Kisah Keajaiban Cinta

Ini adalah malam terakhir pameran di museum itu, dan Fitria tahu bahwa ia harus datang ke sana. Semenjak pulang dari museum itu kemarin malam, Fitria terus bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, ada apa dengan Adrian? Sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi dan petugas yang kemarin malam menemuinya sepertinya tak mau menjelaskannya kepadanya.

Dan malam ini Fitria telah kembali berada di depan museum itu, kali ini ia berharap dapat kembali bertemu dengan Adrian. Ia merasa rindu dengannya—ia merasa rindu dengan segala yang ada pada diri Adrian—bukan hanya kehadirannya, namun juga tatapannya, ucapannya, juga cara lelaki itu memperlakukannya.

Fitria merasa bahwa dia tak akan dapat menemukan sosok lain yang sebaik Adrian dalam menghadapi dirinya. Lelaki itu terlihat sangat menghormatinya—dan, oh, memujanya. Ya, ya, mungkin Fitria terlalu berlebihan dalam menilai sikap lelaki itu kepadanya.

Saat memasuki museum itu, langkah-langkah kaki Fitria langsung menuju ke ruangan di ujung tikungan seperti biasa, dan dia menunggu Adrian beberapa saat di sana. Ketika dia merasa penantiannya telah cukup dan Adrian tidak juga muncul, Fitria melangkah menuju meja resepsionis yang tak jauh dari situ, dan dia telah nekat. Dia harus mendapat kepastian tentang Adrian.

“Mbak,” sapa Fitria dengan sopan pada seorang perempuan yang duduk di belakang meja resepsionis, “apakah Adrian tidak masuk hari ini?”

Petugas resepsionis itu memandang Fitria dengan dahi berkerut, kemudian bertanya, “Apakah Anda temannya?”

“Hm...ya,” jawab Fitria dengan sedikit ragu.

“Maaf, Adrian sedang dalam penyidikan kepolisian.”

“Bagaimana???” Fitria merasa disengat oleh sesuatu yang amat mengejutkan.

Perempuan di hadapannya kemudian menjelaskan dengan perlahan-lahan, bahwa tiga hari yang lalu, petugas sekuriti museum mendapati adanya suatu benda pameran yang hilang dari tempatnya.

Seperti biasa, setiap kali museum itu tutup pada jam sepuluh malam, para petugas akan menyisir seluruh tempat itu dan melakukan inventarisasi atas barang-barang yang dipamerkan di museum. Pada malam itu sebuah kalung yang berada di ruangan di ujung tikungan didapati hilang dari tempatnya, dan para petugas museum pun berkumpul untuk menyelesaikan masalah itu.

Kamera tersembunyi yang dipasang di ruangan itu kemudian menunjukkan bahwa seseorang telah sengaja mengambil kalung batu-batuan itu—dan kamera itu dengan jelas menunjukkan bahwa orang itu adalah Adrian.

“Dia mahasiswa jurusan sejarah yang belum lama diterima sebagai pegawai magang di museum ini,” kata petugas resepsionis itu menjelaskan.

Adrian belum lama bekerja di museum itu dan dia pasti tidak menyadari bahwa ada kamera tersembunyi yang sengaja dipasang di beberapa tempat tertentu di museum itu. Dan sekarang ia tengah berurusan dengan kepolisian atas tindakan pencurian itu.

Jadi dia bukan malaikat, batin Fitria dengan perasaan hancur. Mengapa lelaki setampan dan sebaik itu bisa melakukan sesuatu yang amat bodoh seperti itu...???

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (12)