itu? Kalung itu terlihat jelek dalam pandangan Fitria—namun mungkinkah itu terlihat indah dan cantik dalam pandangan Adrian?

“Dia mahasiswa jurusan sejarah yang belum lama diterima sebagai pegawai magang di museum ini.”

Ucapan resepsionis itu kini juga kembali terngiang di telinga Fitria. Dan sebuah pikiran baru tiba-tiba melintas dalam benaknya. Kalau benar Adrian adalah mahasiswa sejarah dan dia tahu bagaimana asal-usul kalung yang jelek itu, tentunya dia juga tahu apa yang telah dilakukannya.

Ya, dia pasti memiliki alasan mengapa dia sampai mencuri kalung itu—dia pasti mengetahui sejarah menyangkut kalung itu—dan sekarang Fitria mulai memahami maksud di balik kata-kata Shakespearre itu, “Kecantikan itu tergantung pada siapa yang melihatnya.”

Sebuah pemikiran baru bermain-main di dalam benak Fitria ketika wajahnya menengadah ke arah patung di hadapannya—sosok patung yang sepertinya juga kesepian seperti dirinya. Dan sekarang dia memiliki semacam gambaran baru menyangkut patung itu. Bukankah patung itu tak jauh berbeda dengan dirinya? Kesepian, tanpa kawan yang menemani, dan Fitria pun menilai kalau patung itu tidaklah istimewa—ia hanya patung biasa dengan penampilan biasa. Pernahkah dia merasakan kesepian, batin Fitria sambil menatap wajah patung itu.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (13)